Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


VARIETAS KOPI

Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas

Thursday, 14 March 2019

Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019.


Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas Perkebunan kopi Wonogiri. Sumber foto: Istimewa

Jika Sumatra punya kopi Aceh Gayo, Sulawesi punya kopi Toraja, dan Bali punya kopi Kintamani, maka Jawa Tengah juga punya kopi Wonogiri. Nama kopi Wonogiri memang belum setenar kopi-kopi lain di daerah Jawa yang telah sukses mendunia, seperti kopi Java Ijen Raung maupun kopi Temanggung. Namun, kualitas dan cita rasa kopi Wonogiri rupanya tak kalah nikmat dengan kopi lokal lain yang lebih dulu tersohor hingga mancanegara.

Hal inilah yang akhirnya menyadarkan para pegiat dan pecinta kopi di kabupaten Wonogiri yang tergabung dalam Komunitas Kopi Wonogiri untuk mengembangkan potensi komoditas kopi di daerahnya. Terlebih sejarah mencatat wilayah Wonogiri, khususnya kecamatan Bulukerto, pernah menjadi salah satu pusat lokasi pembibitan dan pembudidayaan perkebunan kopi yang dipilih oleh Kadipaten Mangkunegaran pada 1860-an. Artinya, Wonogiri memang memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menghasilkan kopi lokal yang berkualitas.

Di Desa Conto sendiri, salah satu desa di Kecamatan Bulukerto, sebenarnya telah tumbuh subur ribuan pohon kopi di tanah perbukitan Conto. Beberapa ratus di antaranya merupakan milik Pak Sular, petani kopi lokal yang sudah menanam kopi selama hampir 30 tahun, yang ia tanam dengan sistem tumpang sari, di lahan pertanian sayur seluas dua hektar miliknya. Sayangnya, dalam kurun waktu yang tak sebentar tersebut, Pak Sular hanya mengandalkan proses pengolahan tradisional lewat pengamatan dan kebiasaan dalam memanen dan memproses biji kopi tanpa adanya pengetahuan tentang pengolahan kopi yang tepat. Akibatnya, harga biji kopi produksinya masih jauh di bawah harga semestinya. Dari 200 pohon kopi yang Pak Sular miliki, pada 2017 perkebunan kopinya mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram biji kopi kering pada masa panen. Sedangkan harga jual biji per kilogram hanya berkisar antara Rp25.000-Rp30.000 yang dijual langsung ke tengkulak di Ponorogo.

Berangkat dari latar belakang itulah, Komunitas Kopi Wonogiri bersama dengan Wonogiri Coffee House (Wonogirich) bersinergi mengajak para petani kopi lokal Wonogiri untuk mulai memperbaiki kualitas hasil panen kopi mereka. Jika melihat kontur tanah Bulukerto yang terdiri dari perbukitan dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut, serta menyimpan pasokan air yang melimpah, lokasi tersebut sudah menyediakan lahan yang sangat ideal untuk membudidayakan kopi varietas Arabica. Tinggal bagaimana para petani Bulukerto bisa konsisten membenahi cara panen kopi mereka.

Langkah awal perbaikan kualitas kopi mulai dilakukan oleh komunitas kopi dan Wonogirich pada April 2018. Mereka aktif memberi edukasi dan pembinaan kepada Pak Sular dan petani kopi Bulukerto tentang cara memanen biji kopi dari pohonnya. Jika sebelumnya para petani ini memetik biji kopi tanpa memilah berdasarkan warna kulit buah, maka setelah pembinaan mereka diharuskan hanya memanen biji kopi yang telah benar-benar masak yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna merah. Cara panen seperti ini dikenal dengan istilah pola petik merah.

Melalui proses pola petik merah, hasil panen kopi petani Bulukerto menjadi lebih berbobot dari segi kualitas. Upaya pemasaran biji kopi Bulukerto mendapat bantuan dari Komunitas Kopi Wonogiri dan Wonogirich dengan sistem branding kedaerahan. Branding daerah asal kopi dianggap mempunyai peran besar karena daerah tanam kopi sangat memengaruhi cita rasa kopi itu sendiri. Melalui pegiat dan pengolah kopi lokal jugalah harga jual kopi Bulukerto yang semula hanya Rp25.000-Rp30.000 per kilogram, kini melonjak drastis hingga dua kali lipat pada musim panen tahun 2018, sekitar Juni.

Selain Desa Bulukerto, lokasi lain di Wonogiri yang menghasilkan kopi berkualitas adalah Desa Brenggolo, Kecamatan Jatiroto. Berbeda dengan Bulukerto yang memproduksi kopi varietas Arabica, di Brenggolo ini kopi yang dihasilkan berasal dari varietas Robusta. Produksi kopi Robusta di Desa Brenggolo pada musim panen 2018 mampu menghasilkan 5 ton biji kopi Robusta.

Jika dipetakan berdasarkan ketinggian tanah melalui hasil pengamatan Wonogirich, selaku pengolah kopi lokal, persebaran kopi Wonogiri dapat dibagi menjadi dua daerah tanam, yaitu deretan kaki gunung Lawu dan deretan pegunungan Seribu. Kaki gunung Lawu merupakan lahan yang cocok untuk budidaya kopi Arabica, yang mencakup Kecamatan Bulukerto, Girimarto, Slogohimo, Jatipurno, dan Puhpelem. Sedangkan di barisan pegunungan Seribu lebih cocok sebagai daerah tanam kopi Robusta, yang meliputi Kecamatan Jatiroto, Karangtengah, Tirtomoyo, Kismantoro, dan Batuwarno. Sedangkan produksi unggulan untuk masing-masing varietas kopi terdapat di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto dan Desa Brenggolo, Kecamatan Jatiroto.

Menurut Bagus Adi Santoso, selaku pengelola Wonogirich, kecamatan lain di Wonogiri selain dua kecamatan penghasil produk kopi unggulan, sama-sama berpotensi ditanami pohon kopi. Karenanya, pada Januari 2019, masih bersama Komunitas Kopi Wonogiri, dia mengajak 23 petani di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, untuk terlibat dalam program penanaman bibit pohon kopi di lahan masing-masing dengan lebih dulu memberi mereka keyakinan bahwa dari benih kopi yang mereka tanam akan tumbuh besar dan bisa menjadi sumber penghasilan. Lewat sumbangan bibit kopi Arabica dari Ibu Nuri, selaku pengelola Yayasan Kayon Gunungan asal Boyolali, 1.500 pohon kopi Arabica berhasil dibagi rata ke para petani di Desa Bubakan. Tak hanya pohon kopi yang Ibu Nuri sumbang, lengkap pula bibit pohon lain, yaitu 500 pohon buat alpukat dan duren, serta 1.500 pohon sengon.

Yang paling mengejutkan para pegiat kopi Wonogiri adalah ditemukannya ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. Puluhan pohon kopi Liberica tersebut bahkan sudah menampakkan bakal buah, sehingga sangat mungkin untuk dipanen pada musim panen tahun ini.

Menurut Pak Harmono, petani asal Dusun Ngroto, keberadaan pohon kopi tersebut telah lama ada. Hanya saja tidak terurus dan tidak pernah dipanen. Kabarnya, dulu pernah ada pihak yang mengolah, tapi terhenti akibat harga jual biji kopi kering hanya dihargai Rp5.000 saja per kilogram.

Melihat potensi kopi Liberica yang tumbuh subur di sebagian wilayah Desa Sukoharjo dan diprediksi bisa disambung dengan penanaman kopi jenis Robusta, Wonogirich kembali membuat event penanaman bibit pohon kopi yang didasari atas inisiatif kelompok tani dan didukung penuh oleh perangkat desa setempat. Kegiatan tersebut sukses terlaksana pada 10 Maret 2019 dengan menanam 1.000 bibit pohon kopi Liberica yang diperoleh dari cabutan pohon kopi di Dusun Ngroto yang selama ini tumbuh liar dan tidak terawat.

Rangkaian gerakan di atas untuk memperkenalkan kembali kopi Wonogiri dan upaya untuk memperbanyak hasil produksi kopi dengan kualitas baik, merupakan langkah yang masih sangat awal dari para pegiat kopi Wonogiri untuk mewujudkan harapan dan mimpi mereka mengembalikan Wonogiri sebagai sentra kopi sebagaimana terekam dalam sejarah. Diawali dengan gerakan Wonogiri Nduwe Kopi (Wonogiri Punya Kopi) dan berlanjut pada Wonogiri Nandur Kopi (Wonogiri Menanam Kopi), diharapkan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan kabupaten Wonogiri akan dikenal sebagai Wonogiri Nggone Kopi (Wonogiri Tempat Kopi). Hingga kelak harapan dan mimpi Wonogiri Nggawe Kopi (mengemas kopi dalam aneka bentuk siap seduh) bisa turut terwujud lewat sinergisme antara para petani kopi lokal, pegiat kopi, pengolah kopi, perangkat desa, dan pemerintah kabupaten Wonogiri. (K-ID)

Komoditas
Perkebunan
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan, Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Buddhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...