Bahasa | English


LINGKUNGAN HIDUP

Dibalik Terciptanya Sedotan Bambu

28 June 2019, 12:00 WIB

Sedotan bambu ciptaan pengrajin di Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat. Tak hanya di Indonesia, sedotan bambu sudah menampakan dirinya di luar negeri.


Dibalik Terciptanya Sedotan Bambu Ilustrasi Sedotan Bambu. Foto: Baramee Temboonkiat

Beberapa waktu ini sedang marak-maraknya pemberitaan tentang bahayanya pencemaran sampah plastik yang mencemari lingkungan. Bukan hanya daratan yang menjadi korban pencemaraan lingkungan ini, lautan pun menjadi saksi kekejaman bahaya sampah plastik. Hewan-hewan dilautpun ikut merasakan dampak negatif dari plastik seperti tidak sengaja memakan plastik dan menyebabkan kematian.

Adanya kejadian tersebut, membuat beberapa restoran dan outlet telah menghentikan penggunaan sedotan plastik demi mengurangi resiko menumpuknya sampah plastik disekitar kita. Hal tersebut secara tidak langsung mendorong masyarakat agar tidak lagi menggunakan sedotan plastik dan belajar menggunakan sedotan ramah lingkungan. Pada mulanya, mencari alternatif untuk mengganti sedotan plastik dengan sedotan ramah lingkungan dikatakan gampang – gampang susah, karena selama ini masyarakat sudah terbiasa dengan penggunaan sedotan plastik setiap membeli minuman.

Sedotan Bambu Ramah Lingkungan

Berbicara tentang banyaknya penggunaan plastik yang dapat merusak lingkungan, kini para pengrajin yang berada di Indonesia menciptakan sebuah karya kerajinan yang luar biasa guna mengurangi pencemaran pada lingkungan. Sebuah karya sederhana yang bisa mengubah kebiasaan masyarakat agar tidak terlalu berlebihan dalam penggunaan plastik.

Sedotan Bambu, adalah sebuah sedotan yang diciptakan untuk mengurangi penggunaan plastik. Meskipun harga yang dipatok dalam penjualan sedotan ini terbilang mahal yaitu kurang lebih Rp. 2.000 per buah dibandingkan dengan sedotan plastik yang bisa mendapatkan 100 buah dengan harga Rp. 2000, sedotan ini mampu bertahan selama enam bulan atau bisa digunakan berkali-kali.

Satu buah sedotan bambu dapat digunakan sebanyak kurang lebih 10 kali pemakaian dengan perawatan kebersihan yang cukup mudah. Cara mencucinya bisa dikukus selama 15 menit akan tetapi tidak dianjurkan dalam penggunaan sabun dengan jumlah sedikit atau banyak. Penggunaan sabun justru akan mendatangkan jamur dengan cepat.

Cara Membuat Sedotan Bambu

Sebagai upaya dalam pengurangan sampah plastik di Indonesia, ide membuat sedotan bambu ini sangat berguna karena sifatnya yang dapat digunakan berkali-kali dan akan tahan dalam waktu yang lama. Bahan yang digunakan untuk membuat sedotan ramah lingkungan ini sudah pasti bambu.

Langkah pertama yang dilakukan adalah pemilihan bambu karena bambu yang akan digunakan memiliki ukuran sesuai dengan diameter sedotan pada umumnya. Cara agar mendapatkan ukuran bambu yang sesuai, pohon bambu yang ditanam bisa ditandai dengan berapa lama pohon tersebut sudah ditanam. Jika waktu penanaman sudah sesuai dengan target waktu yang ditentukan, pohon bambu akan menghasilkan bambu dengan ukuran tersebut dan bambu sudah bisa ditebang. Setelah sudah mendapatkan ukuran bambu yang sesuai, kemudian bambu akan di treatment dengan metode pemanasan sinar matahari. Proses ini dilakukan guna menghilangkan kadar air  yang terkendung di dalam bambu tersebut.

Pada saat bambu sudah mulai mengering, batang pada bambu tersebut akan tampak mengkerut. Proses pengkerutan ini dimulai sejak bambu ditebang. Dengan mengkerutnya bambu, dapat mengurangi diameter pada bambu hingga 16% dan pengurangan ketebalannya hingga 17%. Ketika bambu sudah mengering kemudian dilanjutkan dengan proses pembersihan secara menyeluruh.

Bambu yang sudah kering akan diolah, dipotong sesuai dengan tinggi yang telah ditentukan. Setelah sudah mendapatkan bentuk dan tinggi yang diinginkan,  seluruh permukaan bambu akan dihaluskan yakni dengan menggunakan amplas. Setelah permukaan halus bambu tersebut akan kembali dibersihkan dengan air agak tidak ada serbuk bekas amplas yang menempel dan kemudian kembali dikeringkan menggunakan bantuan sinar matahari.

Perawatan Sedotan Bambu

Perjalanan yang cukup panjang dalam membuat sedotan kayu hingga tahap akhir, sedotan bambupun siap untuk digunakan. Sedotan bambu ini bisa disimpan atau diletakan dalam box yang tertutup rapat. Apabila ingin menyimpannya disarankan untuk meletakkan silica gel didalam box yang berisi sedotan bambu. Langkah ini berguna untuk penyimpanan sedotan bambu dalam jangka waktu yang panjang dan menghindari sedotan dari terjadinya proses pertumbuhan jamur pada permukaan sedotan.

Ekspor Luar Negeri

Penggunaan sedotan plastik memang sulit dilepaskan dari kebiasaan masyarakat yang selalu meminum dengan menggunakan sedotan, apalagi jika keberadaannya di luar rumah, sudah pasti membeli minuman dengan sedotan plastik. Semakin rusaknya lingkungan akibat sampah plastik, terbitlah ide-ide kreatif dalam membuat sedotan, salah satunya sedotan bambu. Meskipun pada awalnya masyarakat sulit menerima kehadiran sedotan bambu, seiring berjalanya waktu produk ini mulai melebarkan sayapnya.

Sedotan bambu ciptaan pengrajin di Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat. Tak hanya di Indonesia, sedotan bambu sudah menampakan dirinya di luar negeri seperti Inggris, Jepang, dan Australia. Setiap tahunnya, produksi sedotan bambu semakin meningkat karena semakin banyaknya permintaan pasar dari konsumen lokal maupun mancanegara. (K-AD)

Lingkungan Hidup
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...
Kanjeng Ratu Kidul
Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung. Meskipun demikian kepercayaan tradisional meyakini, tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Menariknya, Suna...
Jadi Pengikut atau Pelopor, Dilema Mobil Listrik Nasional
Para pemain lama sudah sangat gemuk dengan kompleksnya teknologi perakitan dan teknologi purnajual berbasis mesin bakar. Sedangkan bagi Cina yang sudah lebih lama mengembangkan teknologi penyimpanan l...