Bahasa | English


SITUS PRASEJARAH

Menelisik Jejak Manusia Kerdil Indonesia dari NTT

29 November 2019, 05:10 WIB

Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata mempunyai warisan situs prasejarah manusia purba. Tepatnya di Gua Liang Bua yang berlokasi di Ruteng, Manggarai, yang merupakan salah satu situs arkeologi penting dunia.


Menelisik Jejak Manusia Kerdil Indonesia dari NTT Liang Bua Ruteng. Foto: Pesona Indonesia

Liang Bua merupakan salah satu gua yang ada di bukit batu kapur di wilayah Manggarai, NTT. Liang Bua memiliki ukuran yang sangat besar, yakni dengan panjang 50 meter, lebar 40 meter dan tinggi 25 meter. Pada gua inilah ditemukan fosil Homo Floresiensis. Yang membuatnya unik adalah, banyak penelitian menunjukkan manusia purba yang ditemukan berukuran kecil atau kerdil.

Bahkan saking kerdilnya pada 2003 ditemukan fosil yang hanya memiliki tinggi 100 cm dengan berat yang diperkirakan hanya 25 kg. Tengkorak ini ditemukan pada kedalaman enam meter. Homo Floresiensis merupakan seorang manusia pendek/kerdil yang diperkirakan berasal dari 18.000 tahun yang lalu.

“Tapi bukan hanya tengkorak ini yang ditemukan. Saat itu pada kedalaman tertentu, para arkeolog juga menemukan beberapa tulang binatang purba, seperti  gajah purba (stegodon), kadal, kura-kura, biawak, dan komodo,” ujar Joe, salah satu warga sekitar yang tinggal disekitar Gua Liang Bua.

Joe menjelaskan Nama Liang Bua  berasal dari Bahasa Manggarai yang artinya “gua” atau “lubang sejuk”. Penggalian Gua Liang Bua juga dipercaya telah dilakukan sejak tahun 1930-an dan hasilnya dibawa ke Leiden, Belanda. Penggalian-penggalian terus dilakukan, baik di zaman kolonial Belanda hingga dilanjutkan di masa ini.  “Kalau saya denger dari para arkeolog, umur gua ini sudah sekira 190.000 tahun,” kata Joe.

Menuru perkiraan, gua ini terbentuk dari arus sungai yang mengalir dan membawa bebatuan hingga menembus gundukan bukit. Setelah berlangsung lama dan membutuhkan proses yang sangat panjang, bebatuan itu kemudian menjadi batuan sedimentasi.

Bila kita berwisata dengan memasuki Gua Liang Bua, kita akan menemukan staklatit cantik yang menghias dan menjuntai dari langit-langit gua. Sementara secara geologi, gua ini merupakan bentukan endokars yang berkembang pada batu gamping. Bentukan endokars itu berselingan dengan batu gamping pasiran. Batuan gamping itu diperkirakan berasal dari periode Miosen tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lampau.

Kawasan kars di NTT ini, sebagaimana kawasan kars di tempat lain di Indonesia, juga memiliki ciri-ciri khusus yang berlainan dengan kawasan kars lainnya yang tentunya sangat menarik sebagai destinasi wisata.

Ditemukan oleh Theodore Verhoeven

Gua Liang Bua pertama kali diteli pada tahun 1965 oleh Theodore Verhoeven, misionaris Katolik asal Belanda yang mengajar di Seminari Todabelu, Mataloko, Kabupaten Ngada. Saat itu, gua ini digunakan untuk sekolah di sekitar Liang Bua.  Penelitiannya menghasilkan sejumlah kubur manusia yang berasosiasi  artefak batu (serpih), tembikar dan beliung persegi.

Setelah  periode Verhoeven, penelitian dilanjutkan oleh Prof. Dr. R P Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1978-1989. Penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa situs ini  telah dihuni sejak masa prasejarah mulai dari masa  paleolitik, mesolitik, neolitik hingga paleometalik (logam awal).

Dimulai tahun 2001-2009, penelitian dilanjutkan oleh Pusat Arkeologi Nasional dengan menggandeng University of New England (Australia) 2001-2004 dan Universitas Wollongong (Australia) 2007-2009. Pada 2010, Pusat Arkeologi Nasional menjalin kerja sama dengan Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian (AS) dan Universitas Wollongong.

Penemuan paling sensasional, yakni kerangka manusia purba yang tidak diketahui dari spesies sebelumnya, ditemukan bersama ratusan artefak batu dan tulang binatang seperti gajah purba, komodo, bangau raksasa, tikus, kelelawar dan burung. Kerangka manusia kerdil Flores dikenal sebagai Homo Floresiensis dewasa. Otaknya sangat kecil, tinggi badan sekitar 1 meter, berat sekitar 30 Kg. (K-YN)

Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya
Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan tolerans...
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...