Bahasa | English


DESA WISATA

Kasongan, Buah Tanggung Jawab Para Pemilik Tanah

9 December 2018, 11:56 WIB

Kasongan merupakan kawasan yang terkenal dengan hasil kerajinan gerabahnya. Itulah sebabnya, desa gerabah ini kerap tujuan wisatawan lokal hingga mancanegara.


Kasongan, Buah Tanggung Jawab Para Pemilik Tanah Sumber foto: Antara Foto

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki beragam objek wisata. Mulai dari wisata sejarah, wisata alam, hingga desa wisata yang mempunyai kekhasan tersendiri. Semuanya layak dijadikan sebagai tujuan wisata yang wajib dikunjungi.

Salah satu desa wisata yang terkenal di Yogyakarta adalah Desa Kasongan. Lokasi tepatnya berada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kisah terbentuknya desa itu menjadi sebuah desa wisata itu tergolong unik. Yakni, berawal dari ketakutan warga Desa Kasongan atas kemungkinan tuduhan bersalah yang dijatuhkan pemerintah Hindia Belanda.

Jadi alkisah, ketika itu Desa Kasongan merupakan kawasan persawahan milik masyarakat di Yogyakarta bagian selatan. Tetiba, di masa penjajahan Belanda, ditemukan seekor kuda yang diduga merupakan milik reserse Belanda, mati di salah satu areal persawahan milik salah satu warga Kasongan tersebut.

Khawatir dikenai tuduhan oleh pemilik kuda, warga pemilik tanah tempat ditemukan bangkai kuda itupun segera melepaskan hak kepemilikan atas tanahnya. Ternyata, langkah pemilik tanah itu diikuti oleh penduduk lain yang juga memiliki tanah di sekitar sawah tersebut.

Persoalan muncul, karena kemudian banyak penduduk Kasongan yang tidak lagi memiliki tanah dan harus menempuh berbagai cara agar bisa menafkahi keluarganya. Singkat cerita, akhirnya merekapun beralih status dari pemilik tanah menjadi perajin keramik. Dan ketekunan warga desa Kasongan membuat kerajinan keramik, boleh dikata, diwariskan sebagai keahlian turun-temurun.

Sejak 1971-1972, aktivitas di desa wisata itu mulai mengalami kemajuan yang pesat. Seorang seniman besar Yogyakarta, Sapto Hudoyo, turut berperan dalam pengembangan Kasongan dengan membina masyarakat agar lebih memberikan berbagai sentuhan seni yang memiliki nilai jual tinggi bagi desain kerajinannya. Sehingga, gerabah yang dihasilkan tidak membosankan atau monoton. Sekira 1980, kerajinan Keramik khas Kasongan mulai diperjualbelikan dalam skala besar oleh Sahid Keramik.

Kerajinan gerabah yang diproduksi dan dihasilkan Kasongan umumnya berupa guci-guci dengan berbagai motif. Yakni, motif burung merak, naga, bunga mawar, dan lainnya. Selain itu, ada juga pot berbagai ukuran, bingkai, souvenir, hiasan dinding, perabotan, dan lain-lain.

Kini tak hanya skala pengerjaannya, jenis dari produk Kasongan pun telah berkembang. Di antaranya, mulai membuat bunga tiruan dari daun pisang, topeng-topengan, perabotan bambu, dan masih banyak hasil kerajinan lainnya. Kerajinan Kasongan bukan hanya diminati masyarakat Indonesia, tapi juga diekspor hingga ke mancanegara, seperti Amerika dan Eropa.

Desa Kasongan juga sering didatangi para pelajar yang hendak mencari informasi tentang cara membuat gerabah yang baik dan benar. Di kawasan Kasongan, pembuatan gerabah biasa dilakukan secara manual. Termasuk, membuat pajangan halus, seperti guci, pot, dan jambangan.

Imajinasi yang luar biasa dari para perajin gerabah, yang dituangkan ke dalam hasil karya kerajinan yang penuh dengan keindahan membuat kawasan Kasongan memesona. Makanya mulai sekarang, “Yuk cintai hasil karya negeri sendiri, hasil karya Tanah Air Indonesia.” (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Kekayaan Laut Utara, Modal Kesejahteraan Warga Pesisir
Pendapatan bersih para 'juragan' di Tegal berkisar antara satu hingga tiga miliar per bulan. Itu sudah memperhitungkan musim banyak ikan dan masa sepi karena cuaca. ...
Sawahlunto, Buah Manis Perpaduan Teknologi Barat dan Timur
Serius membuka diri menjadi destinasi pariwisata sejarah dan budaya, sejak 2002 Sawahlunto berbenah diri. Berbagai proyek revitalisasi dan konservasipun dilakukan. Keseriusan itu akhirnya berbuah mani...
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...