Bahasa | English


ETIMOLOGI

9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing

5 September 2019, 11:48 WIB

"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungkin jika merujuk komposisi penyusun kebahasaan bahasa nasional maka bentuk nasionalisme Indonesia sebenarnya bersifat kosmopolitan"


9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing Ilustrasi. Foto: Shutterstock

Penelitian genetika membuktikan tak ada pemilik gen murni di Nusantara. Manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika yang awalnya berasal dari Afrika. Bahkan lebih jauh, agaknya tak mungkin melabeli kelompok tertentu sebagai manusia asli Indonesia. Sebab, tak ada pemilik gen murni di Nusantara. Ya, manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika.

Demikianlah, simpulan Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, setelah melakukan kerja besar melakukan pemetaan DNA masyarakat di Indonesia.

Kesimpulan itu dirumuskan setelah Herawati dan koleganya mengumpulkan dan menganalisis kurang lebih 6.000 sampel DNA dari beberapa lokasi di Indonesia. Lebih dari 3700 individu dari 35 etnis diuji DNA mitokondria-nya, hampir 3000 juga diuji untuk kromosom Y-nya.

Ini berarti, jikalau ada politikus atau tokoh masyarakat yang menggunakan propaganda “lebih utamakan pribumi” untuk jabatan publik, mudah diduga dia pasti sedang berilusi bahwa seolah-olah ada orang atau anggota masyarakat yang “murni pribumi”. Atau sekiranya bukan berilusi, maka bisa dipastikan dia tengah memanipulasi kesadaran warga demi ambisi dan tujuan pribadinya belaka.

Menariknya, kesimpulan atas penelitian berbasis DNA ini sebenarnya juga memiliki kesamaan dengan kajian asal usul pembentuk Bahasa Indonesia. Bagaimana tidak, bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam kegiatan perdagangan di Nusantara sejak abad ke-7 ini, bisa dikata memiliki banyak bahasa serapan yang berasal dari banyak bahasa asing.

Meyimak buku berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing karya Alif Danya Munsyi atau populer dikenal dengan nama Remy Sylado, tampak nyata bahwa bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia itu dibentuk oleh interaksi bahasa yang merupakan hasil interaksi antar bangsa-bangsa sejak kurun waktu yang lama.

Namun sebelum memindai lebih jauh soal asal-usul kata atau lema dalam Bahasa Indonesia, maka ada baiknya disimak terlebih dulu batasan istilah asing yang dipakai oleh Sylado. Dia tentu menyadari, walau berlebihan, tapi judul itu bukan bergurau. Dalam bukunya berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, yang juga sengaja dipinjam sebagai judul artikel ini, disebutkan yang dimaksud sebagai asing di sini ialah:  bukan saja bahasa-bahasa Eropa (Belanda, Portugis, Inggris, Perancis, Spanyol, Yunani, dan Italia), atau bahasa-bahasa Asia ( Sansekerta, Arab, Tionghoa, Tamil, Persia, dan Ibrani), melainkan juga bahasa-bahasa daerah Indonesia sendiri (Jawa, Minangkabau, Betawi, Sunda, Bugis-Makasar, Batak dan lain-lain).

Mari kita simak sejauh mana serapan bahasa-bahasa asing telah masuk dan mewarnai kuat Bahasa Indonesia. Mari kita kutip paparan Sylado dalam bukunya yang menarik itu.

"Meski hari gerimis, setelah sembahyang lohor, para santri mengayuh roda sepedanya ke pasar, disuruh paderi membeli koran dan majalah, tetapi ternyata kiosnya disegel sebab bangkrut, jadi mampirlah semuanya di toko buku yang uniknya malah menyediakan perabotan khusus keluarga yang ditaburkan di meja baca, antara lain teko porselen, peniti emas, lap, setrika listrik, serta kalender berfoto artis idola". Mari kita simak satu per satu kata-kata dalam cerita tersebut.

Meski (Portugis: masque), hari (Sanskerta: gelar dewa pengatur surya), setelah (Kawi: telas), sembahyang  (Sanskerta: sembah hyang), lohor (Arab: dzuhur), para (Kawi: para), santri (Tamil: santri), mengayuh (Minangkabau: kayuh), roda (Portugis: roda), sepeda (Perancis: velocipede), pasar (Persia: bazar), disuruh (Kawi: suruh), paderi (Spanyol: padre), membeli (Campa: blei), koran (Belanda: krant), majalah (Arab: majalla), tetapi (Sanskerta; tad-api), ternyata (Jawa: nyata), kiosnya (Inggris: kiosk), disegel (Belanda:  zegal), sebab (Arab: sababun), bangkrut (Italia: bancarotto), jadi (Sanskerta: jati), mampirlah (Jawa: mampir), semuanya (Sanskerta: samuha), toko (Tiongkok: to-ko), buku (Belanda: boek), yang (Austronesia: ia + ng), uniknya (Perancis: unique), malah (Jawa: malah), menyediakan  (Sanskerta: sedya), perabotan (Betawi: perabot), khusus (Arab: khusus), keluarga (Sanskerta: kula warga), ditaburkan (Ibrani: tabbwur), meja (Portugis: meza), baca (Sanskerta: waca), antara (Sanskerta: antara), lain (Kawi: liyan), teko (Tionghoa: te-ko), porselen (Inggris: porcelain), peniti (Portugis: alfinete), emas (Sanskerta: amasha), lap (Belanda: lap), setrika (Belanda: strijkezer), listrik (Belanda: elektrisch), serta (Sanskerta: saratha), kalender (Belanda: kalender), berfoto (Yunani: photo), artis (Inggris: artist), idola (Yunani: eidolon).

Contoh lain, simaklah kalimat model 'kontak' dari sebuah harian nasional ternama. "Gadis, 33, Flores, Katolik, sarjana, karyawati, humoris, sabar, setia, jujur, anti merokok, anti foya-foya, aktif di gereja. Mengidamkan jejaka maks 46, min 38, penghasilan lumayan, kebapakan, romantis, taat, punya kharisma."

Mari kita simak lagi satu per satu kata-kata dalam kalimat di atas.

Gadis (Minangkabau: tuan gadis, panggilan perempuan turunan raja), Flores (Portugis: floresce), Katolik (Yunani: katolikos), sarjana (Jawa: sarjana), karyawati (Sanskerta: karyya), humoris (Latin: humor + Belanda: isch),  sabar (Arab: shabran), setia (Sanskerta: satya), jujur (Jawa: jujur), anti (Latin: anti), merokok (Belanda: roken), foya-foya (Menado: foya), aktif (Belanda: actief), gereja (Portugis: igreja). Mengidamkan (Kawi: idam), jejaka (Sunda: jajaka), maks (Latin: maksimum), min (Latin: minimum), penghasilan (Arab: hatsil), lumayan (Jawa: lumayan), kebapakan (Tionghoa: ba-pa), romantis (Belanda: romantisch), taat (Arab: thawa'iyat), punya (Sanskerta: mpu + nya), kharisma (Yunani: kharisma).

Apa yang patut digariabawahi di sini ialah, di dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga terlihat merupakan produk bahasa Indo. Demikian hipotesa Sylando. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungkin jika merujuk komposisi penyusun kebahasaan bahasa nasional maka bentuk nasionalisme Indonesia sebenarnya justru bersifat kosmopolitan.

Lebih jauh, kita pun dapat berandai-andai meluaskan imaginasi kita sebagai negara-bangsa Indonesia. Bahwa, jikalau karakter nasionalisme dan rasa kebangsaan bangsa Indonesia sedikit banyak juga tercermin pada ekspresi kebahasaan bahasa nasionalnya, maka semestinya bagi bangsa ini bersikap chauvinistik dan anti asing secara berlebihan justru merupakan sikap yang asing.

Melihat fakta kebahasaan Bahasa Indonesia di atas, di sini apa tidak lebih baik sekiranya bicara budaya nasional sebagai kebudayaan Indonesia berarti bicara tentang hari esok, yaitu Indonesia dan keindonesiaan sebagai realitas menjadi (becoming), ketimbang melulu bicara sebagai kebudayaan masa lalu. Berfikir tentang budaya bukanlah berarti harus menyempit ke masa lalu yang tradisional, tetapi lebih penting untuk berpikir soal bagaimana melayani kemajuan di masa mendatang. (W-1)

Sosial
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...