Bahasa | English


KONSERVASI SATWA

Bekantan, Si Hidung Besar Nan Mempesona

31 October 2019, 09:51 WIB

Berayun dari satu pohon ke pohon lainnya, si perut buncit nampak mempesona dan mencuri perhatian bagi siapa saja yang melihatnya pertama kali. Hidung besar, panjang dan rambut berwarna coklat kemerahan, membuat binatang ini nampak stylist. Itulah sosok bekantan, hewan asal Pulau Borneo yang eksotik.


Bekantan, Si Hidung Besar Nan Mempesona Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo. Foto: Fauna Indonesia

Pulau Borneo atau Kalimantan, menyimpan banyak kekayaan bila diurai. Salah satu kekayaan keanekaragaman hayati Kalimantan adalah bekantan atau Nasalis Larvatus. Saat ini populasi bekantan sudah sangat mengkhawatirkan, diperkirakan hanya 20 ribuan di Pulau Borneo, Sabah, Brunei, dan Serawak.

Spesies primata satu ini adalah primata langka dan endemik Kalimantan. Saat ini IUCN Redlist mengkategorikan hewan ini dalam status konservasi “Terancam” (Endangered). Satwa ini dijadikan maskot (fauna identitas) provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990.

Banyak sebutan nama yang dimiliki bekantan  dari berbagai daerah dan negara. Orang Inggris menyebutnya Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Di Malaysia disebut dengan nama Kera Bekantan, Bangkatan untuk Bruney, dan Neusaap di Belanda. Orang Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama untuk si kera seksi satu ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng, dan Kahau.

Ciri khas yang sangat mencolok selain memiliki hidung besar, ternyata punya perbedaan fisik antara betina dan jantan.  Untuk bekantan jantan hidung yang dimiliki lebih besar daripada yang betina tapi hidung betina tidak sekecil monyet. Hidung bekantan jantan begitu besar yang terlihat menggantung di atas mulut. Bila ingin makan si jantan ini harus mendorong hidungnya keluar dari mulut agar dapat meletakkan makanan ke dalam mulut mereka.

Selain itu, bekantan pandai memainkan ekspresi dalam berbagai kondisi, seperti saat marah dan gembira maka hidung mereka akan membengkak dan berubah merah. Bila dalam keadaan bahaya bekantan akan mengeluarkan suara mirip klakson mobil yang keras seperti peringatan dan hidung mereka akan menonjol lurus. Bagi bekantan hidung memiliki fungsi sebagai resonator ketika bekantan bersuara.  

Perut besar yang dimiliki bekantan membuat sistem pencernaan mereka bisa memakan daun sebagai pasokan makanan utama mereka. Di dalam perut terdapat bagian-bagian penuh dengan bakteri yang mencerna selulosa. Bakteri ini membantu mencerna daun dan menetralkan racun dalam daun tertentu. Besar perut bekantan seperempat dari berat badannya, sehingga tak heran bila bekantan terlihat hamil permanen.

Tinggi bekantan jantan 2 sampai 2,5 kaki (66-72 cm), dan beratnya 16-23 kg, sementara betina 1,7-2 kaki (53-61 cm) panjang dan beratnya hanya 7-11 kg. Ekornya sama panjang dengan badan bekantan. Hewan ini juga dikenal sebagai hewan yang senang hidup berkelompok 12-27 ekor, ada juga yang memiliki anggota 60 sampai 80 jantan dan betina. Kelompok-kelompok bekantan tidak memiliki banyak struktur untuk tingkatannya. Sistem sosial bekantan memiliki dua tingkat, satu kelompok yang anggotanya jantan semua yang terdiri dari

anak, remaja dan jantan dewasa. Jantan remaja akan meninggalkan kelompok pada umur sekitar 18 bulan, dan bergabung dengan kelompok yang semua anggotanya jantan .

Selalu Menjadi Maskot

Bulu bekantan coklat kemerahan di punggung dan bahu, hingga di bagian tengah. Dada mereka berwarna krem, juga kerah krem leher dan pinggang sampai pantat dan ekornya. Lengan dan kaki bekantan yang panjang dengan kulit tangan dan kaki abu-abu. Warna oranye makin mencuri perhatian dengan menutupi sebagian bahu dan ada semacam topi bulu merah gelap menutupi kepala bekantan.

Tak hanya itu keunikan yang dimiliki bekantan. Wajahnya juga unik karena berwarna merah-daging dengan mata kecil cokelat yang cerdas. Telinganya kecil dan lurus ke atas kepala mereka. Keunikan bekantan ini, membuat bekantan sering dijadikan maskot oleh pemerintah dan swasta, seperti di Asian Games, Dunia Fantasi, dan maskot provinsi Kalimantan Selatan. Hal ini tidak lepas dari banyak pihak agar kita melestarikan bekantan yang saat ini hampir punah.

Bekantan melahirkan satu bayi dalam satu musim. Periode kehamilan mereka adalah sekitar 166 hari. Biasanya mereka melahirkan bayi pada malam hari dan bayi yang baru lahir memiliki wajah biru dan bulu hampir hitam yang masih jarang-jarang.  Di usia 3 sampai 4 bulan terjadi perubahan warna pada anak bekantan, semua itu menandakan mereka sudah dewasa.

Para betina saling bekerja sama, dimana mereka saling menjaga dan menyusui anak-anak bekantan lain. Bayi ini baru bisa lepas dari sang ibu setelah satu tahun, di saat sang ibu sudah memiliki bayi lainnya. Bekantan jantan akan mencapai kematangan seksual pada sekitar 4-5 tahun dan betina dalam empat tahun. Saat itu usia mereka sekitar 20 tahun.

Bekantan masuk dalam keluarga spesies Genus Nasalis yang memiliki dua subspecies Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis.Untuk Nasalis larvatus larvatus tinggal hampir di seluruh bagian pulau Kalimantan, sedangkan Nasalis larvatus orientalis berdiam di bagian timur laut dari Pulau Kalimantan. Bekantan dikenal sebagai hewan yang sulit ditangkap, lebih senang tingggal di hutan campuran, hutan bakau, hutan mangrove, hutan dataran rendah dekat air tawar, dan sungai.

Hewan ini lebih memilih beristirahat dan tidur di hutan tak jauh dari aliran air. Mereka biasanya menghindari daerah-daerah terbuka dan pemukiman manusia. Bekantan biasanya tidak bergerak lebih jauh dari 1.969 kaki (600 m) dari sungai atau perairan. Bekantan dikenal sebagai perenang terbaik, tetapi berenang bila diperlukan saja.

Pada tahun 1994, populasi bekantan di Kalimantan ditaksir sejumlah 114.000 ekor (Bismark, 2002). Namun dalam simposium PHVA bekantan tahun 2004, populasi bekantan ditaksir tinggal 25.000 ekor, dan yang berada di kawasan konservasinya 5.000 ekor. (K-RG)

Konservasi Satwa
Ragam Terpopuler
Mengembangkan Biodiversitas Menjadi Bioproduk
Selama beberapa dekade terakhir, para peneliti berfokus pada penemuan obat dari herbal atau sumber tumbuhan. Penelitian termutakhir, misalnya, kandidat immunomodulator Covid-19 yang sudah diuji klinis...
Keindahan dan Sejarah Mutiara di Bibir Pasifik
Morotai menyimpan peninggalan sejarah puing dan alat tempur dari Perang Dunia II serta memiliki keindahan alam bawah laut dengan keanekaragaman biota dan terumbu karang.    ...
Mengembalikan Kejayaan Ai Kamelin
Bernilai ekonomi tinggi membuat eksploitasi tanaman cendana menjadi berlebihan. IUCN pada 1997 menetapkan cendana Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi risiko kepunahan (vulnerable). ...
Pesona Koto Tinggi, Nagari yang Pernah Jadi Ibu Kota Negara
Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa.   ...
Hap! Melayang Sejenak Bagai Burung
Selama beberapa detik pertama kita pasti akan tertegun karena akhirnya bisa seperti burung, terbang di kesenyapan alam ditemani embusan sejuk angin pegunungan. ...
Jejak Panjang Telaga Biru
Ada sekitar 6.200 bekas galian tambang timah yang belum direklamasi di Bangka dan ribuan lainnya di Belitung. Kolam baru masih bermunculan. Sebagian menjadi danau biru yang indah. ...
Menjaga Ikan Manta Tetap Menari
Setiap induk ikan pari manta hanya melahirkan seekor anakan dalam rentang waktu dua hingga lima tahun sekali. Sayangnya, perburuan hewan itu masih saja terjadi. ...
Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi
Kerajinan bordir Sumbar mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga awal 1990. Salah satu produk kerajinan bordir Sumbar yang terkenal adalah kerancang. ...
Ceumpala Kuneng Kebanggaan Aceh
Maraknya perburuan dan pembalakan hutan membuat populasi ceumpala kuneng di hutan liar Aceh menjadi semakin terdesak. Kini satwa itu berstatus terancam punah. ...
Sensasi Nasi Tutug Oncom Khas Tasikmalaya
Awalnya nasi tutug oncom adalah menu makanan harian bagi masyarakat kelas bawah di tanah Sunda pada era 1940-an. Rasanya yang enak membuat lambat laun makanan ini naik kelas. ...