Bahasa | English


Siang Malam Membangun Bendungan

7 September 2018, 09:34 WIB

Sampai 2018  Pemerintahan Jokowi-JK selesaikan 18 bendungan, 11 lagi  rampung 2019, dan 28 lainnya dalam tahap konstruksi.  Padahal sejak era kolonial hingga 2015, hanya ada 223 bendungan.


Siang Malam Membangun Bendungan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten. Sumber foto: Dok Kementerian PUPR

Setelah mati suri hampir 35 tahun,  Proyek Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, menggeliat kembali. Struktur bendungan kini sudah mencapai 60 persen, bahkan dua terowongan pengalihan arus Sungai Ciherang sudah tuntas  dikerjakan. Target selesai pada 2019 masih terus dipancangkan.

‘’Kita kerjakan tujuh hari seminggu. Sehari paling tidak ada dua shift,’’ ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Bendungan menjadi  prioritas Presiden Joko Widodo dan tergolong proyek strategis. Target yang dipancangkan cukup ambisius: Membangun 65 bendungan. Rinciannya, 49 waduk baru dan melanjutkan 16 proyek lama, seperti di Bendungan Karian yang sudah direncanakan sejak 1980. Dengan mematok anggaran sekitar Rp1 triliun, kelajutan Proyek Karian ini di-kick-off lagi awal 2015.

Seperti bendungan lainnya, Proyek Karian ini juga dihadang masalah. Utamanya, dalam hal pembebasan tanah. Presiden Jokowi maju terus.

Sebagai sebuah bentuk rekayasa tata kelola air, bendungan memberi banyak manfaat. Air limpasan di bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) lebih bermanfaat bila bisa ditampung dalam waduk. Dengan begitu, banjir bisa dikendalikan. Lantas, air waduk bisa digunakan untuk mengairi sawah, pasokan air bersih ke permukiman dan industri, ada produksi listrik dan area genangannya sendiri untuk periwisata serta budidaya perikanan.

Bila selesai nanti, Bendungan Karian ini akan jadi yang terbesar ketiga di Indonesia setelah Jatiluhur dan Jatigede. Daya tampung Waduk Karian itu sendiri mencapai 314,5 m3, dengan areal genangan seluas 1.790 ha (17,9 km2).

Waduk Karian ini bisa mengaliri sawah seluas 22.000 ha dan membangkitkan listrik hidro 1,8 MW. Ditambah lagi, pasokan air baku  sebesar 10 m3/detik untuk kota Cilegon-Serang, dan 9,1 m3/detik lainnya ke Tangerang, Serpong, dan DKI.

Kalau saja Jakarta kebagian 5 m3/detik, dan diasumsikan setiap keluarga mengonsumsi air bersih 500 liter per hari, maka lebih dari 1,7 juta keluarga di ibu kota akan punya air bersih dengan harga yang ekonomis. Eksploitasi air tanah Jakarta bisa berkurang. Kehadiran Bendungan Karian ini akan membuat Banten lebih produktif, dan punya daya saing lebih kuat untuk menarik investasi di sektor industri.

 

Pembangunan waduk itu dilaksanakan di seluruh Indonesia dengan mengacu sisi kelayakan dan prinsip mengurangi ketimpangan antarwilayah. Maka, di provinsi kering Nusa Tenggara Timur, Presiden Jokowi membangun 7 waduk dengan kapasitas total 188 juta m3 air, dengan alokasi biaya Rp5,9 triliun.

Sebagai lumbung beras, Aceh juga kebagian program bendungan. Di sana dilakukan percepatan penyelesaian Bendungan Rajui (Kabupaten Pidie) dan Paya Seunara (Pulau Weh), serta pembangunan dua waduk baru yakni Bendungan Rukoh dan Tiro. Di daerah lumbung beras lainnya, Sulawesi Selatan, tiga waduk sedang dibangun. Yakni, Paseloreng (Kabupaten Wajo), Karalloe (Gowa) dan Panukkulu (Takalar).

Satu demi satu hasilnya pun terlihat. Sentuhan Jokowi membuat Waduk Jatigede Sumedang, Jawa Barat, bisa dioperasikan. Penggenanganya dimulai Agustus 2016 dan bendungan ini beroperasi penuh 2017.

Bendungan terbesar kedua di Indonesia itu bisa menampung air 975,5 juta m3 dari Sungai Cimanuk, dalam areal genangan 30,35 km2. Produknya ialah listrik 110 MW, pengairan untuk 90 ribu ha, air minum untuk jutaan rumah tangga dan pengamanan banjir di daerah hilir seluas 140 km2. Bendungan Jatigede itu mulai dibangun secara bertahap sejak 1982.

Dari 49 waduk yang dirancang di era Presiden Jokowi itu satu demi satu selesai dikerjakan. Salah satunya ialah Bendungan Raknamo, Kabupaten Kupang, NTT, yang  bisa menampung  14 juta m3 air untuk mengairi 1.250 ha tanah pertanian, mengalirkan air baku untuk perusahaan air minum (PAM) sebesar 100 liter/detik dan listrik hidro 0,22 MW.

Presiden Joko Widodo gembira waduk yang dibiayai APBN Rp720 miliar itu cepat selesai. ‘’Tadinya diperkirakan lima tahun. Saya minta empat tahun. Karena kerja siang malam, malah bisa diselesaikan tiga tahun,’’ ujar Presiden Joko Widodo saat meresmikan bendungan itu, Februari 2018.

Dari Kementerian PUPR pun kemudian bergulir kabar gembira bahwa di sepanjang 2018 ada sejumlah bendungan yang siap diresmikan. Selesai dengan Waduk Raknamo di Kupang, Waduk Tanju, Mila, dan Bintang Bano, keduanya di Nusa Tenggara Barat (NTB), lalu Bendungan Rotiklot di NTT. Berlanjut ke Bendungan Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Bendungan Sei Gong di Batam, Bendungan Sindang Heula di Banten, serta Bendungan Paselloreng di Sulawesi Selatan.

Kontruksi bendungan itu semuanya dilengkapi  jaringan irigasinya menuju sawah petani. Memang, dari 65 bendungan dalam program strategis Presiden Jokowi itu tidak semuanya selesai 2019. Diperkirakan baru 29 buah yang rampung sampai 2019. Selebihnya masih dalam tahap konstruksi. Namun, penambahan 29 waduk itu cukup signifikan dan monumental, mengingat sejak dimulainya era industri pertanian di era kolonial sekitar satu setengah abad silam hingga 2014, di Indonesia hanya ada 230 buah bendungan.

Dengan penambahan bendungan itu, produksi pangan diharapkan meningkat. Kondisi saat ini, dari 7,2 juta ha sawah Indonesia hanya 11% yang menerima pasokan air dari bendungan. Lebih dari itu, waduk ini juga bisa menjadi sumber air baku PDAM, sumber listrik, area pariwisata, serta budidaya perikanan. Bendungan juga mengurangi resiko banjir di hilir. Selain, tentunya mengerek daya saing daerah di depan investor. (*)

Ekonomi
Narasi Terpopuler
5 Tahun Membangun Tanah Papua
Pemerintahan Joko Widodo periode 2014-2019 sangat menaruh perhatian terhadap pemajuan masyarakat Papua dan Papua Barat. ...
Wajah Ekonomi Kerakyatan Sangat Kental
Kita melihat wajah pemerintahan yang sangat peduli terhadap ekonomi kerakyatan. Wujudnya, adanya aliran dana ke desa, terciptanya desa mandiri dan penggunaan dana desa yang tepat. ...
Keamanan Membaik, Tapi Politik Masih Berisik
Meski teror meski ada, ancaman terorisme di Indonesia lebih rendah dibanding Jerman, Prancis, dan Inggris. Postur TNI lebih kuat. Tapi, masih ada gangguan hak sipil dan hak politik minoritas. ...
Ada Musik dan Salsa di Kampus Dramaga
Sivitas Akademika IPB meneken Deklarasi Komitmen Kebangsaan. Meski diterpa isu sebagai sarang radikal, IPB bertahan di level papan atas dan menjadi kampus terbaik ke-3 di Indonesia 2019. ...
Ambil Risiko Sesuai Rantai Komando
Berdiri di depan dalam langkah penanggulangan separatisme, HAM, isu khilafah, dan aksi-aksi massa, Jenderal Purnawirawan Wiranto menjadi sasaran ketidakpuasan banyak pihak. Ia memilih ambil risiko itu...
Suara Optimistis pun Datang dari Tanah Papua
Teknologi digital sudah menerobos batasan jarak dan waktu. Bahkan, internet yang cepat adalah keniscayaan yang harus dihadirkan di seluruh wilayah di Indonesia. ...
Lagi, Tiga Bandara Dikelola Angkasa Pura
Tiga bandara Kementerian Perhubungan dikerjasamakan dengan pihak Angkasa Pura. Selain agar pelayanan menjadi prima, juga bisa mengalihkan anggaran APBN untuk pembangunan dan perbaikan bandara di pelos...
Ke Wamena Mereka Kembali
Kota Wamena mulai pulih. Tapi masih sepi. Dari 41 ribu penduduk, 11 ribu mengungsi. Polisi terus mengejar para dalang. Aksi massa diorkrestasi dari LN, dilaksanakan organ bawah, termasuk kelompok bers...
Berlayar di Tataran Praksis dan Konseptual
Mewakili fraksi dengan 128 suara, Ahmad Basarah pegang posisi strategis di MPR. Kiprahnya akan mewarnai proses amandemen terbatas UUD 1945 yang akan dilakukan dalam waktu dekat. ...
Dibentuk Lembaga Pengelola Dana Lingkungan
Pemerintah Indonesia membentuk badan pengelola dana lingkungan hidup. Lembaga ini akan dikelola  secara akuntabel dengan tata kelola berstandar internasional, sehingga dapat menjadi sebuah solusi...