Bahasa | English


KULINER NUSANTARA

Naniura, Sashimi ala Batak

24 May 2019, 00:00 WIB

Orang-orang merubung ke lapo (warung) "Subur" di tepi Pelabuhan Ajibata, Parapat, Sumut, tempo hari. Mereka menyantap lezatnya ikan Naniura. Pemilik lapo, P Siallagan dan istrinya G Boru Manik sibuk meladeni pesanan pembeli. Lapo sesak oleh pengunjung yang mampir sejenak sebelum melanjutkan perjalanan naik kapal mengelilingi Danau Toba.


Naniura, Sashimi ala Batak Naniura, kuliner khas Batak. Foto: Istimewa

Tatkala menikmati naniura, terkenang lagu "Tabo do dekke naniura". Seluruh liriknya menceritakan kelezatan ikan naniura, daging ikan segar yang walau tidak dimasak, tapi rasanya nikmat. Naniura, sebuah kuliner khas yang diresep oleh orang-orang pesisir Danau Toba.

Saking lezatnya Naniura, cita rasanya mengilhami seorang pujangga untuk menciptakan lagu bertajuk permohonan kepada orangtuanya agar direstui berjodoh dengan perempuan yang berasal dari tepi Danau Toba, supaya ia selalu bisa mencecap nikmatnya Naniura.

Naniura adalah salah satu kuliner khas Batak. Makanan satu ini seperti Sashimi, ikan mentah khas Jepang. Orang yang pernah menyantap naniura pasti tau betapa sedapnya kuliner satu ini. Ikan mentah segar merupakan salah satu komponen tradisional dari naniura. Daging ikan segar itu dilumuri bumbu dan unte jungga (asam Batak) ditambah Andaliman, jeruk, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kacang tanah, kunyit, bunga rias (batang kecombrang) yang lebih dulu dilumat halus.

Cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar harus disaok atau digongseng. Digongsengnya di atas api kecil. Masing-masing bahan disaok secara terpisah agar kualitasnya bagus. Pastikan bahan-bahan yang digongseng mengeluarkan aroma sedap, terlihat kuning kecokelatan. Khusus untuk bawang, indikator lainnya selain aroma sedap adalah lunak dan warna bawang merah sedikit tampak menerawang. Jika seluruh bahan telah selesai digongseng, selanjutnya adalah ditumbuk.

Memang, naniura, tidaklah sepopuler arsik. Lantaran naniura tidak selalu ada dijual di jarang lapo-lapo (warung nasi) Batak atau di arisan-arisan marga. Naniura biasanya disajikan pada saat acara Bona Taon para marga-marga Batak atau acara khusus keluarga.

Pada awalnya, bahan dasar Naniura adalah ikan endemik Danau Toba yang dinamakan Ihan. Namun, karena Ihan Batak semakin sulit ditemukan, sehingga orang menggantikannya dengan ikan jenis lain, sepasti ikan mas, mujahir atau gabus.

Konon, di zaman Raja-Raja Batak di Tapanuli, naniura dijadikan sebagai makanan istimewa yang dihidangkan khusus untuk menjamu para raja. Bahkan, hanya koki atau juru masak kerajaan yang boleh membuat ikan naniura. Sehingga kuliner ini begitu terasa elit. Namun tidak diketahui, tentu butuh riset mendalam, sejak kapan naniura mulia bisa dicicipi bahkan dibuat sendiri oleh rakyat biasa.

Dibandingkan kuliner lainnya, resep naniura mengandalkan bahan-bahan alam. Dan semua resep itu terjadi di sekitar kita. Kacang tanah, kecombrang, unte jungga, cabai, kunyit dan andaliman adalah tanaman-tanaman yang mudah ditemukan di daerah Tapanuli. Tumbuhan-tumbuhan rempah-rempah ini kaya manfaat dan khasiat untuk kesehatan tubuh.

Ke depan, ketika industri pariwisata di Danau Toba kian menggeliat, didukung gebrakan pemerintah pusat dan daerah yang terus mendongkrak citra pariwisata Toba, maka promosi kuliner khas Batak layak untuk mendapat perhatian serius. Naniura, sebagai satu produk kuliner lokal Sumut patut dijadikan senjata pamungkas untuk menarik minat wisatawan baik mancanegara maupun domestik. (K-DH)

Kuliner
Sosial
Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...
Kanjeng Ratu Kidul
Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung. Meskipun demikian kepercayaan tradisional meyakini, tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Menariknya, Suna...
Jadi Pengikut atau Pelopor, Dilema Mobil Listrik Nasional
Para pemain lama sudah sangat gemuk dengan kompleksnya teknologi perakitan dan teknologi purnajual berbasis mesin bakar. Sedangkan bagi Cina yang sudah lebih lama mengembangkan teknologi penyimpanan l...