Bahasa | English


ALAT MUSIK

Merawat Nandong, Seni Tutur Penuh Makna dari Pulau Simeulue

28 November 2019, 07:24 WIB

Nandong adalah sebuah kesenian tradisional Simeulue yang sangat populer di kalangan masyarakat Simeulue. Masyarakat nya tinggal di Kepulauan Simeulue yang terletak di tengah Samudera Indonesia bagian Barat Sumatera yang sudah didatangi berbagai imigran sejak zaman dahulu.


Merawat Nandong, Seni Tutur Penuh Makna dari Pulau Simeulue Alat Musik Nandong. Foto: Kemdikbud

Melalui kesenian Nandong atau Nanga-nanga yaitu bersyair, para orangtua di Kabupaten Simeulue mengajarkan kepada anak-cucunya tentang kearifan melihat gejala bencana alam.

Terlebih bencana alam kerap menghampiri daerah pesisir atau kepulauan tempat mereka tinggal. Seperti gempa bumi dan gelombang laut besar yang kini disebut tsunami. Sedangkan dalam Nandong, tsunami dikenal dengan nama smong.

Maka tak dapat dipungkiri dalam lembar catatan sejarah, warga Simeuleu sudah mengenal tsunami sejak beberapa abad silam. Pengalaman mengalami smong atau gelombang tsunami tahun 1907 di daerah Salur, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue diturunkan melalui syair nyanyian Nandong dari generasi ke generasi agar cermat membaca tanda alam.

Dalam syair juga dijelaskan ciri-ciri gejala bencana alam, seperti guncangan gempa yang kuat, air laut yang tiba-tiba surut, dan gelombang besar yang melanda setelahnya.

Dan terbukti, pada saat gempa dan gelombang tsunami melanda pantai barat Aceh dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 silam, warga Simeulue yang tinggal di kawasan pesisir justru tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban jiwa paling sedikit.

Dari 78 ribu penduduk Pulau Simeulue yang sebagian besar adalah nelayan dan tinggal di kawasan pesisir, korban jiwa tercatat 7 orang. Jauh lebih kecil dibanding daerah lain yang dilanda gempa dan tsunami 10 tahun lalu.

Meski tak mempunyai teknologi peringatan dini terjadinya tsunami, masyarakat Simeulue mampu membaca tanda-tanda alam. Kerifan lokal yang diwariskan turun-temurun ini pula mampu menghindari jatuhnya banyak korban saat bencana tsunami.

“Nandong ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari manusia, berkaitan juga dengan aktifitas kita, nandong ini bisa dikatakanlah suatu media atau pesan-pesan kepada kita semua, jadi maksudnya kalau ada suatu kejadian itu, sudah dikabarkan melalui nandong ini, artinya mengingat masa lalu dan menjalankan masa sekarang dan masa depan,” ujar Juman, Pelaku Seni Nandong.

Nandong pada masyarakat Simeulue adalah media mengungkapkan perasaan. Termasuk dalam seni tutur yang telah lama mengakar dalam kebudayaan Simeulue.

“Nandong ini adalah kesenian yang turun temurun dari nenek moyang kita zaman dahulu. Jadi nandong ini suatu mengisahkan tentang kehidupan manusia yaitu tentang nasihat-nasihat kejadian-kejadian yang lampau dan kejadian saat sekarang dan juga yang akan datang dimasa depan,” jelas Juman.

Seni tutur nandong dimainkan dengan menggunakan alat musik kedang (gendang) dan biola serta dapat dimainkan oleh sekurang-kurangnya dua orang, yaitu penabuh kedang dan pemain biola merangkap sebagai pembawa syair nandong.

Idealnya, nandong dimainkan oleh 3-5 orang atau lebih. Namun demikian, nandong dapat juga dibawakan oleh hanya seorang saja tanpa alat musik, misalnya ketika sedang mendayung perahu atau memancing, bekerja di sawah atau juga ketika sedang memetik cengkih jika tiba musimnya.

Biasanya sebelum Nandong dimulai, terlebih dahulu diawali dengan Seuramo Gendang. Kemudian kesenian Nandong berturut-turut masuk pada tingkatan syair pantun, serak, samba, rantau, kasih, dan izin.

Musik nandong umumnya bernada lirih, dan para penyanyinya bersuara menjerit meratap-ratap. Juman mengatakan untuk menghabiskan lantunan syair Nandong membutuhkan waktu pertunjukan semalam suntuk.

Kesenian khas daerah Simeulue ini sering diadakan pada acara-acara tertentu seperti syukuran, sunatan, pesta pernikahan, dan pesta rakyat. Kini kesenian ini juga telah banyak diminati oleh masyarakat luar dan syair-syairnya telah ditelusuri oleh para peneliti secara mendalam.

Menurut Juman, saat ini Nandong telah digeluti oleh semua lapisan masyarakat di hampir semua desa yang terdapat di Kabupaten Simeulue. Karena kesenian Nandong telah terbukti dapat memberi pesan edukasi dan kewaspadaan saat bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.

Selain itu makna sesungguhnya yang diharapkan adalah Nandong mampu berfungsi sebagai media penyampai isyarat, pendidikan, pencatat sejarah yang sangat edukatif untuk terus dikembangkan pada setiap generasi.

“Ini mengisyaratkan penyebaran riwayat kejadian besar seperti tsunami yang pernah terjadi dikampug kami, melalui Nandong sangat efektif untuk mengingat masyarakat akan kearifan luhur yang diberikan oleh nenek moyang kami” tuturnya.

Seni tutur ini telah disahkan/ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) pada tahun 2016 oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. (K-YN)

Alat Musik
Seni
Ragam Terpopuler
Mengembalikan Kejayaan Ai Kamelin
Bernilai ekonomi tinggi membuat eksploitasi tanaman cendana menjadi berlebihan. IUCN pada 1997 menetapkan cendana Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi risiko kepunahan (vulnerable). ...
Pesona Koto Tinggi, Nagari yang Pernah Jadi Ibu Kota Negara
Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa.   ...
Hap! Melayang Sejenak Bagai Burung
Selama beberapa detik pertama kita pasti akan tertegun karena akhirnya bisa seperti burung, terbang di kesenyapan alam ditemani embusan sejuk angin pegunungan. ...
Jejak Panjang Telaga Biru
Ada sekitar 6.200 bekas galian tambang timah yang belum direklamasi di Bangka dan ribuan lainnya di Belitung. Kolam baru masih bermunculan. Sebagian menjadi danau biru yang indah. ...
Menjaga Ikan Manta Tetap Menari
Setiap induk ikan pari manta hanya melahirkan seekor anakan dalam rentang waktu dua hingga lima tahun sekali. Sayangnya, perburuan hewan itu masih saja terjadi. ...
Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi
Kerajinan bordir Sumbar mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga awal 1990. Salah satu produk kerajinan bordir Sumbar yang terkenal adalah kerancang. ...
Ceumpala Kuneng Kebanggaan Aceh
Maraknya perburuan dan pembalakan hutan membuat populasi ceumpala kuneng di hutan liar Aceh menjadi semakin terdesak. Kini satwa itu berstatus terancam punah. ...
Sensasi Nasi Tutug Oncom Khas Tasikmalaya
Awalnya nasi tutug oncom adalah menu makanan harian bagi masyarakat kelas bawah di tanah Sunda pada era 1940-an. Rasanya yang enak membuat lambat laun makanan ini naik kelas. ...
Kecap Manis: Jejak Silang Budaya Nusantara dan Tiongkok
Awalnya pedagang Tionghoa datang membawa kecap asin. Tapi sesampainya di Jawa kecap asin tidak laku. Gula kelapa jadi solusi, dan kecap asin pun berubah menjadi kecap manis. ...
Uniknya Danau Asin Satonda
Danau Satonda memiliki kadar asin melebihi air laut di sekitarnya dan menyebabkan hampir semua jenis moluska musnah. Konon air danau berasal dari air mata penyesalan Raja Tambora. ...