Bahasa | English


KONSERVASI SATWA

Si Imut Kanguru Pohon yang Nyaris Punah

23 October 2019, 02:29 WIB

Kanguru pohon mantel emas dan burung cendrawasih diputuskan menjadi maskot Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan digelar tahun 2020 di Papua. Dua hewan ini dilindungi karena nyaris punah. Bahkan jumlah populasi kanguru mungil menggemaskan ini diperkirakan tak lebih dari 15 ekor.


Si Imut Kanguru Pohon yang Nyaris Punah Kanguru Pohon. Foto: Fauna Indonesia

Tak banyak orang tahu bahwa di Papua hidup binatang marsupial atau mamalia berkantung. Kanguru Papua pertama kali dilihat para awak kapal layar Belanda “ The Trinton’ yang tengah berlayar di pantau utara Papua Barat menuju Papua Nugini pada tahun 1826. Mereka mengambil empat specimen untuk dibawa ke Eropa dan diteliti.

Ahli taxologi Salomon Miller kemudian memberi nama ilmiah Dendrolagus untuk kanguru pohon Papua dan Thylogale untuk kanguru tanah Papua. Keduanya masuk dalam family Macropodidae, dan berbeda dengan kanguru asal Australia dan walabi.

Setelah itu beberapa peneliti Eropa ramai datang untuk mengetahui lebih jauh tentang kanguru di wilayah itu. Peneliti bernama Flannery dan Roger Martin yang mengamati kanguru kemudian menuliskan perkembangan kanguru Papua serta kekhawatiran mereka soal kemungkinan kepunahan fauna ini dalam buku A Curious Natural History oleh Tim Flannery yang terbit pada tahun 1996, dan Tree Kangaroos of Australia and New Guinea oleh Roger Martin pada tahun 2005.

Kanguru di dua tempat itu sebenarnya mirip, hanya saja bentuk kanguru Papua lebih kecil dibanding kanguru Australia yang besar dan kuat. Rerata berat tubuh kanguru Papua tak lebih dari 6-20 kg. Bahkan ada yang sangat kecil dengan berat 3 kg dengan massa otot sepertiga kanguru Australia. Kanguru Australia punya rerata berat mencapai 50-80 kg. Lompatan kaki kanguru Papua hanya mencapai 22 cm, jauh lebih pendek dibanding kanguru Australia yang lompatannya bisa mencapai 2-3 kali lipat.

Seperti namanya, kanguru tanah menjejak tanah seperti kanguru Australia dan kanguru pohon itu  hidup di pohon dan makan dedaunan dan biji-bijian hutan. Karena pijakan utamanya adalah pohon maka dia menopang tubuhnya dengan kaki yang bergantung. Tak heran jika kakinya melengkung dan telapak kaki besar dan kasar seperti bantalan.

Ada dua spesies kanguru tanah Papua yaitu Thylogale brunii (atau disebut juga dusky pademelon) dan Thylogale stigmata (atau red-legged pademelon). Untuk Thylogale brunii juga ditemukan di Papua Nugini.

Thylogale brunii adalah kanguru tanah yang sangat terkenal karena merupakan kanguru terkecil di dunia. Beratnya sekitar 3-6 kg meskipun di beberapa tempat ada yang mencapai 10 kg. Panjangnya mencapai 90 cm (termasuk ekor) dan lebarnya sekitar 50 cm. Brunii ada di beberapa hutan di dataran rendah Papua, Taman Nasional Wasur (Merauke) dan Taman Nasional Lorentz (Mimika), juga di Papua Nugini.

Kanguru tanah kedua adalah Thylogale stigmata atau red-legged pademelon yang hidup di beberapa pantai selatan Papua. Kanguru ini berwarna kuning kecoklatan.  Sedangkan untuk genus Dendrolagus atau kanguru pohon setidaknya ada enam spesies yaitu Dendrolagus good fellow (kanguru pohon hias), Dendrolagus mbaiso (dingiso), Dendrolagus dorianus (kanguru pohon ndomea), Dendrolagus ursinus (Vogelkop tree), Dendrolagus inustus (kanguru wakera) dan Dendrolagus stellarum.

Populasi Turun 80% dalam 30 Tahun Terakhir

Beberapa ahli biologi memasukkan kanguru mantel emas yang menjadi maskot PON 2020 dalam spesies kanguru pohon hias, meskipun secara fisik berbeda. Kanguru mantel emas selain punya bulu pendek dan halus, serta punya warna yang sangat menarik yaitu coklat muda, juga punya leher, pipi dan kakinya berwarna kekuningan. Sisi bawah bewarna pucat dan dengan dua garis keemasan.

Jenis kanguru yang menggemaskan ini ditemukan pada tahun 1990 oleh Pavel German di wilayah terpencil di Pegunungan Foja, Papua. Juga ditemukan di pegunungan Torricelli, Papua Nugini, pada ketinggian 680–1.700 meter diatas permukaan laut. Panjang tubuhnya berkisar 41–77 cm, dengan panjang ekor 40-80 cm, dan berat 7–15 kilogram. Sedangkan kanguru pohon hias secara fisik lebih besar dan berwarna coklat sawo matang.

Kanguru mantel emas dan kanguru mbaiso adalah kanguru yang nyaris punah dan masuk dalam red list International Union for Conversation of Nature (UICN) karena jumlahnya tak lebih dari 10-15 ekor setiap spesiesnya.

Peneliti kanguru menilai bahwa habitat kanguru di Papua lebih kompleks karena bisa ditemukan di kawasan pantai dan hutan-hutan dataran rendah sampai pada puncak Jayawijaya. Pada tahun 2018 para peneliti dan fotografer menemuka beberapa tanda bau, tanda cakar kanguru di dasar sebatang pohon yang dibuat untuk memanjat pohon ditemukan dari 1.700 m hingga 2.000 m di hutan pegunungan yang curam. Kanguru mbaiso bisa ditemukan di puncak Sudirman di jajaran pegunungan Jayawijaya.

Ini juga membuat kanguru Papua rentan pada ancaman, baik dari kondisi habitat maupun predator. Ancaman utama kanguru Papua adalah ular piton, burung hantu besar dan burung elang. Mereka mengincar kanguru ketika turun dari pohon untuk mencari air maupun saat di puncak pohon. Penduduk lokal biasanya menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

Para peneliti juga mencatat bahwa pembukaan lahan untuk perkebunan dan keperluan lainnya cukup mengganggu kanguru Papua sehingga jumlahnya semakin menurun. Mereka mencatat populasi hewan ini menurun 80% dalam 30 tahun terakhir. UICN mencatat untuk seluruh spesies kanguru papua, jumlahnya tak lebih dari 50 ekor.

Untungnya semua genus Dendrolagus sudah masuk satwa yang dilindungi Indonesia dan tertuang pada lampiran Peraturan Pemerintah tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi. (K-CD)

Konservasi Satwa
Ragam Terpopuler
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...
Cakalang Fufu Rica Rica, Edodoe Pe Sedap Sekali
Aroma ikan ini memang khas dan tidak bisa dibandingkan dengan olahan ikan asap lainnya. Mungkin karena pengolahannya menggunakan kayu bakar pilihan. Namun yang membuat rasa ikan ini semakin menon...