Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KULINER

Yogyakarta Kota Gudeg

Monday, 12 November 2018

Serat Centhini, sebuah ensiklopedi Jawa, yang ditulis pada 1742 Tahun Jawa atau 1814 Masehi, telah mencatat keberadaan kuliner tradisional yang bernama gudeg


Yogyakarta Kota Gudeg Gudeg makanan khas Yogyakarta. Sumber foto: Pesona Indonesia

Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai Kota Pelajar. Kota ini juga populer dikenal sebagai Kota Gudeg. Sebenarnya gudeg bukanlah makanan khas kota ini saja. Gudeg juga dikenal di daerah lain.

Sebutlah Jawa Tengah, misalnya, khususnya warga Solo tentu juga sangat mengenal menu tradisional ini. Meski demikian, gudeg sebagai ikon Yogyakarta tampaknya lebih lekat.

Barangkali saja, jika bicara aspek kuantitas, pelaku usaha kuliner gudeg di Yogya—demikian nama kota itu sering disingkat—jumlahnya nisbi lebih banyak. Sejauh ini belum ada pendataan perihal jumlah pelaku usaha di sektor kuliner ini secara spesifik. Jadi, klaim kuantitas ini hanya didasarkan sebatas pengamatan fenomenologis.

Posisi gudeg sebagai menu makanan warga Yogya, mirip halnya nasi pecel di Madiun. Gudeg bisa dan biasa dimakan warga Yogya. Baik itu pada pagi, sore, maupun malam hari. Tidak ada hal spesifik yang membedakan, selain jika di pagi hari kadang gudeg disajikan dengan bubur dan bukan nasi.

Bicara sejarah mula jadinya kuliner gudeg ini tentu bukan hal mudah. Penulisan sejarah masyarakat dengan berangkat dari mendedah sejarah perkembangan kulinernya di sini tampaknya belum menjadi obyek penelitian yang serius.

Sebuah upaya rintisan kecil yang dilakukan Murdijati Gardjito dan Eva Lindha Dewi Permatasari tentu patut dihargai, sekalipun ekplorasinya ternyata lebih pada penulisan soal gizi dan aspek kesehatan. Berjudul Gudeg Yogyakarta: Riwayat, Kajian Manfaat dan Perkembangan untuk Pariwisata, buku ini sedikit mengeksplorasi perihal sejarah kuliner gudeg itu sendiri.

Menurut sumber itu, menu ini tercipta bersamaan dengan momen babad alas Mentaok (pembukaan hutan). Diprakarsai Panembahan Senapati, pembukaan hutan ini dimaksudkan sebagai tempat pendirian Kerajaan Mataram-Islam. Dikisahkan, saat pembukaan hutan, yang kini lokasinya merupakan salah satu kota tertua di Yogya, Kotagede, ditemui banyak pohon nangka dan kelapa. Jumlahnya demikian melimpah.

Bermaksud memanfaatkan stok buah nangka muda dan buah kelapa nan melimpah untuk memenuhi kebutuhan makan para tenaga kerja yang membuka lahan, maka dimasaklah bahan-bahan itu dalam porsi sangat besar. Saking besarnya porsi masakan itu maka sendok yang digunakan pun sebesar dayung perahu. Supaya adukan itu rata, sendok besar itu diputar berulang-ulang.

Peristiwa mengaduk berulang-ulang itulah kemudian dikenang oleh masyarakat sebagai, momen hangudeg. Dan dari momen itulah nama gudeg kemudian muncul mengemuka. ‘Hangudeg’, ‘udeg’, yang berarti mengaduk, dan akhirnya lambat laun menjadi atribut menu tradisional yang kini populer menyandang nama gudeg.

Dari sumber yang sama juga disebutkan, bahwa gudeg sudah masuk dalam Serat Centhini. Ensiklopedi Jawa itu ditulis pada 1742 Tahun Jawa atau 1814 Masehi. Diceritakan, saat Raden Mas Cebolang bertandang ke padepokan Pangeran Tembayat, pada siang harinya disuguhi oleh tuan rumah menu gudeg. Dari catatan Serat Centhini pun dapat diketahui, gudeg saat itu bukan hanya dibuat dari bahan nangka muda, namun juga manggar.

Jika Anda mengamati sejarah tumbuh kembangnya kota bekas daerah Vorstenlanden itu, akan tampak juga sejarah tumbuh kembangnya industri gudeg di sana. Membesarnya industri gudeg pasti tak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kota ini.

Perluasan dari sekadar Kota Pelajar menjadi kota tujuan destinasi pariwisata yang melekatkan karakteristik kebudayaan tentu menguntungkan bagi pembentukan pasar sekaligus branding image atas eksistensi gudeg sebagai makanan tradisional. Merujuk sumber BPS, tiga kota yang selama ini menjadi barometer kegiatan pariwisata nasional ialah Jakarta, Bali, dan Yogyakarta.

Selain itu, tentu saja pertumbuhan kelas menengah di kota Yogyakarta penting disebutkan sebagai faktor pendorong tumbuhnya industri gudeg. Sektor pariwisata yang berkembang pasti mendorong munculnya kelas menengah konsumsi yang segera saja memberi dampak besar bagi perkembangan kuliner gudeg.

Sentra Penjualan

Setidaknya ada dua sentra penjualan gudeg. Pertama, di derah Wijilan. Ini sebenarnya adalah nama sebuah kampung sekaligus nama jalan. Terletak di sebelah selatan Plengkung Tarunasura atau lebih populer disebut orang dengan nama Plengkung Wijilan. Ada beberapa nama besar dan melegenda dalam dunia gudeg di sana.

Antara lokasi sentra industri gudeg itu ke keraton jaraknya terpaut tak sampai satu kilometer. Berada di sebelah sisi timur keraton. Sebenarnya menjadi mudah diduga, tumbuh kembangnya industri gudeg di Kampung Wijilan sangat berkorelasi dengan posisi keraton sebagai salah satu lokasi tujuan pariwisata di Yogyakarta.

Sekadar menambah informasi. Keraton Mataram-Islam pertamakali berdiri di Kotagede. Alas Mentaok, tempat mula jadinya menu gudeg seperti sudah diulas di awal. Kemudian keraton pernah bergeser ke Plered di Bantul, posisi sebelah selatan Kotagede. Kedua lokasi ini masih berada di kawasan Yogyakarta.

Sedangkan Kasultanan Yogyakarta sendiri lahir pasca-Perjanjian Giyanti 1755 atau lebih populer diingat sebagai “Palihan Nagari”. Artinya, keraton yang berlokasi di pusat kota di Yogyakarta itu didirikan pascaperistiwa tersebut. Terkait gudeg, tak aneh di Solo sebagai lokasi Keraton Kasunanan Surakarta, saudara tua dari Keraton Kasultanan Yogyakarta, juga mengenal menu tradisional ini.

Kembali ke sentra industri gudeg, yang kedua adalah di Barek. Berada di kawasan sekitar lokasi kampus Universitas Gajah Mada, tepatnya berada di sebelah utara dari Gedung Pusat atau Balairung. Konon, sejak dibukanya UGM sebagai salah satu universitas tertua di awal 1950-an inilah mulailah muncul pedagang gudeg di sekitar kawasan ini.

Awalnya hanya ada satu atau dua pelaku usaha gudeg. Kesuksesannya mengundang pelaku usaha lainnya bermunculan. Dari kawasan sentra ini juga muncul istilah penyebutan umum, Gudeg Barek. Di sini tentu juga muncul beberapa nama besar.

Ketiga, yaitu di kawasan Kranggan. Sebenarnya tidak terlalu tepat, memasukkan kawasan ini pada kategori sentra gudeg. Pasalnya secara kuantitas jumlah pedagangnya tak sebanyak di dua sentra sebelumnya. Namun demikian di daerah Kranggan juga ada nama besar yang nisbi telah menjadi klasik dalam dunia gudeg. Selain itu, ada pendatang baru yang memperkenalkan varian gudeg lain, yaitu dibuat super pedas dan cukup mendapat apresiasi banyak orang.

Berdasarkan karakteristik cara memasaknya, gudeg sendiri terdiri dari dua jenis: gudeg kering dan gudeg basah. Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental. Jauh melebihi kekentalan santan pada masakan padang. Sedangkan gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer.

Sementara, jika berdasarkan bahan pembuatnya maka secara umum gudeg dibuat dari buah nangka muda atau disebut gori dalam bahasa Jawa. Meski demikian ada beberapa lokasi seperti di daerah Bantul yang menyajikan gudeg yang dibuat dari bahan bunga kelapa yang masih muda. Orang Jawa lazim menyebutnya manggar. Juga masih ada sebagian kecil dari mereka yang membuat gudeg dari bahan rebung, yaitu bambu muda.

Posisi sebagai kota pelajar dan kota wisata budaya menjadi berkah tersendiri bagi industri gudeg. Sejarah panjang sebagai kota rantau bagi ribuan pelajar dan mahasiswa di setiap tahunnya, juga sejarah panjang sebagai kota wisata budaya, plus sejarah panjang gudeg sebagai kuliner itu sendiri, tentu berperan besar bagi terciptanya ikon gudeg bagi kota Yogyakarta.

“Gustatory nostalgia” demikianlah Jon D Holtzman menamai fenomena yang merangkum hubungan antara makanan, ingatan, nostalgia, dan eskpetasi. Gustatory nostalgia inilah yang mempengaruhi narasi-narasi yang berkembang dan membentuk sebuah branding image gudeg sebagai menu khas dan sekaligus ikon kota Yogyakarta.

Sayup-sayup di kejauhan larut malam nan sunyi terdengar alunan musik pengamen jalanan tengah merintih menyanyikan lagu KLA Project:

“Pulang ke kotamu//Ada setangkup haru dalam rindu//Masih seperti dulu//Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna//Terhanyut aku akan nostalgi//Saat kita sering luangkan waktu//Nikmati bersama//Suasana Jogja….”

Ekonomi
Ragam Terpopuler
Pulau Lombok dan Islam Wetu Telu
Sekalipun keislaman Islam Wetu Telu mengklaim ajarannya bersumber pada tiga otoritas, yaitu Al Quran, Hadis dan Ijma, bicara doktrin Rukun Islam justru terlihat perbedaan implementasi antara Islam Wet...
Gabus Pucung, Si Hitam dari Betawi
Gabus pucung  adalah masakan khas Betawi yang sudah terkenal sejak dahulu kala.  Nama gabus pucung adalah gabungan dari nama ikan gabus dan pucung atau kluwek sebagai bumbunya. ...
Wisata Indonesia di Mata Dunia
Pemerintah Jokowi mendorong Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Singkat bagi 169 negara. Menurut UNWTO, kebijakan itu menjadikan Indonesia negara ketujuh di dunia; sekaligus negara keempat di Asia-Pasifik;...
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...