Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


TOPONIMI

Penamaan Sebagai Wadah Memori dan Budaya

Sunday, 30 December 2018

Proses penamaan dan nama senyatanya bukan soal sederhana. Nama seringkali berfungsi menjadi wadah memori, menyimpan sejarah, dan juga makna budaya bagi masyarakat, baik itu terkait suatu benda, tempat, atau peristiwa tertentu.


Penamaan Sebagai Wadah Memori dan Budaya Cover buku 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe. Sumber foto: Istimewa

Suatu siang Gubernur DKI Jakarta bersama lima wali kota mengunjungi daerah Bintaro, di Jakarta Selatan. Kedatangannya disambut meriah warga. Sang Gubernur langsung orasi berapi-api. Tiba-tiba seorang remaja menginterupsi.

“Maaf, Pak Gubernur, saya mau tanya mengapa daerah tempat tinggal kami ini disebut Bintaro?"

Ternyata Gubernur tak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Tak ketinggalan, lima wali kotanya yang saat itu menyertai kunjungan pun geming. Mereka kelihatan bingung, lalu saling pandang, tersipu-sipu. Remaja yang bertanya tadi tampak kecewa sekali. Kemudian diapun segera bergegas pergi meninggalkan lokasi.

Petikan di atas diambil dari pengantar sebuah buku. Berjudul ‘212 Asal-usul Djakarta Tempo Doeloe’ terbit 2012. Ditulis oleh Zaenuddin H Mahmud. Sayangnya tidak pernah dipaparkan lebih jauh, apakah kasus tersebut adalah faktual ataukah sekadar ilustrasi.

Masih seputar nama suatu tempat dan Gubernur DKI Jakarta. Baru terjadi setahun berselang, pada awal 2018 terbetik berita Komunitas Betawi Kita dan sejarahwan menolak kebijakan Wali Kota Jakarta Selatan terkait rencana penggantian nama Jl Mampang Prapatan Raya dan Jl Buncit Raya menjadi Jl Jenderal Besar DR AH Nasution.

Dasar argumentasi penolakan mereka adalah perubahan nama itu dapat menggerus makna sejarah dan kebudayaan masyarakat Betawi yang terpatri kuat pada kedua nama jalan. Bagaimanapun, nama ‘Mampang Prapatan Raya’ dan ‘Buncit Raya’ merupakan manifestasi dari nama-nama kampung Betawi di Jakarta.

Dalam petisi penolakan itu mereka menegaskan, sudah seperempat abad terakhir ini banyak nama kampung dan jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi nisbi telah lenyap dan berganti nama baru. Belajar dari kasus itulah, mereka menolak rencana penggantian dan pemberian nama baru terhadap Jl Mampang Prapatan Raya dan Jl Buncit Raya.

Mengantisipasi pro dan kontra yang semakin tajam, Gubernur DKI Jakarta kemudian menunda keputusan rencana pergantian nama jalan dan menghentikan proses sosialisasinya.

Dari dua kasus di atas tampak bahwa urusan tentang penamaan dan nama nyatanya tidak sesederhana dugaan sastrawan besar Inggris dari abad ke-17, William Shakespeare, yang sohor dengan kalimat bersayapnya “What is in a name?”. Frasa ini sering diterjemahkan sebagai “Apalah arti sebuah nama?”.

Pada realitasnya, penamaan dan nama memiliki signifikansi bagi kehidupan manusia. Sebuah proses penamaan dan nama senyatanya seringkali berfungsi menjadi wadah memori, menyimpan sejarah, dan juga makna budaya bagi masyarakat, baik itu terkait suatu benda, tempat, atau peristiwa tertentu.

Kembali merujuk buku Zaenuddin H Mahmud, dikatakan bahwa Mampang Prapatan yang merupakan nama kelurahan dan kecamatan di Jakarta Selatan itu secara etimologis berasal dari dua kata. Yakni, ‘mampang’ yang berarti terpampang atau terlihat jelas, dan ‘prapatan’ yang berarti perempatan jalan.

"Mungkin maksudnya, kawasan tersebut adalah simpang empat jalan yang sangat mudah terlihat dengan jelas terutama bagi para pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor yang melintas di kawasan itu," tulis Zaenuddin.

Sedangkan Jl Buncit Raya atau yang juga dikenal dengan sebutan ‘Warung Buncit’ merupakan jalan terusan dari Mampang ke arah Ragunan. Menurut Zaenuddin, dulunya merupakan kawasan pertanian yang mayoritas penduduknya beretnis Betawi. Nama kawasan ini sebenarnya ialah Kampung Pulo Kalibata.

Di kampung Pulo Kalibata itu-lah terdapat warung yang pemiliknya seorang beretnis Tionghoa yang bernama Bun Tjit.  Jadi mudah diterka, nama kawasan itu berasal dari nama Pak Bun Tjit tersebut.

Warung yang kira-kira dulu lokasinya di perempatan Jl Duren Tiga, atau di sekitar perbatasan Jl Mampang Prapatan dengan Jl Buncit Raya tersebut, diceritakan menjual segala kebutuhan rumah tangga. Dari sembako, minyak lampu, alat pertanian, hingga perkakas pertukangan. Dalam catatan sejarah, Bun Tjit disebut menikah dengan seorang perempuan etnis Betawi dan punya dua anak.

"Usaha warung Bun Tjit menjadi berkembang pesat dan semakin lama orang menyebutnya ‘warung milik Buncit’. Tanpa disadari perkembangan kampung juga semakin ramai seramai dan semaju warung itu, sehingga lama kelamaan orang lebih mengenal nama ‘Warung Buncit’ dari pada nama asli kampung itu sebelumnya," tulis Zaenudin.

Dari fenomena itu dapat disaksikan, bahwa fungsi penamaan dan nama ialah sebagai bagian dari konstruksi pembentuk identitas sebuah kelompok tertentu. Identitas ini tentu saja juga berkaitan dengan bagian diri seseorang yang bersifat psikologis. Penolakan masyarakat Betawi muncul dan didorong oleh ikatan emosional, yang telah terbangun sebegitu rupa antara individu atau kelompok dengan identitas yang ada pada nama tempat tersebut.

Sedangkan bicara soal pertanyaan remaja di Bintaro pada Gubernur DKI Jakarta dan lima wali kotanya, nama itu berasal dari nama kelurahan yang sudah ada sebelumnya, Kelurahan Bintaro.

Bernama lengkap Bintaro Jaya, kawasan itu merupakan sebuah kota mandiri yang pertama dibangun di Jabodetabek pada 1979. Kota Bintaro Jaya dikembangkan oleh PT Jaya Real Property. Pada awalnya kota mandiri ini dikembangkan di area Jakarta Selatan saja, namun kemudian meluas hingga ke Tangerang Selatan. Walhasil, kawasan peruhaman itu mencapai areal seluas 2.000 hektar.

Nama kelurahan itu sendiri ternyata berasal dari nama sebuah pohon bernama Bintaro. Pohon yang fungsi utamanya ialah sebagai peneduh jalan, kemungkinan besar dulunya banyak ditemui tumbuh di sekitar daerah sana. Sementara itu, tambahan nama “Jaya” jelas diberikan terkait dengan nama perusahaan pengembang atas kota mandiri tersebut. (W-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...