Nilai ekspor nikel Indonesia pada 2022 diperkirakan menembus angka USD20 miliar. Nilai itu berlipat 19 kali dan berpotensi menyaingi nilai ekspor batu bara dan CPO.
Produk olahan bijih nikel kini menjadi primadona baru dalam deretan komoditas ekspor Indonesia. Dalam konferensi pers Kamis (15/9/2022), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor turunan bijih nikel itu menunjukkan kenaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Di sepanjang Januari--Agustus 2022 saja, nilai ekspornya sudah hampir menyentuh USD12,5 miliar.
Rinciannya adalah ekspor feronikel sebesar USD8.762 juta dan yang USD3.594 juta lainnya dalam bentuk turunan lain, yakni nickel pig iron dan nickel matte. Ekspor dalam bentuk bijih nikel (bahan mentah) tercatat kosong (nol). Sebab sejak Januari 2020, pemerintah menerbitkan pelarangan lewat Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 11 tahun 2019. Larangan itu adalah implementasi dari UU nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara.
Ekspor nikel sendiri meningkat pesat sejak 2020. Pada periode 2014--2018, ekspor nikel, dalam bentuk bijih nikel, feronikel, dan produk turunannya masih berkisar di angka USD2,5 miliar. Permintaan pasar dunia menguat sejak 2019, ketika kebutuhan stainless steel dan baterai mobil listrik berbasis nikel-kobalt melonjak. Ekspor nikel Indonesia tahun itu, menurut BPS, mencapai USD5.546 juta.
Pemintaan stainless steel dan baterai listrik makin meningkat di 2021. Sebagai eksportir nikel terbesar di dunia, Indonesia menangguk devisa USD8.3272 juta. Pada 2022, permintaan nikel masih tinggi. Alhasil, dalam delapan bulan pertama Indonesia mampu mengekspor nikel senilai USD12,5 miliar. Perkiraan optimistis, nilai ekspornya bisa menembus di atas USD20 miliar (Rp296 triliun) pada 2022 ini. Nikel mulai mampu bersaing dengan batu bara serta minyak CPO dan turunannya.
Permintaan tinggi di pasar dunia membuat harga nikel terus terungkit naik. Pada Agustus 2022, harga feronikel tercatat USD22.100 per ton, 16 persen lebih tinggi dari satu tahun silam. Bahkan pada Maret 2022, harganya sempat menyentuh USD24 ribu per ton. Sebelum pandemi terjadi di akhir 2019, harga feronikel masih USD17.000 per ton.
Permintaan masih akan tinggi mengingat kebutuhan stainless steel dan baterai mobil listrik masih akan terus meningkat. Indonesia berpeluang menangguk devisa yang lebih besar. Investasi senilai USD8 miliar telah digelontorkan sejak 2015 untuk membangun 30 smelter baru, yang memproses bijih nikel (nickel ore) menjadi produk olahan. Sebagian besar investor dari RRT.
Feronikel, bubuk mineral dengan kandungan nikel 78 persen atau lebih, ialah produk andalan dari smelter. Produk olahan lainnya adalah nickel pig iron serta nickel-matte, yang kandungan nikelnya agak jauh di bawah 78 persen. Semuanya laku, baik di pasar ekspor maupun pasar domestik.
Produksi nikel Indonesia pada 2021 mencapai 2,45 juta ton, yang dihasilkan oleh tiga unit smelter lama (yang beroperasi sejak sebelum 2015) dan 15 unit smelter baru. Di 2022, lima smelter baru mulai berproduksi dan 10 lainnya baru akan beroperasi pada 2023-2024. Diperkirakan pada 2022, produksi nikel nasional akan mencapai 2,6 juta ton. Sekitar 1 juta ton diekspor dan sisanya diserap di dalam negeri, utamanya untuk industri stainless steel (termasuk pipa antikarat).
Indonesia adalah raja nikel dunia yang memasok 37 persen dari volume nikel di pasar nikel dunia. Pertumbuhan pasar nikel dunia yang 8–9 persen per tahun bukan masalah besar. Cadangan nikel Indonesia yang sudah teregrister sekitar 21 juta ton setara nikel murni. Pesaing terdekat adalah Australia (20 juta ton), Brazil (11 juta ton), Rusia (6,9 juta ton), Kuba (5,5 juta ton), dan Filipina (4,8 juta ton). Situasi bisa berubah bila ada laporan hasil eksplorasi baru.
Putusan Gugatan ke WMO Hampir Tiba
Namun, kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel sejak 2020 itu menuai reaksi keras dari Uni Eropa. Kebijakan itu membuat harga bijih nikel melesat naik. Negara-negara Uni Eropa merasa dirugikan, karena industri barang mereka, yang berbasis stainless steel, naik biayanya. Mereka merasa akses kepada bahan baku industri yang murah ditutup secara sepihak.
Protes kemudian ditindaklanjuti dengan pembicaraan antara pihak Indonesia-Uni Eropa. Tapi itu buntu. Pemerintah Indonesia tak mau mengubah kebijakan. Di sisi lain, pihak Uni Eropa menganggap kebijakan itu seperti penerapan domestic market obligation (DMO) yang dalam perkara ini dinilai tidak fair.
Penyerapan semua bijih nikel ke industri pengolahan (hilirisasi), dengan harga yang tak mengacu ke harga internasional, dinilai sebagai subsidi tersembunyi. Dengan begitu, harga hasil hilirisasinya pun dinilai mengandung subsidi, yang tak bisa diterima oleh rezim pasar bebas. Toh, pemerintah Indonesia tak mau mundur selangkah pun.
Maka, Uni Eropa pun menggugat Indonesia melalui Dispute Settlement Body (DSB) di World Trade Organization. Indonesia yang menjadi anggota WTO sejak 1995 itu dianggap melanggar ketentuan Pasal XI:1 GATT 1994, Pasal X:1 GATT 1994 dan Pasal 3.1(b) ASCM dan merugikan industri stainless steel Uni Eropa. Ikut diperkarakan pula ihwal DMO batu bara ke PLN.
Dalam sidang terakhir DSB, 1 November 2021, dinyatakan, keputusan WTO akan dikeluarkan pada kuartal terakhir 2022. Presiden Joko Widodo sungguh siap menghadapi apa pun keputusan WMO. Sikap itu disampaikan Presiden Jokowi dalam sambutannya saat membuka Sarahsehan 100 Ekonom yang dihelat oleh Badan Riset INDEF dan CNBC Indonesia, di Jakarta, Rabu (7/9/2022). Presiden Jokowi pantang mundur.
‘’Nggak perlu takut setop ekspor nikel. Dibawa ke WTO nggak apa-apa. Dan kelihatannya kita juga kalah di WTO. Nggak apa-apa, yang penting barangnya sudah jadi dulu, dan industrinya sudah jadi. Kalah nggak apa-apa, syukur kalau bisa menang,’’ ujar Presiden Jokowi, di tengah uraiannya tentang kebijakan hilirisasi produk komoditas. Bahkan, Presiden bersiap mengambil kebijakan serupa untuk komoditas timah dan bauksit (bahan baku aluminium).
Kebijakan hilirisasi itu, menurut Presiden Jokowi, diperlukan Indonesia untuk melipatgandakan nilai tambah komoditas. Rantai pasoknya semakin panjang dan memberikan multiplier effect yang lebih besar. Ujungnya, menambah lapangan usaha, meningkatkan tenaga kerja, dan tambahan pajak bagi penerimaan negara.
Pada 2011, kata Presiden Jokowi, ekspor nikel hanya bernilai USD1,1 miliar. Dengan volume yang relatif lebih besar, ditinjau dari volume bijih batuan yang diproses, ekspor feronikel dan turunan lainnya diperkirakan dapat mencapai USD20 miliar pada 2022. ‘’Tidak main-main, ada kenaikan nilai tambah yang hampir 19 kali lipat,’’ tandas Presiden Jokowi.
Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari