Indonesia.go.id - PMI Manufaktur Indonesia Naik, Kepercayaan Investor Menguat

PMI Manufaktur Indonesia Naik, Kepercayaan Investor Menguat

  • Administrator
  • Minggu, 21 Mei 2023 | 21:12 WIB
  • 0
INVESTASI
  Pekerja merakit sepeda motor listrik Gesits di pabrik PT Wika Industri Manufaktur (WIMA), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penjualan kendaraan listrik mendorong industri manufaktur meningkat. ANTARA FOTO/ Aditya Pradana Putra
Pencapaian PMI Manufaktur Indonesia menjadi 52,7 poin pada April 2023 menunjukkan sentimen bisnis pada sektor itu tetap optimistis, kuat, dan tertinggi sejak November 2022.

Perekonomian Indonesia kembali mendapatkan kabar baik. Lembaga S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index  (PMI) Manufaktur Indonesia untuk April 2023 naik 0,8 poin dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 52,7.

Kenaikan itu merupakan pencapaian yang cukup membanggakan. Bahkan merupakan konsistensi ekspansi dalam 20 bulan berturut-turut di tengah-tengah perekonomian global yang masih terguncang akibat Ukraina Vs Rusia.

Berkaitan dengan rapor S&P Global itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, pencapaian tersebut menunjukkan sentimen bisnis pada sektor manufaktur tetap optimistis, kuat, dan tertinggi sejak November 2022. "Produsen memandang prospek pertumbuhan jangka pendek masih relatif baik untuk mendorong output produksi mereka di masa depan," ujarnya dalam keterangan Rabu (3/5/2023).

Febrio juga menekankan optimisme pertumbuhan permintaan yang berkelanjutan perlu dijaga. Hal itu memberikan bantalan yang kuat dalam menghadapi risiko gejolak ekonomi global. Wajar saja Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan itu cukup sumringah. Pasalnya, laporan PMI Manufaktur Indonesia cukup impresif.

Apalagi, kondisi itu juga didukung oleh perekonomian Indonesia yang cukup resilien di tengah dinamika perekonomian global yang terus melambat, seperti dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini. Lembaga itu mengungkapkan pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup kuat sebesar 5,03 persen (yoy) selama triwulan I-2023.  Angka ini melampaui sebagian besar prediksi analis pasar serta berada di atas Tiongkok yang tumbuh 4,5 persen pada triwulan yang sama.

Bahkan, sektor manufaktur dan perdagangan menjadi kontributor utama dari sisi produksi. Lembaga itu menyebutkan sektor manufaktur tumbuh sebesar 4,4 persen (yoy) ditopang oleh masih kuatnya permintaan domestik menjelang bulan Ramadan dan tingginya permintaan atas komoditas hilirisasi seperti CPO dan olahan mineral.

Demikian pula dengan pertumbuhan sub-sektor pengolahan makanan dan minuman serta pengolahan logam dasar tumbuh masing-masing sebesar 5,3 persen dan 15,5 persen pada triwulan I 2023.

Sementara itu, sektor alat angkutan mampu tumbuh signifikan sebesar 17,3 persen, didorong oleh peningkatan permintaan kendaraan baru menjelang Hari Raya Idulfitri serta peningkatan produksi kendaraan bermotor listrik.

Sejalan dengan pertumbuhan sektor manufaktur yang cukup kuat, sektor perdagangan juga tumbuh tinggi sebesar 4,9 persen, terutama didorong oleh pertumbuhan perdagangan otomotif sebesar 6,9 persen.

Pendapat Febrio Kacaribu juga mendapatkan pembenaran dari Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Menurutnya, kenaikan PMI manufaktur utamanya disokong oleh menguatnya permintaan dari dalam negeri.

Dia menilai, naiknya PMI manufaktur Indonesia pada April 2023 itu akan menambah kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

“Dengan terlihatnya hasil PMI yang berada di posisi ekspansi, artinya para pelaku industri dan investor di Indonesia tetap optimistis dan percaya diri dalam menjalankan usahanya,” kata Agus dalam keterangan resmi, Selasa (2/5/2023). 

Selain itu, dia menuturkan, angka PMI manufaktur Indonesia ini akan membuat investor memiliki keyakinan besar jika kondisi pasar kini semakin membaik. Terlebih, menurut Agus, Indonesia sempat menjadi official country dari pameran Hannover Messe 2023 dengan membawa misi meraup kerja sama maupun investasi untuk industri dalam negeri.

Dalam perhelatan tersebut, Agus menyebut telah terjadi sejumlah kesepakatan kerja sama yang ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia dan pelaku industri nasional dengan para negara mitra dan investor global.  “Kerja sama ini, khususnya di sektor industri, akan dapat membawa dampak positif dalam peningkatan daya saing industri kita dan membuka akses pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Harus diakui pencapaian itu lebih membanggakan lagi, karena kenaikan PMI itu juga mengungguli PMI sektor industri di sebagian negara maju yang masih mengalami kontraksi, seperti Jerman (44,0), Prancis (45,5), Inggris (46,6), Korea Selatan (48,1), dan Jepang (49,5). 

“Jadi, di tengah pelemahan PMI manufaktur negara-negara maju tersebut, PMI manufaktur Indonesia tetap tumbuh secara akseleratif dan impresif,” ucap Agus.

Menperin mensyukuri hasil PMI manufaktur Indonesia yang terdongkrak permintaan domestik lantaran permintaan dari luar negeri belum stabil sejak kondisi perekonomian global terguncang perang Rusia-Ukraina.

Khusus permintaan domestik, Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui pihaknya fokus menggenjot kinerja program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), termasuk pada proses pengadaan barang dan jasa di pemerintah pusat dan daerah serta BUMN dan BUMD. 

“Selain itu, kami proaktif memacu perluasan pasar ekspor, terutama ke negara-negara nontradisional,” ujarnya.

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari