BENCANA ALAM
  Sejumlah warga berusaha melewati jalan yang tertutup lumpur akibat banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/4/2021). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Perbedaan antara Siklon Tropis Utara dan Selatan

  •   Selasa, 13 April 2021 | 08:41 WIB
  •   Oleh : Administrator

BMKG mencatat bahwa Badai Seroja yang paling kuat di antara siklon tropis yang pernah menyerang Indonesia. Siklon Seroja ini pun yang pertama naik ke daratan.

Siklon tropis telah menunjukkan kekuatannya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menjelma menjadi badai hujan dengan petir yang meledak-ledak disertai angin kencang yang mendesing. Badai hujan ini sangat berbahaya, di laut maupun di darat. Sejumlah lokasi di NTT luluh lantak, dengan korban 165 tewas dan 45 orang hilang, oleh terjangan siklon Seroja, pada Minggu 4 April lalu itu.

Sebagai fenomena cuaca, siklon tropis tentu bukan isu baru. Tapi, di Indonesia kehadirannya baru terpantau secara teratur sejak 2008, pascadioperasikannya Tropical Cyclone Warning Center Jakarta, sebuah unit di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Maka, ketika BMKG melihat bibit siklon mulai tumbuh 2 April lalu dan membesar esok harinya, peringatan dini pun disebarluaskan. Tapi, tak ada yang bisa mencegahnya tumbuh menjadi badai raksasa itu.

Kepala BMKG Profesor Dwikorita Karnawati, dalam keterangan pers yang  disampaikan secara virtual melalui kanal youtube Sekretariat Presiden, Selasa (6/4/2021), menyebut adanya kecenderungan bahwa kini siklon tropis lebih sering unjuk diri. “Setiap tahun selalu muncul,” katanya.

Kepala BMKG itu kemudian merinci, ketika Tropical Cyclone Warning Center mulai bekerja di 2008, tercatat muncul siklon tropis Durga. Ia baru muncul lagi 2010 dan diberi nama Anggres. Sejak 2010, nama bunga atau buah yang disematkan bagi siklon tropis di kawasan Indonesia. Tiga tahun absen, siklon tropis ini baru muncul lagi 2014 dengan nama Bakung.

Absen lagi tiga tahun dan muncul kembali di 2017, bahkan dua siklon berturut-turut, Cempaka dan Dahlia. Begitu halnya di  2018 ada dua buah, Flamboyan dan Kenanga. Pada 2019 ada siklon  tropis Lily dan siklon Mangga pada 2020. Lantas pada 2 April 2021, bibit siklon tropis Seroja lahir dan ternyata tumbuh menjadi hujan badai yang sangat kuat.

Sebelum dilakukan oleh BMKG per 2008, pemantauan siklon di Indonesia ditangani Australia. Bila keduanya digabung akan terdapat data serial 42 tahun. Data tersebut dapat memperlihatkan bahwa 66 persen siklon tropis di kawasan Indonesia hadir pada Januari, Februari, dan Maret. Yang terjadi pada Desember sebanyak 14 persen, April 11 persen, dan selebihnya 9 persen.

Sejauh ini, BMKG mencatat bahwa Badai Seroja yang paling kuat di antara siklon tropis yang pernah menyerang Indonesia. Bukan itu saja, Profesor Dwikorita menyebut, siklon Seroja ini pun yang pertama naik ke daratan. Siklon-siklon sebelumnya hanya bergerak di laut. Kepala BMKG itu memperlihatkan citra satelit bahwa mata siklon Seroja tampak berputar-putar di sekitar Kota Kupang , lalu bergeser ke Pulau Rote, seraya mendatangkan hujan ekstrem dan tiupan angin yang cukup kuat.

Di Kupang hari itu tercatat curah hujan 250 mm, angka yang tak pernah tercatat di NTT. Kecepatan anginnya sampai 85 km per jam. Ombak di Laut Sawu ketika itu mencapai 6 meter. Siklon tropis ini juga menimbulkan dampak langsung sampai ke area Sumba Barat, yang berjarak lebih dari 500 km. Pulau Adonara dan Lembata, yang berjarak lebih dari 250 km dari Kupang, digerojok hujan ekstrem dan angin kencang.

Secara laten bibit siklon tropis ini sering muncul di berbagai tempat. Ada yang sering muncul di Laut India dan Andaman dan menimbulkan bencana di daerah pantai kawasan Bangladesh atau India. Ada yang biasa muncul dari Pasifik Barat, di sekitar Filipina dan disebut taifun (topan). Ada pula siklon tropis khas dari Laut Karibia (bagian selatan) dan tumbuh menjadi hurricane, awan badai raksasa yang sering bergerak ke utara atau barat laut dan menyebar maut di pantai-pantai di Texas, Lousiana, Mississippi, Alabama, atau Florida di Amerika Serikat.

Searah Jarum Jam  

Lautan di zona tropis yang berkelimpahan panas matahari sepanjang tahun, sering menghasilkan massa air laut yang cukup panas, beberapa derajat Celsius lebih tinggi dibanding suhu permukaan laut di sekelilingnya (hotspot). Tekanan udara di situ relatif lebih rendah, dengan laju penguapan yang tinggi, sehingga di atasnya terbentuk awan tebal.

Tekanan rendah itu mengundang massa udara lain dari daerah dengan tekanan udara lebih tinggi datang seraya mengangkut uap air juga. Massa udara yang bergerak dari satu titik ke titik yang lain itu tidak mengikuti garis lurus, melainkan garis lengkung karena pengaruh efek Coriolis, yakni gaya yang timbul akibat rotasi bumi. Walhasil, massa udara itu berkumpul sambil bergerak memutar.

Putaran itu bisa terus membesar dan bergerak naik sehingga menghasilkan massa awan yang lebih tebal dan memutar lebih cepat. Lahirlah siklon tropis itu. Bila siklon tropis itu ada di sebelah utara garis equator, putaran awannya akan bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Sebaliknya bila di selatan khatulistiwa ia berputar  searah dengan jarum jam. Begitulah pengaruh rotasi bumi  dan efek dari bentuk permukaan bumi yang bulat seperti buah jeruk.

Keunikan lainnya adalah, siklon tropis yang tumbuh kembang di utara khatulistiwa (hemisfir utara) itu akan mengalami penguatan laju putarannya bila ia bergerak ke arah utara. Fenomena itu yang menjelaskan bahwa hurricane yang merayap dari Karibia ke utara, ke arah pantai-pantai AS, akan naik kategorinya dari level 1, 2, 3, bahkan bisa 4.

Sebagai gambaran, hurricane Katrina yang menghantam Kota New Orleans di Texas pada 2005, sempat naik ke kategori empat. Selain hujan ekstrem yang ditimbulkan, ada pusaran angin berkecepatan 280 km per jam. New Orleans porak-poranda dengan korban jiwa sekitar 1.900 orang.

Topan Haiyan yang menerjang Filipina 2013 adalah contoh lain keganasan badai tropis. Bibit Haiyan tumbuh di Perairan Palau, sekitar 300 km di utara Kepala Burung Papua Barat dan bergerak ke barat daya dengan terus mengalami penguatan di sepanjang jalan.

Walhasil, ia menghantam Pulau Samar, Filipina, mengakibatkan jatuhnya korban lebh dari 10 ribu jiwa. Di Pulau Samar sendiri diketahui bahwa kecepatan pusaran angin topan itu mencapai 320 km per jam.

Bahkan, meski telah melakukan perjalanan ribuan kilometer, topan Haiyan ini masih sanggup untuk menyeberangi  Laut Natuna Utara dan menerjang Vietnam, meski tenaganya sudah jauh menyusut. Di Vietnam, topan itu luruh dan menghilang.

Siklon tropis dari Laut Andaman (di sebelah barat Pantai Aceh) dan Samudra India juga punya reputasi mematikan. Bangladesh sering diterjang topan ini.     

Bibit siklon tropis ini biasa lahir di zona tropis di antara koordinat 10--20 Lintang Utara (LU) dan 10--20 Lintas Selatan. Ia hampir tidak pernah muncul di koordinat 0--5 LU atau LS seperti di Laut Jawa atau Selat Malaka, misalnya. Bibit siklon Seroja terpantau lahir di Laut Sawu, pada koordinat 10 derajat Lintang Selatan.

Zona selatan equator (hemisfir selatan) selama ini tak memiliki reputasi melahirkan siklon tropis raksasa sekelas taifun atau hurricane. Namun, Profesor Dwikorita mewanti-wanti bahwa situasi bisa saja berubah. “Laut itu adalah tempat serapan karbon, dan keseimbangan karbon sedang berubah,” ujarnya.

Meski mengakui bahwa pendapatnya bersifat hipotetis, Kepala BMKG ini ingin membuka cakrawala betapa alam punya tabiatnya sendiri. Jejalan karbon ke laut bisa mengubah sifat fisika maupun biologis laut, dengan ledakan populasi ganggang atau biota lainnya, yang mempengaruhi kekeruhan airnya, dan pada akhirnya pola distribusi serapan energi panas matahari.

Munculnya hotspot-hotspot baru bukan hal yang mustahil. Profesor Dwikorita pun mengajak semua pihak memikirkannya.

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari