Bahasa | English


TARI DAERAH

Ratoh Jaroe, Tari Penyambutan Tamu Penting

21 November 2018, 18:26 WIB

Banyak yang menyebutnya sebagai tari Saman. Padahal sejatinya tari itu dan tari Saman relatif memiliki perbedaan.


Ratoh Jaroe, Tari Penyambutan Tamu Penting Tarian Ratoh Jaroe dari Nanggroe Aceh Darussalam. Sumber foto: Pesona Indonesia

Namanya Tari Ratoh Jaroe. Tarian itu berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Biasanya tari itu ditampilkan dalam acara penyambutan tamu penting di Aceh dan juga sebagai hiburan. Kini, tari ini banyak diajarkan dalam ekstrakulikuler sekolah dan universitas.

Banyak orang yang menyebut tarian Ratoh Jaroe sebagai Tari Saman. Memang ada kemiripan antara kedua tarian tersebut, baik gerakan badan dan tangannya. Tapi sebenarnya, jika diperhatikan dengan seksama, perbedaan akan tampak jelas.

Pada tari saman, gerakan badannya lebih menonjol. Sedangkan di tari Ratoh Jaroe dominan dengan gerakan tangan yang digabung dengan gerakan badan.

Bukan hanya gerakan, sejarah tari Saman pun berbeda dengan tari Ratoh Jaroe. Tari Ratoh Jaroe merupakan tarian “pendatang baru” di Aceh dan belum menjadi tari tradisional. Tarian itu dikembangkan Yusri Saleh atau sering disebut dengan Dek Gam dari Aceh, pada tahun 2000.

Dek Gam dari Aceh, memilih hijrah ke Jakarta dengan tujuan mencari nafkah di Ibu Kota, dengan membawa alat musik tradisional Aceh bernama Rapa’i. Singkat cerita, kemudian Ratoh Jaroe terkenal di Jakarta. Gerakan yang ada di Ratoh Jaroe diangkat dari berbagai tarian yang ada di Aceh, seperti Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Rapai Geleng, dan tari asal Aceh lainnya.

Ratoh Jaroe dibuat untuk membangkitkan semangat para wanita Aceh, yang dikenal pantang menyerah, pemberani, dan kompak satu sama lain. Setiap gerakan yang seirama dan teriakan yang meledak-ledak merupakan ekspresi dari semangat dan tekad kuat para perempuan Aceh. Tari ini memang memiliki arti mendalam, yaitu mencerminkan puji-pujian dan zikir kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pembeda lain kedua tarian ini juga terletak pada penarinya. Tari Ratoh Jaroe dimainkan oleh para perempuan yang biasanya berjumlah genap. Sedangkan Saman dimainkan oleh para laki-laki.

Ratoh Jaroe diiringi dengan musik rapa’i yang merupakan instrumen perkusi asli Aceh yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik rapa’i terbuat dari bahan dasar kayu dan kulit binatang, berbentuk rebana yang ditabuh oleh seorang yang disebut dengan Syahi.

Tarian yang sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya Internasional, sejak 2011, ditarikan dengan kompak oleh para penari, dari tempo pelan hingga tempo cepat. Para penari biasanya menari sambil mendendangkan lagu dan menepuk-nepuk dada, menjentikkan jari sambil menggeleng-gelengkan kepala, dengan posisi duduk, sesekali berdiri di atas lutut mereka, kemudian sesekali juga membungkukkan badan.

Para penari menyesuaikan irama tabuhan rapa’i, dan kerap melantunkan syair juga untuk membalas syair dari syahi. Kadangkla, terdengar pula suara melengking dari salah satu penari yang merupakan ciri khas dari tari Ratoh Jaroe.

Para penari Ratoh Jaroe biasanya menggunakan kostum polos berwarna kuning, hijau, merah, dan lainnya yang dipadukan dengan songket khas Aceh, dan menggunakan hijab lengkap dengan ikat kepala polos berwarna.

Tarian yang mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan ini sukses memukau jutaan mata di pembukaan acara internasional Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan, Agustus lalu. Tampil seirama dan kompak, sekitar 1.600 penari wanita dari berbagai SMA di DKI Jakarta berhasil membawakan tarian Ratoh Jaroe dengan sukses.

Tanah Air Indonesia penuh akan khazanah budaya dan kesenian rakyat. Terdapat banyak jenis kesenian yang dapat kita banggakan. Sudah sepatutnya kita selalu menjaga keragaman budaya kita sendiri supaya tidak lagi dijarah dan diambil negara lain.

Budaya
Ragam Terpopuler
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...
Dunia Butuh Lada Jambi Sebagai Bumbu Masak
Jambi sudah lama dikenal sebagai sentra terpenting daerah penghasil lada Nusantara. Banyak negara Eropa bersaing keras k menguasai perdagangan rempah-rempah Indonesia. Negara-negara tersebut adal...