Indonesia.go.id - Mandiri Energi untuk Mandiri Ekonomi

Mandiri Energi untuk Mandiri Ekonomi

  • Administrator
  • Jumat, 8 Desember 2023 | 12:52 WIB
  • 0
ENERGI TERBARUKAN
  Warga menyalakan kompor biogas untuk digunakan memasak di Urutsewu, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Di desa tersebut, sejak tahun 2007, sebuah inovasi bahan bakar gas buatan dari kotoran sapi terus dikembangkan yaitu biogas sapi, yang kini telah dibangun sebanyak 40 instalasi digester yang dapat disalurkan ke 100 kepala keluarga.(ANTARA FOTO/ALOYSIUS JAROT NUGRO)
Jawa Tengah yang menjadi percontohan nasional dalam bidang kemandirian energi. Desa Mandiri Energi dapat membuka lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan serta memberikan kegiatan-kegiatan yang sifatnya produktif.

Urusan sumber daya energi baru terbarukan (EBT), Indonesia terhitung sangat beruntung. Selain jenisnya beragam, jumlahnya juga tidak terbatas. Sebutlah panas matahari, gas rawa, geothermal, angin, dan air, yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.

Potensi besar itulah yang dikembangkan secara optimal. Baik dalam skala jumbo maupun mikro. Untuk EBT skala besar, Pemerintah pun membuka ruang bagi investor nasional maupun asing. Selain itu, Pemerintah pusat juga mendorong daerah membangun EBT skala desa melalui Program Desa Mandiri Energi.

Apa itu Desa Mandiri Energi? Merujuk Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 25 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri ESDM No.32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel). Sebagai Bahan Bakar Lain yang dimaksud dengan Desa Mandiri Energi adalah desa yang mampu mendayagunakan sumber energi lokal berbasis EBT seperti tenaga surya, mikrohidro, panas bumi dan sampah untuk memasok lebih dari 60% kebutuhan energi (listrik dan bahan bakar) bagi desa itu sendiri.

Adalah Provinsi Jawa Tengah yang menjadi percontohan nasional dalam bidang kemandirian energi. Hasilnya pun nyata. Per November 2023 ini, mengutip data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, tercatat 2.353 desa mandiri energi dari total 8.500-an desa/kelurahan. 

Dalam ulasan di laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (www.jatengprov.go.id), Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan hingga 2021, bauran energi di Jawa Tengah mencapai 13,38%.

Berbagai pemanfaatan energi terbarukan di Jawa Tengah itu terdiri dari pembangkit listrik tenaga surya, hidro, panas bumi, sampah, serta pemanfaatan energi nonlistrik seperti biodiesel, biogas, biomasa, dan gas rawa (biogenic shallow gas).

Dari 2.353 desa mandiri energi itu terbagi atas 2.167 desa mandiri energi inisiatif, 160 desa mandiri energi berkembang, dan 26 desa mandiri mapan.

Manfaat Ganda

Selain dapat membuka lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan, Desa Mandiri Energi juga memberikan kegiatan-kegiatan yang sifatnya produktif. Sebagai contoh yang dijalankan di Desa Tasikharjo, Kabupaten Tuban. Desa tersebut memanfaatkan energi panel surya untuk mendukung proses kegiatan usaha mikro kecil menengah (UMKM), di antaranya yaitu Program UMKM Batik Sekar Tanjung, Program Jahit Sekar Tanjung, dan Program Ethical Creative Tasikharjo.

Seperti halnya Desa Tasikharjo, desa lain juga memanfaatkan energi panel surya untuk pengembangan UMKM seperti Desa Tambakharjo di Semarang. Desa ini menggunakan energi terbarukan dari panel surya untuk pengelolaan Kampung Kuliner Pujasera Energi.

Pemanfaatan energi panel surya juga dilakukan Desa Kedonganan di Bali. Namun berbeda dengan Desa Tasikharjo dan Desa Tambakharjo, di Desa Kedonganan energi panel surya dimanfaatkan operasional Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), dan berbagai aktivitas lainnya yang menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Sedangkan Desa Eka Jaya di Jambi, Desa Larangan di Kota Cirebon, dan Desa Singapura di Kabupaten Lahat memanfaatkan energi panel surya untuk berbagai kegiatan seperti menyediakan listrik aquaponik, kolam pemancingan, dan kegiatan UMKM lainnya. Adapun kegiatan UMKM tersebut, seperti produksi kopi petik merah dan UMKM yang menghidupkan roda ekonomi serta sosial di masyarakat.

Sementara itu, Desa Kalijaran di Maos, Cilacap, Jawa Tengah menggunakan energi panel surya untuk irigasi. Pembangkit Tenaga Surya (PLTS) sebesar 9.700 wattpeak (WP) yang dapat meningkatkan jumlah debit air untuk pengairan hingga 117.600 liter per hari dan produksi pupuk organik 70 kg/hari.

Inovasi ini meningkatkan siklus panen dari sebelumnya 2 kali menjadi 3 kali per tahun, penghematan anggaran irigasi per hektar dari Rp1,5 juta untuk pembelian BBM menjadi Rp1 juta, serta peningkatan produksi pertanian dari 12 ton menjadi 12 ton ditambah 4 ton cabai per hektar selama 1 tahun.

“Berkat energi panel surya dapat membantu meningkatkan produktivitas petani. Jumlah panen meningkatkan dari dua menjadi tiga kali setahun. Dengan adanya pengairan di musim kemarau ini, petani juga dapat menanam palawija,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margosugih Desa Kalijaran, Prayitno seperti dikutip Antara.

Kecamatan Maos, Cilacap merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Tengah yang sangat potensial dalam membantu swasembada pangan Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Desa Kalijaran menjadi desa percontohan pengembangan energi baru terbarukan untuk pertanian.

Desa Urutsewu, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah telah mengembangkan biogas sejak 2013. Biogas ini, merujuk situs www.masterplandesa.com,  berasal dari kotoran sapi, ayam, dan limbah produksi tahu. Biogas tersebut dimanfaatkan dalam aktivitas memasak dan kegiatan produksi seperti penggilingan jagung. Saat ini Desa Urutsewu memiliki total 43 unit biogas dan 3 biogas portabel.

Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, memanfaatkan gas rawa atau biogenic shallow gas (BGS) untuk mengaliri 100 KK sehingga sekarang warga tidak bergantung pada LPG lagi.

Warga Dusun Kalipondok, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas tidak bergantung aliran listrik dari PLN. Warga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran air dari Telaga Pucung.

Potensi Besar

Pengembangan desa mandiri energi sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7 dan 13. Poin 7 SDG’s bertujuan menjamin akses menjamin akses energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua lapisan Masyarakat. Sedangkan poin 13 SDG’s bertujuan mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya karena perubahan iklim adalah tantangan global yang memengaruhi setiap orang. 

Dorongan untuk pengembangan desa mandiri energi saat ini menjadi penting mengingat Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya energi terbarukan. Menurut International Renewable Energy Agency (IRENA), diperkirakan total potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 3.692 gigawatt (GW). Namun hingga tahun 2021, kapasitas yang terpasang hanya sebesar 10,5 GW atau sekitar 0,3% dari total potensi yang tersedia. Oleh karena itu, desa mandiri energi menjadi solusi alternatif untuk mengoptimalkan pendayagunaan energi terbarukan yang melimpah. Hal ini perlu disadari bahwa sebagian besar sumber energi terbarukan berada di wilayah perdesaan yang memiliki keanekaragaman hayati. (*)

 

Penulis: Dwitri Waluyo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari