Bahasa | English


ALAT TRADISIONAL

Mengenal Kelupi, Alat Tadisional Suku Dayak yang Hampir Punah

30 June 2019, 13:50 WIB

Melestarikan dan menggunakan benda-benda tradisional maupun kebudayaan peninggalan para leluhur terdahulu, memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan kembali di era serba teknologi ini. Bisa dikatakan, kekayaan tradisionional di hampir semua daerah di Indonesia, nyaris tergerus jaman. Padahal, melestarikan semua itu memiliki nilai sejarah dan dampak filosofi yang tinggi serta mendapatkan asas manfaatnya.


Mengenal Kelupi, Alat Tadisional Suku Dayak yang Hampir Punah Alat tradisional kelupi. Foto: Pesona Indonesia

Ketika kita meluangkan waktu sejenak, kemudian merefleksi kehidupan manusia Indonesia di era disruptif saat ini. Sebenarnya, ada ketidak konsistenan antara dinamisasi kehidupan yang serba canggih, dengan prinsip lahiria yang terbangun selaku masyarakat adat. Kita tau bahwa, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan budaya dan ribuan suku.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 yang dihasilkan melalui Sensus Penduduk (SP). Jumlah suku bangsa di Indonesia sebanyak 1.340. Dari jumlah tersebut, populasi suku bangsa terbanyak ada di Pulau Jawa, yakni sebesar 41%. Sementara beberapa daerah lainnya hanya berkisar ratusan. BPS juga merilis, salah satu penyebab suku di Indonesia yang belum jelas identitasnya dikarenakan perpindahan penduduk hingga percampuran budaya pada suatu daerah tertentu.

Memiliki suku bangsa sebanyak itu, tidak sekedar membuat bangga sebagai bagian dari warga negara Indonesia. Tapi yang lebih penting adalah, bagaimana setiap kearifan lokal yang ada di dalamnya tetap terjaga, serta ikut melestarian kekayan tradisional yang dimiliki masing-masing suku.

Untuk menemukan pelestarian tradisional di kota-kota besar mungkin terbilang hampir punah. Biasanya hal itu kita temukan hanya pada saat momen tertentu seperti festival budaya atau karnaval. Bahkan, di pedesaan pun, secara perlahan juga mulai menurun intensitas tersebut. Tapi jika kita menelusuri daerah-daerah yang masih jarang tersentuh teknologoisasi, sebenarnya masyarakat masih tetap melestarikan beberapa alat tradisionalnya.

Cara Menggunakan Alat Tradisional Kelupi

Jika di era sekarang ini, segala kebutuhan pangan yang kita konsumsi diproduksi melalui teknologi canggih. Namun kita akan melihat sesuatu yang berbeda dan mungkin belum kita temukan sebelumnya jika berkunjung ke Kalimantan Utara.

Adalah Kelupi yang merupakan alat tradisional yang masih dilestarikan di Desa Wisata Setulang, Malinau, Kalimantan Utara. Uniknya, masyarakat di desa setempat masih tetap melestarikan peninggalan para leluhur mereka hingga saat ini. Kelupi sendiri fungsinya untuk memeras tebu dengan menggunakan alat tradisional murni tanpa campur tangan teknologi apapun. Untuk melihat proses memeras tebu ini secara langsung, mungkin hanya bisa kita temukan di Desa Wisata Setulang ini.

Secara fisik, Kelupi sendiri adalah alat tradisional yang cukup besar dan berat. Untuk memproduksi tebu menggunakan Kelupi membutuhkan sekitar 5-7 orang. Hal itu karena Kelupi terbuat dari batang pohon yang utuh. Selain batang pohon tersebut, juga ada beberapa potongan kayu yang terdapat di tubuh pohon yang fungsinya sebagai tuas pemutar untuk memeras tebu. Menurut warga Desa Wisata Setulang yang dilansir dari Pesona Indonesia, kayu berukuran panjang tersebut merupakan kayu ulin yang terkenal sebagai bahan dasar untuk membuat Kelupi.

Selama proses produksi tebu menggunakan Kelupi. Ada kerifan lokal lainnya yang ikut dilestarikan masyarakat setempat dalam waktu bersamaan. Yaitu, musik dan tarian tradisional. Nah, jika berkesempatan mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung juga disuguhkan dengan nyanyian lagu-lagu daerah, juga bisa sambil menonton tarian-tarian yang tidak kalah uniknya. Perpaduan antara produksi tebu menggunakan Kelupi, musik dan tarian tradisional ini, bertujuan untuk menghibur para pemeras. Sisi edukasinya, kita akan melihat bagaimana suasana kekeluargaan dan kebersamaan benar-benar dirasakan masyarakat dengan penuh gembira.

Begitulah masyarakat desa yang belum terkontaminasi oleh pencampuran budaya barat di pusat perkotaan. Tidak bisa dipungkiri, untuk menikmati suasana seperti di Desa Wisata Setulang ini, mungkin sudah jarang kita temukan di Indonesia. So, jika kita merasa penat dengan hiruk-pikuk di pusat perkotaan, mungkin desa tempat bermukimnya 230 suku Dayak Kenyah ini, bisa menjadi salah satu tempat favorit untuk dikunjungi.

Upaya Melestarikan Kelupi

Dibalik keunikan dan ciri khas tersendiri dari Kelupi  tebu ini. Rupanya tidak banyak dikenal luas masyarakat Indonesia. Terlebih lagi masyarakat suku Dayak. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara menilai, Kelupi Tebu merupakan salah satu alat tradisional yang penuh makna sehingga penting untuk dilestarikan kembali. Upaya dari pemerintah setempat agar, masyarakat suku Dayak, khususnya di desa wisata Setulang mempunyai semangat dan komitmen untuk melestarikan kelupi tebu ini.

Salah satu cara untuk tetap melestarikan kelupi tebu adalah melalui atraksi wisata. Kombinasi antara potensi pariwisata di Kalimantan Utara dengan alat tradisional tersebut, bisa menjadi daya tarik masyarakat setempat. Tapi tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Malinau juga memiliki inovasi lainnya. Misalnya, memproduksi gula pasi menggunakan kelupi yang tentu saja dilakukan secara tradisional. Hasil produksi gula pasir ini sebenarnya tidak diperdagangkan ke luar kota. Pemerintah setempat hanya menginginkan masyarakatnya memanfaatkan produksi gula untuk kebutuhan sehari-hari. Selain masyarakat, hasil produksi tersebut juga digunakan untuk kebutuhan di kantor-kantor kabupaten.

Sekilas tentang warga Dayak Kenyah yang berawal dari sejarah, mereka bermukim di suatu daerah bernama Long Sa’an. Di wilayah terpencil di Kalimantan Utara itu lah asal muasal warga Dayak Kenyah berasal, kalau di lihat memang kehidupan mereka sebelumnya jauh dari peradaban manusia. Daerah Long Sa’an sendiri secara letak geografis berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Namun hingga saat ini, warga Dayak Kenyah tidak lagi menempati daerah tersebut. Sekitar 50 tahun yang lalu, mereka memutuskan untuk meninggalkan Long Sa’an dengan alasan jauh dari peradaban manusia. Untuk bisa keluar dari Long Sa’an dan mencari lingkungan yang lebih terbuka, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup panjang di tengah hutan Kalimantan Utara. Hingga pada akhirnya, warga Dayak Kenyah ini melanjutkan kehidupan mereka di Sungai Setulang hingga saat ini. Meskipun telah bermigrasi dari Long Sa’an, bukan berarti ikut melepaskan berbagai sejarah peninggalan para leluhur. Komitmen untuk tetap melestarikan kearifan lokal daerahnya itu masih tertanam dalam diri mereka masing-masing, salah satunya alat tradisional kelupi tebu tersebut. (K-IK)

Seni
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...
Kanjeng Ratu Kidul
Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung. Meskipun demikian kepercayaan tradisional meyakini, tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Menariknya, Suna...
Jadi Pengikut atau Pelopor, Dilema Mobil Listrik Nasional
Para pemain lama sudah sangat gemuk dengan kompleksnya teknologi perakitan dan teknologi purnajual berbasis mesin bakar. Sedangkan bagi Cina yang sudah lebih lama mengembangkan teknologi penyimpanan l...