Bahasa | English


PARIWISATA

Pesona Alam Dan Mistis Wisata Gunung Lawu

30 September 2019, 03:52 WIB

Dalam tradisi Jawa, Gunung Lawu bukan sekadar fenomena vulkanik namun sebuah situs yang menjadi bagian ritual kehidupan dan sumber energi spiritual. Masyarakat Jawa secara tradisional berpandangan, gunung adalah simbol kebijaksanaan. 


Pesona Alam Dan Mistis Wisata Gunung Lawu Keindahan telaga sarangan. Foto: Pesona Indonesia

Menjulang ke langit dengan tinggi 3265 meter di atas permukaan laut (dpl), Lawu menduduki 3 kawasan kabupaten, dua di Jawa Timur (Ngawi dan Magetan) dan satu lagi di Jawa Tengah (Karanganyar). Status gunung saat ini pasif tidak ada aktivitas vulkanik mencolok sehingga kawasan di sekitar gunung ini sangat nyaman sebagai tujuan wisata maupun petualangan alam. Diperkirakan terakhir Lawu meletus di akhir abad 18 sekitar tahun 1835, meski demikian di puncak Lawu masih terlihat aktivitas vulkanik terlihat dari munculnya uap air dan belerang.

Gunung Lawu sangat mudah diakses baik dari Jawa Timur lewat Kabupaten Ngawi dan Magetan atau lewat Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Di lereng bagian timur, obyek wisata popularnya adalah “Telaga Sarangan” yang terletak 1200 meter dpl. Jarak tempuh dari kota Kabupaten Magetan 16 Km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Obyek wisata favorit di lereng bagian barat Gunung Lawu adalah “Tawang Mangu”dengan ketinggian 1200 meter dpl. Di lokasi tersebut terdapat wisata air terkenal yaitu “Grojogan Sewu”. Jarak Tawang Mangu dari kota terdekat yakni Kota Solo sekitar 40 Km dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Kebanyakan wisatawan Lawu mendatangi lokasi–lokasi wisata dengan kendaraan sewa (carteran). Tapi tak kalah banyaknya dengan mereka yanag datang dengan kendaraan umum.  Dari terminal Tirtonadi kota Solo tersedia transportasi bis umum. Bis ini akan mampir ke kota Karanganyar untuk mengangkut penumpang dengan tujuan terminal bis Tawang Mangu. Dari lokasi ini, wisatawan pindah kendaraan ke lokasi yang akan dituju, misalnya ke “Telaga Sarangan”atau “Cemoro Sewu.”

Mengapa pilih kota Solo sebagai titik pemberangkatan ke tujuan wisata di kawasan Lawu? Itu karena di kota ini pengunjung dari luar kota dan luar provinsi akan lebih mudah mendapatkan kendaraan umum untuk menuju lokasi wisata di seputar Lawu. Di kota Solo, calon wisatawan bisa membeli perbekalan untuk dikonsumsi dalam perjalanan atau selama bermalam di penginapan di sejumlah tujuan wisata Gunung Lawu. Di di lokasi wisata Gunung Lawu tersedia berbagai pilihan kelas dan harga penginapan dan hotel.

Pada hari–hari besar atau musim liburan sekolah, obyek-obyek Gunung Lawu biasanya ramai dipadati pengunjung. Seperti hukum ekonomi, bila permintaan tinggi dan pasokan tidak bertambah dengan sendirinya harga akan naik. Demikian pula ongkos kendaraan menuju ke Lawu juga naik di musim–musim tersebut, juga harga sewa kamar hotel atau penginapan.

Mitos Gunung Lawu

Gunung Lawu seperti gunung-gunung lain di Indonesia diselimuti oleh mitos-mitos tradisional yang merupakan cerita turun-temurun. Konon menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit (1400 M), Raja Majapahit terakhir Brawijaya V mengasingkan diri ke gunung Lawu berserta pengikutnya bernama Sabdo Palon. Hati raja Majapahit masygul ketika putranya yaitu Raden Fatah tidak mau melanjutkan pemerintahan Majapahit. Sebaliknya sang Pangeran mendirikan kerajaan Islam di Demak dengan pusat pemerintahan di Glagah Wangi (Alun-alun Demak).

Raja Brawijaya V adalah pemeluk agama Budha ketika meminang Dara Petak (ibu dari Raden Fatah) putri Raja Campa pernah menyatakan masuk Islam sebagai syarat menikah. Dikisahkan saat itu Raja Brawijaya V juga bersedia masuk islam dan menjadi mualaf jika diizinkan menikahi Dara Petak yang saat itu sudah beragama Islam dan memakai kerudung.

Belakangan Prabu Brawijaya V tak sepenuh hati masuk Islam. Ia menjadi mualaf semata-mata karena ingin menikahi putri tersebut. Inilah yang membuat Syech Maulana Malik Ibrahim tidak suka. Akhirnya prabu Brawijaya V memang berhasil menikahi Dara Petak dan masuk Islam, pada sisi lain ia masih memeluk agama Budha dalam hatinya. Setelah menikah, para anggota kerajaan yang sudah beragama Islam berupaya membujuk raja agar masuk Islam yang sebenar-benarnya. Bahkan ratunya yang bernama Dara Jingga dan selir-selirnya yang lain pun ikut membujuknya namun selalu gagal.

Pada suatu hari Raja Brawijaya sangat sedih hatinya karena memiliki pemahaman yang berbeda dengan keluarganya. Suatu malam, raja tersebut bermeditasi memohon petunjuk pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam semedinya ia mendapatkan petunjuk jika kerajaan Majapahit sudah saatnya memudar kejayaannya dan “Wahyu Kedaton” akan di pindahkan ke Kerajaan Demak.

Singkat cerita , Prabu Brawijaya V memutuskan mundur dari dunia ramai dan menyepi ke puncak gunung Lawu bersama abdi setianya Ki Sabdo Palon. Saat berada di puncak Lawu mereka bertemu dengan dua kepala dusun setia, yaitu Dipa Menggala dan Wangsa Menggala.

Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja dan ikut pergi bersama ke puncak Lawu. Lokasi pertapaan Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi kini dikenal dengan puncak “Hargo Dalem.” Sedangkan Ki Sabdo Palon sang abdi setia akhirnya meninggalkan tuannya mengambil lokasi pertapaan di “Hargo Dumiling.”  

Sang Raja kemudian mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa Gunung Lawu karena kesetiannya. Ia diberi kekuasaan untuk membawahi semua makluk gaib yang ada di barat sampai gunung Merbabu, dari timur sampai ke Gunung Wilis, dari selatan sampai ke Pantai Selatan dan dari Utara sampai ke Pantai Utara. Abdi ini diberi gelar “Sunan Gunung Lawu.” Sementara abdinya yang lain yang benama Wangsa Manggala diangkat sebagai patihnya dan diberi gelar “Kiai Jalak.”

Cerita mitos tentang Sunan Gunung Lawu dan Kyai Jalak hingga kini masih popular di kalangan pengunjung dan pendaki Gunung Lawu. Beberapa pendaki Lawu kabarnya pernah bertemu dengan “Kyai Jalak” dengan rupa burung jalak saat mereka mendaki ke puncak “Hargo Dalem”. Para pendaki meyakini jika menjumpai burung ini, maka sebenarnya ia berniat baik ingin memberi petunjuk jalan agar tak tersesat. Sebaliknya jika para pendaki memiliki perangai yang buruk maka Kiai Jalak yang tak menyukainya akan membuatnya bernasib buruk.

Lima Destinasi Wisata Populer di Gunung Lawu:

      1.Grojogan Sewu

Menurut cerita nama ini diambil dari “Seribu Pecak” atau satuan pengukur jarak pada jaman dulu. Satu “pecak” setara dengan satu telapak kaki orang dewasa sehingga bila ukuran ini diterapkan pada ketinggian air terjun hasilnya ribuan “pecak”, inilah salah satu alasan disebut “Grojogan Sewu,”  jumlah seribu identik dengan tinggi air terjun bukan pada jumlah air terjun.

Pada setiap akhir minggu kawasan ini selalu ramai dengan wisatawan domestik dari kota-kota di Jawa . Tak heran, lanskap alam Grojongan Sewu memang bak sebuah lukisan klasik, indah dimana air mengalir deras dari ketinggian 81 meter diantara dinding bebatuan. Tumpahan air ini membentuk genangan air di bawahnya. Biasanya wisatawan berkerumunan di bawah pancuran ini untuk bermain air atau mengabadikan moment lewat foto.

Sebagai fenomena alam , “Grojogan Sewu” tak lepas dari cerita – cerita turun – temurun, salah satunya adalah mitos berkait hubungan asmara. Konon bila sepasang kekasih atau belum menikah bersama-sama mengunjungi obyek wisata ini dipercaya hubungan asmara tersebut tak bakal langgeng atau putus sepulang dari tempat ini.

Mitos ini masih dipercayai sebagian anggota masyarakat hingga saat ini meski secara logika sulit dicari relasi antara mengunjungi “Grojogan Sewu” dengan putusnya hubungan cinta. Namun inilah faktanya, sebaliknya mitos ini membangkitkan rasa ingin tahu dan mencari kebenarannya sehingga tak sedikit juga pasangan-pasangan mendatangi tempat ini untuk membuktikannya.

Untuk menuju ke lokasi air terjun Grojogan Sewu, pengunjung harus menuruni perbukitan menuju lembah. Dalam perjalanan ke lembah pengunjung akan melewati sebuah jembatan penghubung antara daratan yang terpisahkan sungai kecil. Jembatan kayu ini biasa disebut “Kreteg Pegat” dalam bahasa Jawa makna “kreteg” adalah jembatan dan “pegat” adalah putus dalam konteks hubungan asmara.

Menurut tetua-tetua dari wilayah itu jembatan ini memilik aura mistis negatif untuk pasangan belum menikah. Inilah asal-muasal mengapa ada mitos itu. Buat pasangan suami-istri tak perlu khawatir ini, kutukan ini tak berlaku, Anda tak perlu was-was misalnya karerna pasangan Anda akan kabur sepulang dari tempat ini.

Mitos lainnya yang tak menyeramkan dari “Kreteg Pegat” adalah muncul sosok kakek-kakek saat jembatan ini diselimuti kabut tebal. Profil wajah kakek ini secara detil belum pernah ada yang melihatnya. Penampakannya mirip seperti siluet dari seorang kakek tua, konon sang kakek adalah pembantu (abdi dalem) dari seorang kyai bernama Baladewa yang pernah menyepi atau bertapa di sini. Cerita-cerita mitos ini salah satu bumbu istimewa bagi pengunjung yang baru pertama kali datang dan tantangan bagi pengunjung yang sebelumnya sudah mendengar mitos ini.

Grojogan Sewu terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya sangat mudah diakses, cukup menggunakan kendaraan umum. Bis antar kota dari Kota Karanganyar atau Kota Solo akan melewati rute ini. Pengunjung dapat di turun di terminal bis Tawang Mangu atau Pasar Tawang Mangu. Dari tempat ini cukup berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit untuk sampai ke pintu masuk obyek wisata yang berada di belakang Taman Balekambang.

Tantangan perjalanan setelah masuk ke area “Grojogan Sewu”, dimana pengunjung harus menuruni perbukitan untuk menuju lokasi pancuran legendaris ini. Sebaiiknya berhati-hati dalam melangkah karena licinnya bebatuan yang menutupi jalan setapak, namun jangan risau selama perjalanan ini akan disuguhi panorama flora dan fauna yang indah dan udara segar.

Tak hanya itu, selama menapaki jalan, Anda akan bertemu dengan banyak monyet liar bergelantungan di antara pohon atau duduk-duduk di pinggir jalan. Pintu masuk lain selain dari Pasar Tawang Mangu terletak di dekat kawasan Hotel River Hill, masing-masing pintu masuk menawarkan panorama unik , jadi terserah Anda mau pilih yang mana. Jangan lupa petik bunga khas Lawu, Edelweis sebagai bukti Anda sudah sampai ke puncak Lawu.

      2. Cemoro Sewu

Tak hanya obyek wisata alam, Lawu juga menantang para pencinta alam liar dan pendaki gunung untuk menaklukannya. Seperti di kebanyakan gunung, jalur pendakian ke puncak terbagi dua yaitu jalur umum dan khusus. Jalur umum ini biasanya untuk pendaki amatir, rutenya pendakian tidak terlalu sulit dan tersedia banyak pos bantuan pada jarak tertentu. Jalur inilah yang sering dipilih oleh pendaki pemula atau yang baru pertama kali mendaki gunung.

Pendaki atau calon pendaki Lawu dapat menempuhnya lewat “Cemoro Sewu” di Sarangan terletak antara Kabupaten Karanganyar (Jateng) dan Magetan (Jatim). Mengapa disebut “Cemoro Sewu” (Seribu Cemara), pada lereng tersebut kita bisa menyaksikan deretan panjang pohon cemara, karena banyaknya disebut “sewu”. Di pos pemberangkatan pendakian “Cemoro Sewu” sudah tersedia berbagai fasilitas untuk pendaki, mulai fasilitas kamar mandi, masjid, warung makan dan perlengkapan pendakian, tak kalah penting calon pendaki bisa menyewa pemandu dari sini.

Lokasi ini terletak pada ketinggian 1600 meter dpl. Tak heran, bila suhu udaranya sangat dingin, rata-rata 15 derajat Celsius. Ada baiknya calon pendaki mempersiapkan diri dengan baik, suhu udara bisa berubah cepat setiap saat, apalagi saat musim penghujan.

Banyak pendaki kesulitan naik dan turun saat cuaca ekstrem dari puncak Lawu. Untuk mendaki sampai ke Puncak “Hargo Dumilah” (3265 meter) para pendaki harus melewati 5 pos pemantauan, rata-rata waktu tempuh sampai ke puncak adalah 7 – 8 jam perjalanan. Kecepatan waktu ini tergantung kondisi cuaca dan fisik saat melakukan pendakian, artinya bisa lebih cepat atau lambat.

Selain gerbang pendakian “Cemoro Sewu”, pendaki juga bisa lewat gerbang “Cemoro Kandang” untuk menuju puncak “Hargo Dalem” atau “Hargo Dumilah.” Meski jarak kedua gerbang tidak jauh hanya sekitar 200 meter namun jalur (trek) berlainan. Jalur pendakian ke “Cemoro Kandang” lebih berliku-liku dibandingkan Cemoro Sewu. Namun, kedua gerbang itu sama-sama menyajikan keindahan alam yang menakjubkan.

Gerbang mana yang kita pilih untuk naik ke puncak tergantung selera kita. Pada setiap tahun baru Kalender Islam atau 1 Suro (1 Muharram) dua gerbang pendakian itu selalu dipadati pendaki dari berbagai daerah yang ingin menikmati suasana tahun baru berbeda di puncak Lawu.

      3. Astana Mangadeg

Bagi warga kota Solo dan sekitar nama Astana Mangadeg sudah tidak asing lagi. Di tempat ini disemayamkan jasad pendiri Keraton Mangkunegaran atau Mangkunegoro I yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyowo. Tempat ini terletak di atas bukit setinggi 750 meter dpl, dan merupakan bukit tertinggi diantara deretan bukit di gunung Lawu. Lokasi tepatnya berada di Kecamatan Metesih, Kabupatan Karanganyar.

Di sebelah kompleks pemakaman Mangkunegoro I yang bernama kecil Raden Mas Said terletak komplek pemakaman keluarga Presiden RI kedua, Soeharto. Komplek pemakaman ini dinamai Astana Giribangun yang tinggi perbukitannya sedikit di bawah Mangadeg.

Setiap tanggal 1 Suro ( 1 Muharram) banyak pengunjung dari luar kota mendatangi Astana Mangadeg untuk sekadar berziarah atau mencari berkah (ngalap berkah). Masih banyak anggota masyarakat menganggap makam Raden Mas Said bertuah mampu memberikan solusi persoalan kehidupan seperti masalah rezeki, jodoh, kenaikan pangkat/jabatan. Di pemakaman ini juga disemayamkan raja-raja Mangkunegaran keturunan dari Raden Mas Said.

Sebenarnya tak hanya itu manfaat yang dapat diperoleh saat mengunjungi tempat ini. Pengunjung dapat pula menikmati udara sejuk dan menikmati buah durian hasil tanam petani dari sekitar komplek makam. Di era media sosial saat ini, pengunjung dapat mengabadikan momen dengan berfoto berlatarbelakang kota Solo. Ada beberapa spot lokasi yang dianggap sakral di Astana Mangadeg dimana pengunjung tidak boleh sembarang berselfie-ria, konon bisa kena tuah.

      4. Candi Sukuh dan Cetho

Dua candi ini terletak di lereng bagian barat gunung Lawu, tepatnya di desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Komplek candi dikelilingi oleh hamparan luas kebun teh. Desa ini terletak 1186 meter dpl sehingga cocok untuk berkebun  teh. Kedua candi ini tidak dalam satu lokasi / kompleks namun terpisahkan oleh jarak beberapa kilometer. Untuk mencapai lokasi Candi dari kota Solo diperlukan waktu sekitar 1,5 jam dengan medan jalan yang meliuk-liuk.

Candi Sukuh menurut catatan sejarah dibangun pada abad ke-15. Tidak seperti candi Hindhu di Jawa Tengah pada umumnya, memiliki gaya arsitektur candi berundak seperti pada zaman pra-sejarah dan menghadap ke barat. Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada masa transisi keruntuhan kerajaan Hindhu dan masa masuknya agama Islam. Candi ini memiliki luas area 5.500 m2 dan terdiri dari 3 teras yang masing-masing terhubung dengan gapura batu yang sempit.

Sekilas bangunan candi mirip dengan candi Suku Maya di Meksiko. Menurut para ahli berdasarkan relief yang ada di Candi Suku, candi ini dibangun untuk tujuan ruatan.

Candi ini dilaporkan pertama kali saat penjajahan Inggris, Residen Surakarta Johnson melaporkan keberadaan candi ini ketika ditugasi oleh Letnan Gubernur Inggris di Jawa, Thomas Stanford Raffles pada tahun 1815. Raffles juga dikenal yang membangun Singapura dimana saat itu sedang menyusun buku berjudul “The History of Java.” Setelah pendudukan Inggris berlalu, arkeolog Belanda  Van der Vlis melanjutkan temuan tersebut lewat penelitian. Baru pada tahun 1928 Candi Sukuh dilakukan pemugaran.

Mitos populer dari Candi Sukuh adalah “mitos keperawanan.” Konon, bila seorang wanita naik tangga piramida candi yang sempit itu dan kain yang dikenakan sobek artinya sudah tidak perawan lagi. Sebelum menaiki piramida untuk kaum wanita diwajibkan mengenakan kain yang dililit di pinggang ke bawah. Konon dahulu piramida ini untuk mengetes keperawanan seorang wanita.

Candi Sukuh memiliki relief unik. Orang zaman sekarang mungkin menganggapnya sebagai pornografi. Pada dinding candi terlihat ukiran-ukiran vulgar yang menunjukan alat kelamin laki- laki dan perempuan. Dalam tradisi Hindhu bentuk alat kelamin pria dan wanita itu disebut Lingga dan Yoni seperti bentuk patung Monas di Jakarta.

Lingga dan yoni memang sudah lama dikenal sebagai lambang kesuburan. Lingga merupakan simbol paling sederhana dan kuno dari Siva atau Dewa Siwa. Sementara yoni merupakan simbol sang istri, Parwati. Keduanya menandakan kesuburan. Pada tahun 1995 UNESCO telah menetapkan Candi Sukuh sebagai salah satu situs warisan dunia.

Sama seperti Candi Sukuh, menurut sejarah Candi Cetho dibangun pada akhir abad ke-15. Sebagaimana Candi Sukuh, Candi Cetho juga memiliki gaya arsitektur bangunan yang unik berupa pundak berunden. Terdiri dari 14 teras dari atas ke bawah serta menghadap ke arah barat.

Candi Cetho pernah dipugar sepihak pada akhir 1970-an oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Suharto (presiden kedua Indonesia) mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam.

Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks. Juga tentang bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden, yang dinilai tidak original lagi.

Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati. Arca ini merupakan sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, pada punden lebih tinggi daripada bangunan kubus.

Di kawasan Candi Cetho juga terdapat gerbang pendakian ke puncak Lawu. Menurut beberapa pendaki sangat sensional dapat menikmati turunnya kabut tebal secara perlahan. Di sisi lain juga dikenal jalur pendakian sebagai jalur ghaib. Para pendaki ketika melewati padang ilalang di lereng Lawu dan berangin kencang sering mendengar suara bising layaknya sebuah pasar, hingga sering disebut lokasi ini sebagai “Pasar Setan”.

      5. Telaga Sarangan

Telaga Sarangan sudah sangat populer sejak jaman Belanda. Dulunya, bangunan-bangunan di Sarangan merupakan tempat peristirahatan dan villa orang-orang Belanda. Saat Agresi Militer Belanda II bangunan-bangunan itu dibakar oleh tentara RI. Kini sekitar telaga ini sudah dipenuhi bangunan hotel dan villa. Tempat-tempat peristirahatan ini tak pernah sepi pengunjung apalagi pada hari-hari libur dan hari raya.

Terletak di lereng bagian timur gunung Lawu , Telaga Sarangan memiliki magnet kuat menarik pengunjung. Udaranya sejuk cenderung diingin dengan suhu udara 15 – 20 derajat Celsius, pengunjung dapat melayari telaga dengan perahu dayung atau mesin tempel yang disewa.

Telaga ini juga dikenal dengan sebutan Telaga Pasir yang berada di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Memiliki luas sekitar 30 hektar dan kedalaman rata-rata 28 meter. Uniknya, telaga ini terletak di lereng gunung dengan ketinggian 1200 meter dpl. 

Aktifitas rekreasi yang menarik selain berperahu di lokasi ini adalah berkuda, dimana pengunjung dapat menyewa kuda-kuda yang disediakan di seputar telaga. Bila masih takut berkuda sendiri dapat meminta pemandu untuk mengawal, kecuali bagi yang sudah mahir tentu tak perlu pemandu. Kegiatan ini cukup menyenangkan, kita bisa menikmati keindahan hamparan air Telaga Sarangan dan  pegunungan hijau “Sidoramping” di sekitar area Gunung Lawu dari pinggir di atas kuda.

Dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, di telaga ini ada mahluk penunggunya, yaitu dua ekor naga yang diyakini adalah jelmaan dari dua tokoh cerita rakyat Kyai dan Nyai Pasir, atau Kyai dan Nyai Jalilung. Keduanya berubah menjadi ular naga setelah memakan sebutir telur di sebuah pancuran air, yang mana pancuran air kecil inilah yang disebutkan berubah menjadi Telaga Sarangan sebesar yang sekarang karena keberadaan dua ekor naga tersebut.

Mitos lainnya bahwa tempat ini seolah pantang didatangi oleh pasangan kekasih, pasangan kekasih berpacaran yang datang ke tempat ini disebutkan bisa gagal bersatu menjadi pasangan suami-istri karena tak lama setelah berkunjung ke Telaga Sarangan. Anda boleh percaya atau tidak dengan cerita ini.

Telaga Sarangan memiliki beberapa kalender event penting tahunan. Diantaranya, ritual labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah,liburan sekolah di pertengahan tahun, Bedug Sura 1 Muharram,dan pesta kembang api di malam pergantian tahun.  (K-SB)

Wisata
Ragam Terpopuler
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Bunga Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...