Bahasa | English


PARIWISATA

Pesta Tarian Perang di Awal Oktober

30 September 2019, 09:05 WIB

Festival Likurai masuk dalam 100 Calendar of Events (CoE) Wonderful 2019 Kementerian Pariwisata. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada 1--6 Oktober 2019.


Pesta Tarian Perang di Awal Oktober Festival Likurai. Foto: Pesona Indonesia

Festival Likurai adalah pesta tarian perang dari masyarakat Pulau Timor, khususnya mereka yang tinggal di Kabupaten Belu. Festival ini merupakan sebentuk upaya pemerintah NTT untuk melestarikan budaya likurai, dan diharapkan menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di wilayah Timor Barat.

Festival Likurai merupakan pesta tari kolosal karena tarian likurai bisa dilakukan oleh ribuan penari dari Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan negara tetangga Timor Leste. Belu adalah kota di Indonesia yang berbatasan dengan wilayah negara Timor Leste, yang dulu berjuluk Timor Timur ketika masih bersatu dengan Republik Indonesia.

Biasanya Festival digelar di puncak bukit Fulan Fehan yang terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lakmanen, Kabupaten Belu. Fulan Fehan sendiri adalah merupakan satu destinasi wisata yang berupa hamparan luas padang sabana. Sebagai latar belakang Gunung Lakaan yang dikitari bebatuan karang dan ditumbuhi kaktus liar, Fulan Fehan menawarkan pemandangan yang khas dan indah.

Tari likurai biasanya dibawakan oleh penari laki-laki yang membawa pedang dan penari perempuan dengan kendang kecilnya atau tihar. Kepopuleran tari likurai kian melambung setelah sukses memecahkan rekor MURI pada Oktober 2017 untuk jumlah penari tradisional terbanyak, yakni 6.000 penari.

Likurai adalah tarian khas yang merupakan warisan serta budaya leluhur dari masyarakat di daerah ini. Di zaman dulu, tarian ini dilakukan untuk menyambut para pahlawan desa yang baru pulang dari perang.

Konon, di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur, terdapat tradisi memenggal kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaannya. Untuk merayakan kemenangan para pahlawan tersebut, biasanya ditampilkan tari likurai sebagai tarian penyambutan. Jadi tarian ini sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat akan kemenangan juga kembalinya pahlawan dengan selamat.

Namun setelah era kemerdekaan, tradisi penggal kepala sudah dihilangkan. Walaupun begitu, tari likurai masih dipertahankan oleh masyarakat Belu dan masih ditampilkan untuk upacara adat, penyambutan tamu penting, bahkan pertunjukan seni dan budaya.

Dalam pertunjukannya, tari likurai ditampilkan oleh para penari wanita dan penari pria. Jumlah penari biasanya lebih dari 10 orang  penari wanita dan dua orang penari pria. Penari wanita menggunakan pakaian adat wanita dan membawa tihar (kendang kecil) untuk menari. Sedangkan penari pria juga menggunakan pakaian adat pria dan membawa pedang sebagai atribut.

Gerakan penari wanita biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan kendang dengan cepat dan gerakan kaki menghentak secara bergantian. Selain itu penari juga menari dengan gerakan tubuh yang melenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan sesuai irama.

Sedangkan gerakan penari pria biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan pedang dan gerakan kaki menghentak sesuai irama. Selain itu, penari pria juga sering melakukan gerakan seperti merunduk dan berputar-putar sambil memainkan pedang mereka.

Saat pertunjukan, tari likurai biasanya tidak menggunakan musik pengiring apapun. Suara musik yang digunakan biasanya berasal dari suara kendang kecil yang dimainkan oleh penari wanita dan suara giring-giring yang dipasang di kaki penari.

Selain itu suara teriakan para penari pria yang khas juga membuat tarian tersebut semakin meriah dan kesan tarian perang juga sangat terasa. Di samping memiliki wisata budaya yang menawan, Pulau Timor, khususnya Timor Barat, juga menawarkan wisata alam yang tak kalah menarik. Ketika berada di Belu, sempatkan untuk mengunjungi wisata batu alam Fatuleu, Pantai Kolbano, Teluk Gurita, dan lain-lain. (E-2)

Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Gunongan, Peninggalan Arsitektur Pra-Islam di Banda Aceh
Catatan Joao De Barros (1552-1615) yang berumur sedikit lebih tua beberapa tahun sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta memberikan kepastian bahwa Gunongan tidak didirikan pada abad 17 M. ...
Taman Raja-Raja, Kitab Aceh Abad 17
Taman Raja-raja memang dia buat sebagai buku pegangan sejarah universal dan petunjuk kode etik bagi para penguasa. ...
Krisis dan Daya Tahan Demokrasi
Indonesia memberikan dukungan yang lebih tinggi terhadap keberlangsungan demokrasi. Tetapi dalam sisi lain secara kultural dan kesejarahan, publik Indonesia sebagian masih menyukai kepemimpinan yang k...
Gerakan Putra Putri Papua Inspiratif
Sekelompok putra putri Papua menggalang diri membuat organisasi Gerakan Papua Muda Inspiratif. Mereka berbagi cerita tentang angan mereka untuk membangun Tanah Papua yang lebih baik. ...
Ada Cinta dalam Kelezatan Pa’piong
Banyak orang tak mengenal masakan dari Indonesia timur. Sebaliknya, masakan dari Jawa dan Sumatera sangat mendominasi menu di resto dan hotel. Padahal Indonesia timur punya beragam kuliner dan kaya de...
Kue Lompong, Si Hitam Manis Asal Kutuarjo
Kenyal, harum, dan manis legit. Itulah rasa yang muncul dari kue lompong, penganan khas Kutoarjo, Jawa Tengah. ...
Kepulauan Maluku, Negeri Tanah Goyang dan Air Turun Naik
Catatan sejarah menyebutkan sejak 1600 sampai dengan 2015 mencatat lebih dari 85 kejadian tsunami terjadi di wilayah Maluku. ...
Cerita dari Kampung Kanibal Huta Siallagan: Jejak Kanibal Di Tanah Batak
Mengunjungi Danau Toba Sumatra Utara, jangan lupa menyempatkan waktu untuk menyeberang ke Pulau Samosir, mendatagi Huta Siallagan yang masih kental dengan budaya Batak. Di desa ini kita akan disambut ...
Wangsa Bonokeling, Kekayaan Kepercayaan Nusantara
Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang begitu melimpah. Dari Sabang hinga Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote terdapat ciri yang beragam. Selain itu Indonesia yang berada di garis ...
Seni Cadas dan Jejak Budaya Maritim
Pengetahuan mengenai teknik mengemudikan perahu yang aneka, yang khazanahnya terdokumentasi pada lukisan motif-motif perahu di berbagai situs seni cadas, jelas memperlihatkan masyarakat Nusantara tela...