Bahasa | English


KULINER

Tak Sengaja, Kerak Telor Jadi Terkenal

9 December 2018, 12:05 WIB

Gurih dan legit merupakan cita rasa yang khas dari Kerak Telor. Ternyata makanan khas Ibu Kota Jakarta itu tak sengaja diciptakan.


Tak Sengaja, Kerak Telor Jadi Terkenal Sumber foto: Antara Foto

Alkisah, ada sekelompok masyarakat Betawi yang berdiam di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ketika itu, mereka tengah bereksperimen mencampurkan beberapa bahan untuk menghasilkan makanan, termasuk buah kelapa. Ternyata hasilnya, adalah kudapan nikmat dengan cita rasa yang memikat.

Kerak telor memang dibuat dari beras ketan putih, telur ayam, ebi atau udang kering yang diasinkan. Ketika sudah matang, biasanya kerak telor ditaburi bumbu berupa perpaduan kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam, dan gula pasir, serta taburan bawang merah goreng. Gurih dan legit, itulah kalimat yang seringkali diucapkan digigitan pertama saat mencoba kerak telor.

Pembuatan makanan kerak telor diawali dengan memasukkan telur bebek atau ayam ke dalam wajan tanpa menggunakan minyak. Ketika telur sudah setengah matang, wajan akan dibalikkan, sehingga posisinya menghadap panasnya arang dari sebuah anglo. Posisi itu dibiarkan beberapa saat sampai telur menjadi kerak. Agaknya, proses itulah yang mengilhami penamaan untuk santapan ringan asli Betawi, ‘kerak telor’.

Jajanan kerak telor terkenal sejak dahulu dan menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta, yang dulu bernama Batavia. Fastfood-nya warga Jakarta itu bahkan sempat menjadi primadona pada masa kolonial Belanda. Kerak telor disebut fastfood karena untuk memasak kerak telor hanya dibutuhkan waktu kurang dari 15 menit.

Pada era 1970-an, masyarakat Betawi mulai memberanikan diri untuk menjajakan kudapan bernama kerak telor itu di sekitaran Tugu Monumen Nasional. Di zaman kepemimpinan Gubernur Jakarta Ali Sadikin, kerak telor juga mulai dipromosikan. Hingga kepemimpinan Fauzi Bowo, Joko Widodo, dan Basuki Thahaja Purnama pun, kerak telor selalu menjadi kuliner utama dalam acara-acara besar di Jakarta, hingga sekarang.

Dalam perkembangannya, kerak telor juga dengan mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalanan Kota Jakarta, hingga destinasi-destinasi wisata, seperti di Taman Mini Indonesia Indah atau Kebun Binatang Ragunan. Kelezatannya bukan hanya di-gandrung-i orang Jakarta. Itulah sebabnya, kerak telor juga banyak dijual di daerah Indonesia lainnya, bahkan luar negeri. Di Malaysia, Amerika, dan Arab Saudi, bisa ditemukan pula penjaja kuliner Betawi ini.

Memang, kerak telor mampu menjadi juara di hati masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat Jakarta. Adakah yang belum mencoba panganan lezat yang satu ini? (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...