Bahasa | English


KEKAYAAN FAUNA

Mengenal Si Lambang NKRI, Sekaligus Pemilik Langit Jawa

27 August 2019, 12:33 WIB

Elang Jawa sebagai satwa yang diidentikkan dengan lambang negara Indonesia, yaitu burung garuda, telah lahir kembali di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.


Mengenal Si Lambang NKRI, Sekaligus Pemilik Langit Jawa Elang Jawa. Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Kekayaan keanakaragaman hayati Indonesia tertinggi nomor dua di dunia, baik flora maupun fauna. Salah satu kenakeragaman hayati Indonesia yang ternilai adalah Elang Jawa atau Nisaetus bartelsi.

Kelahiran satwa endemik elang Jawa itu terjadi pada bulan April 2019 lalu. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah memantau keberadaan satwa ini sejak awal bulan April. Setelah ditemukan keberadaannya, tepatnya pada tanggal 13 April 2019, lalu mereka memonitor untuk kedua kalinya pada 18 April 2019.  Saat ditemukan, diperkirakan usia anak elang Jawa itu sekitar 1-2 minggu. Alhasil ditemukannya sarang baru, termasuk anaknya ini jadi kabar bahagia bagi bangsa ini, bahwa generasi satwa yang merupakan lambang negara NKRI masih ada.

Meski begitu, pihak TNGGP masih harus menahan diri untuk terlalu sering mendekati sarang elang Jawa itu, karena dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas mereka. Jadi untuk saat ini, tim monitoring lebih sering memantaunya dari jarak jauh. Satwa satu ini mendapatkan julukan 'Penguasa Langit Jawa', karena selain sebagai generasi penerus lambang negara yang harus dijaga dan diabadikan, satwa ini juga termasuk dilindungi. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri LHK No. 106/2018 dan masuk sebagai salah satu daftar satwa prioritas TNGGP.

Satwa ini menjadi salah satu nilai penting di kawasan TNGGP. Upaya ini dilakukan juga karena elang Jawa termasuk salah satu raptor yang statusnya terancam punah di dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red List. Untuk itu, pihak TNGGP terus berusaha agar populasi elang Jawa bisa meningkat dan melindunginya bersama dengan jenis satwa langka lainnya. Upaya tersebut sudah dilakukan sejak 2015 silam sampai tahun ini, dengan menjadikan TNGGP sebagai hutan konservasi yang perlu dipertahankan.

Selain sebagai lambang negara yang harus dijaga, satwa ini juga menjadi salah satu indikator kesehatan ekosistem, sehingga kelahiran 'junior'-nya di TNGGP menjadi harapan bagi elang Jawa untuk punya 'rumah' yang nyaman. Agar bisa lestari, tentu diperlukan peran banyak pihak tak hanya dari TNGGP.

Elang Jawa Yang Unik

Nah, setelah elang Jawa melahirkan 'junior'-nya, maka tugas kita selain melindungi dan melestarikannya. Mari, kita mengenal lebih dekat sosok satwa yang menjadi lambang negara Indonesia. Sejak 1992, elang Jawa sudah dinobatkan sebagai maskot satwa langka di negeri ini. Elang Jawa mempunyai beberapa ciri yang perlu kita ketahui,  diantaranya; badan langsing dengan panjang tubuh antara 60-70 cm serta sayap 110-130 cm.

Elang Jawa juga mempunyai beberapa keunikan, yaitu kepalanya berwarna coklat kemerahan dan mempunyai jambul yang tinggi menonjol. Jambul elang Jawa mempunyai warna hitam dan berujung putih, yang terdiri dari 2-4 bulu, dengan panjang 12 cm.

Lalu, kenapa satwa ini bisa jadi simbol negara Indonesia? Konon, hal ini karena elang Jawa mempunyai jambul di bagian kepala. Meski sebenarnya Garuda hanyalah sebagai binatang dalam mitos Jawa yang menjadi kendaraan atau wahana Dewa Wisnu. Awalnya, binatang dalam mitos tersebut mempunyai sepasang sayap, berkepala burung, tapi dengan tubuh seperti manusia. Burung pada Garuda Pancasila awalnya tak mempunyai jambul.

Tapi Presiden RI pertama, Soekarno, mempunyai usul untuk menambahkan jambul dalam simbol satwa tersebut agar tidak mempunyai kemiripan dengan elang bondol yang merupakan lambang negara Amerika Serikat (AS). Satwa ini menjadi hewan khas di Pulau Jawa. Ini karena, habitatnya hanya bisa ditemukan di beberapa wilayah Pulau Jawa, mulai dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) sampai ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Elang Jawa merupakan satwa yang mempunyai daya jelajah sangat luas, sehingga sarang elang ini bisa ditemukan di wilayah di luar TNGGP sebagai salah satu wilayah habitat endemik elang Jawa.

Elang Jawa selama ini cukup senang tinggal di pohon tinggi yang menjulang. Itu agar ia bisa menggunakannya untuk mengincar mangsa ataupun ia gunakan sebagai sarangnya. Sarang mereka umumnya ditemukan di pohon yang tumbuh di lereng, dengan kemiringan sedang hingga curam yang mempunyai dasar lembah dan anak sungai. Itu disukainya karena elang Jawa termasuk satwa yang suka menggunakan kesempatannya utnuk memperoleh mangsa dan memelihara keselamatan anak-anaknya. Selama ini, elang Jawa memangsa berbagai jenis reptil, ayam kampung, burung-burung sejenis walik, dan punai. Tak hanya itu, ia juga memangsa mamalia berukuran kecil seperti kalong, bajing, tupai, anak monyet hingga musang. (K-GR)

Konservasi Satwa
Perkebunan
Ragam Terpopuler
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...