Indonesia.go.id - Nikmatnya Tinggal di Rusun Bekasi

Nikmatnya Tinggal di Rusun Bekasi

  • Administrator
  • Rabu, 22 November 2023 | 13:04 WIB
  • 0
PERUMAHAN
  Rusun Pangudi Luhur di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kementerian PUPR
Masyarakat sektor informal Kota Bekasi mengaku senang tinggal di rumah susun (rusun). Selain nyaman juga dapat pelatihan untuk meningkatkan perekonomian.

Tinggal di rumah susun (rusun) tidak pernah terlintas di pikiran Maryani (43 tahun). Namun kenyataan itu kini dialami perempuan yang saban hari bergelut dengan sampah alias pemulung dan tinggal di bantaran sungai di kawasan Ganda Agung Kota Bekasi.

Kini, Maryani bersama suami dan anak-anaknya, merasa nyaman  menjadi penghuni rusun di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi. "Saya nggak pernah mimpi bisa tinggal di rusun yang bagus seperti ini. Fasilitasnya lengkap dan nyaman, pengelolanya juga baik dan memberi pengarahan dan pelatihan buat saya dan penghuni rusun lainnya," ujar Maryani saat ditemui tim Direktorat Jenderal (Ditjen) Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kamis (5/10/2023).

Ungkapan yang disampaikan Maryani menguatkan survei Jakarta Property Institute (JPI). Rilis studi penelitian yang  berlangsung pada Maret--Juni 2022 itu mengungkapkan bahwa tingkat kepuasan penghuni rumah susun sederhana di Jakarta sangat tinggi. Secara rata-rata, penghuni rumah susun memberi skor 4,2 dari 5,0 atas aspek penentu indeks kepuasan.

Surveinya tersebar di rumah susun sederhana di Jakarta dengan rincian: 22 rumah susun sederhana sewa (rusunawa), dua rumah susun sederhana milik pemerintah (rusunami pemerintah), dan empat rumah susun sederhana milik swasta (rusunami swasta).

Khusus Sektor Informal

Rusun yang kini menjadi tempat tinggal Maryani merupakan buah kolaborasi Kementerian PUPR bersama Kementerian Sosial di Kota Bekasi. Diresmikan Menteri Sosial pada 10 Februari 2023, rusun lima lantai itu terdiri atas 93 unit hunian tipe 24.

Di tempat itu, selain bisa menikmati hunian nyaman dan layak huni, penghuni yang sebelumnya tinggal di kawasan kumuh, bantaran sungai, serta bekerja di sektor informal, dibina agar mampu meningkatkan perekonomian keluarga dengan pemberdayaan dan pelatihan serta bantuan dari pemerintah.

Maryani sendiri mendapat pelatihan dan pendampingan dari Kementerian Sosial. Kini, dia sudah mahir menjahit dan mulai mendapat banyak pesanan dari pihak luar. Kementerian Sosial melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial menggandeng pihak luar yang ingin memesan berbagai produk seperti sandal hotel, pakaian seragam hingga goodie bag, sehingga para penghuni rusun bisa mendapatkan tambahan penghasilan.

"Saya juga senang karena suami yang dulu tidak bekerja kini bisa beralih profesi sebagai petani di lahan ada di bagian belakang rusun. Terima kasih!” jelas Maryani.

Penghuni rusun lainnya, Resa Mursanto (49 tahun). Dia mengaku dulu bekerja serabutan dan tinggal bersama isteri dan anak-anaknya di kontrakan sempit di daerah Margahayu, Bekasi Timur. Dirinya memberanikan diri mendaftar ke Kementerian Sosial dengan harapan untuk memperbaiki nasib dan tinggal di hunian layak dan sehat.

Setelah menjalani serangkaian assesment dan pelatihan dari Kementerian Sosial, kini dia sudah memiliki pekerjaan sebagai pengawas kontraktor bangunan dan keluarganya bisa tinggal dengan nyaman karena fasilitas di unit rusun sudah sangat lengkap.

"Fasilitas di rusun ini sangat lengkap mulai dari tempat tidur, kasur, meja kursi makan, kitchen set mini, gelas piring serta kompor gas sudah disediakan. Kamar mandinya juga bersih dan kamarnya bagus jadi kami tinggal masuk membawa pakaian dan peralatan seperlunya," terangnya.

Resa berharap kepada pemerintah supaya bisa melanjutkan program rusun untuk masyarakat yang bekerja di sektor informal karena masih banyak masyarakat yang memerlukan bantuan pemerintah di sektor perumahan.

"Kalau bisa program rusun untuk orang-orang seperti saya yang kerjanya serabutan dan tidak tetap penghasilannya terus dilanjutkan. Saya juga ingin mengubah nasib dan anak-anak bisa menikmati pendidikan supaya kehidupannya kelak lebih baik. Terima kasih buat Presiden Joko Widodo atas program pembangunan rusun ini dan kalau bisa dilanjutkan lagi supaya bisa bantu banyak orang," harapnya.

Seleksi Ketat

Menurut Pengelola Rusun Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi, Hendra, pihak Kementerian Sosial melakukan seleksi yang cukup ketat serta assesment bagi calon penghuni rusun. Pihaknya juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi untuk mendata siapa saja masyarakat yang berhak tinggal di rusun.

"Kami juga memiliki sejumlah kriteria penghuni rusun, yakni masyarakat yang rentan dari kemiskinan, penyandang disabilitas dan orang lanjut usia. Kami juga memiliki peraturan yang wajib dipatuhi serta memberikan pelatihan kepada penghuni agar mereka memiliki keterampilan sehingga bisa meningkatkan perekonomian keluarga," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto menyatakan, pembangunan rusun untuk masyarakat sektor informal ini merupakan bukti dan wujud nyata bahwa pemerintah hadir membantu masyarakat sehingga mereka bisa tinggal di hunian vertikal yang layak. Berbagai fasilitas pendukung pun sudah dilengkapi sehingga para penghuni tinggal masuk bersama keluarga membawa pakaian dan peralatan rumah tangga tidak terlalu banyak.

Merujuk data Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Rusun Sentra Terpadu Pangudi Luhur dibangun oleh Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Jawa II Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR di lahan milik Direktorat Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial di Jalan HM Joyo Martono, Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.

"Kami harap dengan pembangunan rusun ini masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan pemerintah. Selain itu kami harap para penghuni bisa ikut merawat dan mengelola rusun ini dengan baik sehingga bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama," katanya.(*)

 

 

Penulis: Dwitri Waluyo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari