Indonesia.go.id - Menggiring Ternak Vaksinasi

Menggiring Ternak Vaksinasi

  • Administrator
  • Kamis, 14 Juli 2022 | 15:15 WIB
  • 0
PENYAKIT MULUT DAN KUKU
  Dokter hewan dari Dinas Pertanian Kota Padang menyiapkan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk disuntikan kepada sapi saat Vaksinasi PMK Hewan Ternak di Padang, Sumatera Barat, Rabu (29/6/2022). ANTARA FOTO/ Muhammad Arif Pribadi
Virus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang Indonesia golongan serotipe O. Mentan pun memutuskan lima jenis vaksin yang sesuai, yakni dari Argentina, Brazil, Tiongkok, dan Prancis, perlu 43,6 juta dosis.

Sepuluh tim satgas penyakit mulut dan kuku (PMK) digerakkan serentak dari Kantor Dinas Pertanian Buleleng, di Jl A Yani, Kaliuntu, Singaraja, Bali. Setiap tim diperkuat oleh personel dari Polres dan Kodim Buleleng. Sasaran mereka pada Kamis, 7 Juli 2022 itu adalah desa-desa di Kecamatan Seririt dan Gerokgak. Dua kecamatan itu telah disusupi virus PMK yang menyerang ternak sapi.

Setiap tim dibekali dengan sebotol vaksin ternak berisi 200 cc. Lokasi ternak-ternak terpapar sudah terpetakan. Maka, tim Satgas PMK Buleleng itu pun menyisir kandang-kandang sapi yang berpotensi  tertular virus dari family Picornaviridae, genus Apthovirus itu. Di lapangan tidak ada kesulitan. Semua peternak dengan sukacita membuka pintu kandangnya.

Dengan mengenakan pakaian APD warna putih dari bahan plastik, yang selalu disemprot disinfektan setiap kali keluar dari kandang, tim satgas memeriksa hewan-hewan ternak itu. Ada seorang petugas yang khusus memeriksa kondisi ternak sasaran. Bila cukup sehat, suntikan vaksin boleh diberikan.

Vaksin dengan dosis 2 cc diberikan melalui suntikan pada leher bawah di dekat bahu. Pilihan lainnya, bagian paha atas atau pinggul di dekat ekor. Hari itu tim satgas PMK Buleleng dapat menyuntik 829 ekor sapi. Target tercapai. Buleleng sendiri adalah lumbung sapi di Bali, dengan populasi hampir 93 ribu ekor sapi. Kontribusinya terhadap populasi sapi di Provinsi Bali sekitar 20 persen. Dari jumlah itu, menurut laporan per 11 Juli 2022, ada 31 ekor sapi terpapar PMK.

Vaksinasi  hewan ternak juga gencar dilakukan satgas PMK Jawa Timur--provinsi yang dihuni hampir 4,5 juta ekor sapi  potong dan sapi perah. Hingga Sabtu, 9 Juli 2022, menurut Plt Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, dari 363.400 dosis vaksin yang diterimanya dari Kementeri Pertanian, 80 persen telah disuntikkan ke ternak sasaran.

"Ini kerja keras dari semua elemen dan capaian vaksinasi untuk tahap pertama sudah cukup tinggi," ujar Emil Dardak, ketika meninjau rumah potong hewan (RPH) Surya, di kawasan Pegirian, Surabaya, Sabtu (9/7/2022). Vaksin itu telah dibagikan ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. ‘’Ada yang sudah memanfaatkannya 100 persen, tapi ada juga yang masih 60 persen,’’ kata Emil Dardak pula.

Vaksinasi hewan ternak kini sedang digencarkan secara nasional, khususnya di 241 kabupaten/kota dari 21 provinsi. Yang terparah, ditinjau dari angka kasusnya, ialah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Provinsi Aceh. PMK bisa menyerang sapi, kuda, kerbau, kambing, domba, dan babi.

Namun dari 362 ribu kasus kasus PMK, sampai 12 Juli 2022, 97,5 persennya terjadi pada sapi. Kerbau di peringkat kedua dengan kontribusi 1,3 persen, dan selebihnya kambing, domba. Babi hanya 20 ekor dan tak ada catatan serangan pada kuda. Populasi sapi di Indonesia sekitar 18 juta ekor dan kerbau sekitar 1,2 juta ekor. Domba dan kambing populasinya cukup besar, sekitar 16 juta ekor.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo  mengatakan, hingga awal Juli 2022 vaksin yang tersedia tiga juta dosis, dan 800 ribu di antaranya sudah dibagikan ke seluruh daerah sejak pekan ke-2 Juni. Cakupan vaksinasinya per 12 Juli 2022 tercatat 475 ribu ekor. Serangan PMK sendiri muncul sejak akhir April, dan ditemui kali pertama di Jawa Timur dan Aceh.

Tidak semua vaksin PMK bisa digunakan untuk penanggulangan wabah di Indonesia saat ini. Surat Keputusan Mentan nomor 517 tanggal 7 Juli 2022 menyebutkan, vaksinasi hanya dilakukan dengan vaksin  inactivated virus yang sesuai dengan virus PMK yang saat ini sedang bersirkulasi di Indonesia, yakni vaksin dari serotipe O. Adapun serotipe yang ada di dunia saat ini adalah O, A, C, Sat 1, Sat 2, Sat 2, serta Serotipe Asia 1.

Vaksin yang sesuai dengan serotipe O, seperti disebut dalam keputusan Mentan, adalah vaksin Aftopor buatan Prancis, Cavac FMD buatan Tiongkok, Aftomune dari Brazil, Aftogen-Oleo dan Artosa dari Argentina. Di luar itu, efektivitas vaksinnya tidak terjamin. Maka, lima jenis vaksin itulah yang kini dinyatakan berlaku di Indonesia.

Kebutuhan vaksin itu sendiri, seperti yang diungkapkan dalam rapat kerja Kementerian Pertanian dan Komisi IV DPR RI, pada Senin, 27 Juni 2022, diperkirakan mencapai 43,6 juta dosis. Sasarannya, 14 juta ekor, masing-masing dua dosis suntikan ditambah sekali booster. Kementan berniat pula mengalokasikan pengadaan vitamin dan obat-obatan ternak (gratis)  sebanyak 3,3 juta dosis, serta bantuan disinfektan.

Untuk setiap ekor sapi peternak yang mati akibat PMK juga akan diberikan konpensasi sebesar Rp10 juta. Biaya operasional penanggulangan wabah ini juga memerlukan dana Rp866 Miliar. Maka, dikalkulasikan bahwa penanggulangan wabah ini memerlukan anggaran Rp4,66 triliun dengan Rp2,8 triliun di antaranya untuk pengadaan vaksin.

Anggaran itu akan dialokasikan dari pos Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN). Toh, realisasinya tentu akan bergantung pula pada dinamika di lapangan. Makin cepat tren kenaikan kasus PMK itu bisa diakhiri, dan berubah menjadi tren melandai, akan semakin rendah biaya yang diperlukan.

Angka kasus harian PMK sendiri masih berfluktuasi secara tajam. Namun, puncak-puncak dengan temuan lebih dari 10.000 kasus per hari sudah tidak ditemukan lagi dalam sepekan terakhir (5--11 Juli 2022). Rekor tertinggi tercatat pada 31 Mei dengan 22.800 kasus sehari. Sejauh ini, virus PMK masih bercokol di Sumatra, Jawa, Bali, NTB, serta sebagian Kalimantan. Situasi peta wabah bakal berubah bila Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur tertular virus ganas itu.

Penanganan wabah PMK itu kini berada di bawah satgas yang dipimpin oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto. Satgas itulah yang kini berperan besar dalam mengendalikan mobilitas ternak mamalia (ruminansia) besar seperti sapi, kerbau, dan kambing. Intinya, hanya hewan sehat yang boleh ditransportasikan antarwilayah, bahkan antarkecamatan sekalipun. Bukan hanya ternaknya, produk ternak pun diawasi lalu lintasnya. Penularan juga bisa terjadi melalui susu atau daging, utamanya jeroan, kaki, dan kepala.

Angka kasus PMK sendiri kini telah mencapai 363 ribu dengan tingkat kematian 0,66 persen. Yang sudah sembuh 37 persen. Pemeriksaan yang masif untuk menemukan hewan sakit, isolasi ternak yang sakit, pengobatan, pembatasan mobilitas, karantina, vaksinasi, dan pengawasan peredaran produk ternak, adalah serangkaian protokol untuk penanggulangan wabah PMK. Semua langkahnya perlu dukungan dari masyarakat luas.

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari