Bahasa | English


KEANEKARAGAMAN HAYATI

Indonesia Memiliki Tiga Spesies Orangutan

30 July 2019, 01:49 WIB

Melalui kemajuan teknologi di bidang genetika dan penelitian mendalam baik secara morfologi, ekologi, serta perilaku orangutan, belakangan diketahui orangutan tapanuli memiliki ciri-ciri berbeda dengan ciri umum orangutan sumatra. Diberi label Pongo tapanuliensis, “spesies baru” ini hanya ditemukan di ekosistem Batang Toru di tiga kabupaten, yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.


Indonesia Memiliki Tiga Spesies Orangutan Pongo Abelii. Foto: Istimewa

Orangutan merupakan satu-satunya primata jenis kera besar di Asia. Tiga kerabat lainnya dalam satu gugus famili Hominidae, yaitu gorila, simpanse, dan bonobo, hidup dan tersebar di Afrika. Konon, 20 ribu tahun yang lalu sebaran populasi orangutan bisa ditemui di seluruh daratan Asia Tenggara. Namun perjalanan evolusi ternyata membuat sebaran populasi kera besar ini 90 persen lebih eksistensinya berada di Indonesia. Itupun hanya terbatas di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Bisa dikata, orangutan ialah salah satu spesies endemik Indonesia.

Awalnya hingga akhir abad ke-19 orangutan masih bertahan dengan menyandang satu nama ilmiah, yaitu Pongo pygmaeus. Namun sejak 1980-an, berdasarkan kajian morfologi dan cranial, telah terlihat adanya perbedaan antara orangutan di Pulau Sumatra dan Kalimantan sebagai dua spesies yang berbeda. Telah dipisahkan secara geografis, setidaknya selama 8.000 – 10.000 tahun lalu ketika permukaan laut meningkat dan memisahkan kedua pulau itu, kedua orangutan itu memang memiliki morfologi dan perilaku yang berbeda.

Sejak itu juga para ilmuwan sepakat, menggolongkan orangutan yang hidup di Pulau Sumatra sebagai Pongo abelii, sedangkan orangutan yang hidup di Pulau Kalimantan sebagai Pongo pygmaeus. Di Sumatra sebaran orangutan hanya menempati bagian sisi utara pulau tersebut. Yaitu dari Timang Gajah, Aceh Tengah, hingga daerah Sitinjak di Tapanuli Selatan. Sementara itu, sebaran orangutan di Kalimantan ditemukan di hampir seluruh hutan dataran rendah, kecuali Kalimantan Selatan, Brunei Darussalam, dan sedikitnya ditemukan di Sabah dan Serawak, Malaysia.

Spesies orangutan kalimantan terdiri dari tiga subspecies, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus, ditemukan berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii ditemukan dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito, dan Pongo pygmaeus morio, tersebar mulai dari Sabah sampai ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Pongo pygmaeus. Foto: Istimewa

Spesies Baru

Sejalan semakin pesatnya perkembangan kemajuan teknologi di bidang ilmu genetika, kini nyata semakin banyak ditemukan bukti-bukti baru perihal spesies orangutan. Bukan hanya semata mengukuhkan adanya perbedaan DNA di antara kedua orangutan di Pulau Sumatra (Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus), melainkan lebih dari itu. Ternyata di Pulau Sumatra juga ditemukan “spesies baru” orangutan.

Melalui kemajuan piranti teknologi di bidang genetika dan penelitian mendalam baik secara morfologi, ekologi, serta perilaku orangutan, belakangan barulah diketahui orangutan di Tapanuli memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan ciri umum orangutan sumatra. Uniknya secara taksonomi malah lebih dekat dengan orangutan kalimantan. Diberi label tersendiri sebagai Pongo tapanuliensis, “spesies baru” ini hanya ditemukan di ekosistem Batang Toru di tiga kabupaten, yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Penemuan ini diawali dari penelitian populasi orangutan sumatra, sebagai hasil kerja sama antara KLHK, LIPI, IPB, Universitas Nasional, serta Yayasan Ekosistem Lestari-Program Konservasi Orangutan Sumatra (YEL-SOCP), yang telah berlangsung sejak 1997. Sebelumnya orangutan di hutan Tapanuli dianggap sebagai populasi orangutan paling selatan dari orangutan sumatra, yaitu termasuk spesies Pongo abelii.

Merujuk sumber sumatranorangutan.org, perbedaan genetika adalah alasan pertama untuk menjadikan orangutan tapanuli sebagai spesies tersendiri yang berbeda dengan spesies Pongo abelii. Konon, secara historis pemisahan genetika dari orangutan sumatra terjadi sekitar 3,38 juta tahun silam, sedangkan pemisahan dari orangutan kalimantan terjadi sekitar 670.000 tahun yang lalu. Penelitian itu juga mengindikasikan, orangutan tapanuli justru merupakan moyang dari kera besar tersebut.

Beberapa ahli memperkirakan, sejarah geologis Danau Toba yang terbentuk dari beberapa letusan gunung api yang terjadi sekitar 1,2 juta tahun lampau telah menyebabkan terjadinya proses pemisahan populasi orangutan sumatra. Bukan saja pada akhirnya menimbulkan perbedaan genetik di antara mereka, tapi juga morfologi dan perilakunya. Menariknya, hasil penelitian Alexander Nater dkk (2011) menunjukkan adanya bukti bahwa secara genetik spesies orangutan tapanuli justru lebih dekat dengan spesies orangutan kalimantan.

Mengapa justru bisa terjadi demikian? Sayangnya, banyak hal belum sepenuhnya tereksplanasi. Namun ditemukannya perbedaan genetis dalam populasi orangutan sumatra setidaknya jelas membuktikan, bahwa orangutan di Pulau Sumatra sendiri terdapat dua spesies. Ini artinya, dengan adanya penemuan Pongo tapanuliensis, berarti bersama Pongo abelii dan Pongo pygmaeus yang telah ditemukan terlebih dulu, di bumi Indonesia terdapat tiga spesies orangutan.

Pongo Tapanuliensis. Foto: Wikipedia

Dibandingkan orangutan lainnya, populasi Pongo Tapanuliensis sangatlah kecil. Berdasarkan riset terakhir, di habitatnya tinggal tersisa sekitar 800 ekor. Merujuk situs International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa yang sebagian besar habitatnya berada di atas 850 meter ini telah masuk daftar merah dengan keterangan sangat terancam punah (critically endangered).

Usia hidupnya ditaksir mencapai umur 50-60 tahun. Dengan perilaku betina orangutan tapanuli baru punya anak pertama di usia 15 tahun, dan jarak antarmelahirkan anak sekitar 8 atau 9 tahun, maka bicara upaya konservasi sudah tentu membutuhkan kerja ekstra keras dari semua pihak.

Bicara karakteristik utama yang membedakan antara orangutan sumatra dan kalimantan ialah jikalau orangutan sumatra cenderung tinggal di pohon-pohon dan orangutan kalimantan tak sekali dua turun dari pohon dan menginjak tanah.

Sejauh ini, orangutan sumatra jantan memiliki bobot maksimal rata-rata 90 kg. Sementara itu, orangutan kalimantan jantan lebih besar, yakni berbobot maksimal rata-rata 150 kg. Tubuh orangutan sumatra yang lebih kecil juga memudahkan mereka hidup di pohon. Sedangkan bobot orangutan betina nisbi cenderung lebih kecil, yakni sekitar 30-50 kg atau sama dengan sepertiga bobot pejantan.

Warna dan bulu orangutan sumatra cenderung lebih terang jikalau dibandingkan dengan orangutan kalimantan. Orangutan sumatra berwarna coklat agak oranye, sedangkan orangutan kalimantan cenderung berwarna coklat gelap. Bulu orangutan sumatra juga cenderung lebih tebal daripada kerabatnya di Kalimantan.

Sedangkan bicara karakter morfologis orangutan tapanuli jikalau dibandingkan dengan dua spesies orangutan lainnya, setidaknya ditemukan beberapa ciri khas pembeda. Yaitu, pertama, tengkorak dan tulang rahang orangutan tapanuli ternyata lebih halus daripada orangutan sumatra dan orangutan kalimantan.

Kedua, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) memiliki ukuran tubuh dan warna rambut yang menyerupai orangutan sumatra, namun mereka memiliki rambut kusam, kepala lebih kecil, dan wajah datar. Ketiga, bulunya lebih tebal dan keriting, di mana orangutan tapanuli jantan memiliki kumis dan jenggot yang menonjol dengan bantalan pipi berbentuk datar yang dipenuhi oleh rambut halus berwarna pirang.

Keempat, orangutan tapanuli jantan memiliki panggilan jarak jauh (long call) yang berbeda dengan panggilan jantan dari kedua jenis orangutan lain. Dan kelima, orangutan tapanuli ternyata juga memakan jenis tumbuhan yang selama ini belum pernah tercatat sebagai sumber makanan bagi dua sepesies orangutan lain, di antaranya seperti biji aturmangan (casuarinaceae), buah sampinur tali/bunga (podocarpaceae), dan agatis (araucariaceae). (W-1)

Konservasi Satwa
Ragam Terpopuler
Kratom: Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...