AKUISISI PENGETAHUAN LOKAL
  Peneliti Badan Riset Nasional sedang melakukan penelitian implan di Puspitek Serpong, Tangerang, Banten. Program Akuisisi Pengetahuan Lokal saat ini tengah dilakukan oleh BRIN untuk kepentingan publik. ANTARA FOTO/ Muhammad Iqbal

Riset Pengetahuan Lokal, Siapa Takut?

  •   Selasa, 1 Februari 2022 | 17:36 WIB
  •   Oleh : Administrator

Program “Akuisisi Pengetahuan Lokal” adalah upaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyediakan fasilitas publik berupa buku atau audiovisual berkualitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17.000 pulau dan kekayaan biodiversitas yang terkandung di dalamnya. Indonesia juga merupakan rumah bagi 300 kelompok etnolinguistik dengan 742 bahasa dan 740 suku bangsa. Kekayaan dan warisan budaya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia tersebut mempunyai nilai yang sangat berharga.

Akan tetapi, berbagai potensi kekayaan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini terlihat dari masih minimnya ketersediaan informasi terkait kekayaan berbagai pengetahuan bersumber dari kearifan lokal Indonesia. Oleh karena itu, penting adanya pengakuan dan penghormatan terhadap peran pengetahuan dan kearifan lokal dalam pengembangan sektor pengetahuan di Indonesia. Khususnya sebagai salah satu dasar dalam pembuatan kebijakan berkelanjutan, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Pengetahuan dan kearifan lokal harus menjadi salah satu modal berharga yang berkontribusi pada pembangunan nasional. Segala bentuk pengetahuan, baik yang dihasilkan dari kalangan akademis maupun profesional, pengetahuan lokal termasuk harus dikelola dan dikomunikasikan supaya dapat digunakan dalam pembuatan kebijakan.

Oleh karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Program Akuisisi Pengetahuan Lokal. Ini sejalan dengan perannya sebagai center of excellence melalui penyediaan informasi kredibel dan inovatif. Bukan saja terkait hasil-hasil penelitian, melainkan juga berbagai informasi bermuatan pengetahuan dan kearifan lokal.

Dalam siaran persnya beberapa waktu lalu, pihak BRIN menjelaskan bahwa Program Akuisisi Pengetahuan Lokal ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dan jawaban atas berbagai tuntutan. Terutama, terhadap peran lembaga riset dalam penyelesaian masalah-masalah aktual yang dihadapi bangsa. Khususnya melalui penyediaan produk-produk informasi yang kredibel dan inovatif guna menjaga dan melestarikan pengetahuan dan kearifan lokal Indonesia.

Tujuan program tersebut menyediakan fasilitas publik berupa sumber literasi pengetahuan lokal dalam bentuk buku atau audiovisual berkualitas, serta dapat diakses dan dimanfaatkan secara gratis oleh masyarakat. Program ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk mendokumentasikan dan mengonversi berbagai pengetahuan lokal.

Sehingga dapat meningkatkan visibilitas, aksesibilitas, dan produktivitas publikasi nasional. BRIN pun memberikan penghargaan dan insentif bagi para penulis dan kreator yang terpilih dalam program ini. Penghargaan itu merupakan komitmen lembaga yang dipimpin Laksana Tri Handoko itu atas upaya dan komitmen masyarakat dalam melestarikan pengetahuan lokal melalui publikasi berkualitas.

Dalam menjalankan tujuan tersebut, Penerbit BRIN (LIPI Press) menggunakan sistem akses terbuka (open access) yang menawarkan literatur digital dan online, mudah dicari dan diakses, gratis, serta dapat diunduh secara global. Hal tersebut sejalan dengan prinsip dasar dari sistem open access, memberikan hak komunikasi kepada publik dengan membuat sumber ilmu pengetahuan tersedia bagi publik.

Sistem open access ini dipilih karena terbukti bisa meningkatkan jumlah unduhan, indeksasi, dan juga sitasi. Selain itu, penerbitan open access memungkinkan publik membaca dan memberikan masukan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.

Setiap penulis dan kreator dapat mengirimkan lebih dari satu karya, tentunya dengan judul dan konten yang berbeda. Untuk karya tulis, kategori buku yang dapat diusulkan terdiri dari buku ilmiah, ilmiah populer, buku ajar, atau pegangan.

Kemudian ada pula buku pedoman atau panduan, dan buku cerita bergambar atau komik pengetahuan. Lalu untuk kategori audiovisual ada film dokumenter, film animasi, dan film fiksi serta dokumentasi kreatif inovatif. Tersedia insentif sebesar Rp5 juta-Rp20 juta bagi para penulis dan kreator yang karyanya dipilih oleh BRIN.

Pastikan juga bahwa seluruh karya yang dibuat merupakan produk asli dan terbebas dari praktik pelanggaran hak cipta. Ini diperkuat oleh surat pernyataan bermeterai yang dilampirkan para penulis dan kreator dalam setiap karyanya. Saat ini program tersebut baru saja menyelesaikan periode ketiganya pada November 2021.

Informasi lebih lanjut mengenai Program Akuisisi Pengetahuan Lokal bisa diakses melalui tautan https://linktr.ee/akuisisiBRIN.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari