Indonesia.go.id - Menjaga Sempadan Ciliwung

Menjaga Sempadan Ciliwung

  • Administrator
  • Selasa, 15 Juni 2021 | 12:56 WIB
  • 0
KEANEKARAGAMAN HAYATI
  Warga bermain di aliran Sungai Ciliwung, Kelurahan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
Dari 187 spesies ikan yang hidup di Kali Ciliwung seabad silam, kini tinggal 20 spesien. Namun, kehidupan liar masih tersisa di Ciliwung, pada ekosistem sempadan yang rimbun.

Tiga ekor berang-berang jantan dilepasliarkan di Kali Ciliwung di ruas Grand Depok City, Kota Depok, bertepatan dengan hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2021. Ketiga ekor berang-berang cakar  kecil (Aonyx cinereus) itu semua telah dewasa, dalam kondisi yang sehat setelah menjalani perawatan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Tegal Alur Jakarta. Di Depok diharapkan mereka dapat  menemui jodoh masing-masing.

Dengan segala tekanan dari lingkungannya, Kali Ciliwung masih menyisakan kehidupan liarnya. Tiga ekor berang-berang itu ditangkap oleh warga di antara semak pinggiran Ciliwung. Namun, kemudian diserahkan ke BSDA DKI. Mereka dilepasliarkan di Depok, yang kawasan sempadan sungainya masih rimbun ditumbuhi pepohonan dan belukar, hingga bisa memberikan daya dukung lingkungan untuk kehidupan sejumlah satwa liar.

Mesti dalam jumlah yang terbatas, populasi berang-berang masih sering terlihat di Depok. Berang-berang cakar kecil ini termasuk hewan rentan (vurnerable) pada red list International Union for Conservation of Nature (IUCN), namun belum tergolong hewan yang dilindungi. Dalam status sama, di kawasan ini juga masih sering terlihat biawak dan bulus.

Dari hulunya di di lereng Gunung Gede, Cisarua, Kabupaten Bogor, Kali Ciliwung mengalir berkelak-kelok sepanjang hampir 120 km. Kondisinya memprihatinkan sejak dari hulu. Dengan luas daerah aliran sungai (DAS) seluas 387 km2, dan kontur yang curam, mestinya tersedia kawasan penyangga berupa hutan dan perkebunan seluas 120 km2. Namun, saat ini yang tersisa tinggal sekitar 3.700 ha (37 km2).

Dengan kondisi semacam itu tak heran bila debit air Ciliwung itu meluap-luap di musim hujan dan kerontang di musim kemarau. Kualitas airnya sangat buruk di musim kemarau, karena dijejali oleh sampah di luar takaran. Berbagai macam sampah tertuang di Ciliwung, mulai dari sampah industri, limbah perkebunan-peternakan, dan terutama sampah domestik.

Secara rata-rata tiap hari sungai ini menerima beban sampah organik setara dengan 54,4 ton biological oxygen demand (BOD). Ia memerlukan 54,4 ton oksigen untuk mendekomposisi cemaran itu. Padahal, kapasitas alamiahnya hanya 9,29 ton BOD. Toh, arus banjir yang kerap muncul membantu memindahkan beban itu menghilir jauh ke laut, ke Teluk Jakarta.          

Dengan tekanan besar terhadap daya dukung lingkungannya itu, banyak satwa pandemik (penghuni asli) ekosistem Ciliwung punah. Dalam penelitiannya, dengan mengacu hasil inventarisasi pada 1910, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terungkap bahwa dari 187 jenis ikan yang ada tinggal tersisa 20. Sekitar 92 persen ikan endemiknya punah. Hal tersebut berlaku mulai dari ekosistem hulu hingga hilir.

Ikan belida, soro, berot, nilam, tawes, putak, berukung, lele, brek, keperas, serta ikan hitam, sudah tak bisa ditemukan lagi di Kali Ciliwung pada inventarisasi 2010. Pada saat yang sama, spesies lainnya seperti ikan hampal, genggehek dan baung, masih ditemukan meskipun semakin langka dan terancam.

Namun, banyak pihak yang kemudian melakukan revitalisasi. Sebagian ikan endemik itu didatangkan dari Sunagi Cisadane atau Sungai Ciujung yang sama-sama berhulu dari daerah Bogor. Sebagian bisa bertahan dalam ekosistem Ciliwung yang berat dan sebagian lagi tak mampu beradaptasi.

Meski sudah jauh berubah dari kondisi alaminya yang dulu, Kali Ciliwung masih menyisakan tempat bagi kehidupan liar yang terbatas. Kawasan sempadannya, yakni zona penyangga yang membatasi zona budi daya (digunakan untuk aktivitas manusia) dengan badan sungai. Di hulu, zona sempadan itu masih cukup tebal, namun di hilir sebagian sudah tak tertolong.

Dari luas zona sempadan yang tersisa saat ini, sekitar 60 persen ada  di ruas Ciliwung antara  Bogor-Depok-Jakarta Selatan. Di Kota Bogor, sempadan Kali Ciliwung hampir tak bersisa lagi. Agak ke hilir,  sempadan itu mulai terlihat sampai ke Kecamatan Bojong Gede, Citayam, Kota Depok, terus masuk ke wilayah Jakarta Selatan di Kelurahan Lenteng Agung, Tanjung Barat, hingga Condet.

Namun, secara keseluruhan zona sempadan itu terus menyusut. Dalam tiga-empat dekade  terakhir ini, luas zona penyangga itu telah menyusut 35 persen, dan berubah menjadi area  terbangun yang yang kedap air. Sebagian lagi menjadi fondasi bangunan tak berizin.

Dalam situasi itu, ikan-ikan pandemik mencoba bertahan. Di antara mereka ada ikan mas, lele lokal, julung-julung, paray, benteur, bangkreung, soro, jeler, betutu, belut, serta beberapa lainnya. Mereka pun harus berkompetisi dengan ikan pendatang seperti ikan sapu-sapu, ikan bawal (tawar), lele dumbo, dan beberapa lainnya.

Sejumlah pihak sering menebar benih ikan budi daya di luar kali antara Citayam-Depok-Condet, yang membuat Kali Ciliwung terus berpenghuni. Sempadan sungai yang rimbun membantu menciptakan ekosistem air yang membuat ikan-ikan itu lebih bisa bertahan.

Sampai kapan zona sempadan itu akan bertahan? Situasinya dinamis. Dalam rencana Kementerian PUPR, 35 km dari muara tampaknya akan menjadi zona normalisasi sungai. Tepian Ciliwung di hilir ini akan diturap, ditanggul, dan dilengkapi pula dengan jalan inspeksi.

Tujuannya, agar air sungai lebih cepat hanyut ke muara. Tanggul dan turap itu juga diperlukan agar ketika banjir, air Kali Ciliwung tak melimpas menimbulkan genangan di permukiman warga. Sebagian turap beton itu sudah terbangun, dan menurut rencana akan berlanjut sampai Kawasan Rawajati di Kalibata, Jakarta Selatan. Sempadan sungai di wilayah ini juga praktis telah tersisih oleh perumahan warga yang bahkan makin menjorok ke arah sungai.

Menjaga sempadan Sungai Ciliwung agar tetap utuh  tidak kalah penting dari pengendalian banjir, pengendalian sampah, dan pencegahan longsor. Semua bisa berjalan beriringan.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari