Bahasa | English


SENI TARI

Tari Legong dari Ritual ke Hiburan

19 December 2019, 08:46 WIB

Orang Bali menyebutnya sebagai tari penyambutan untuk para tamu. Jika kita datang di beberapa hotel di Bali dan disambut dengan tarian, dimana para penarinya memakai kipas dan kembang goyang selain dengan kelengkapan pakaian adat Bali yang disajikan oleh tiga atau lebih penari, maka dipastikan itu adalah tari legong.


Tari Legong dari Ritual ke Hiburan Tari Legong Bali. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Memang, para penari klasik ini selalu tampil penuh dengan asesoris dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tari ini sangat populer dalam dunia pariwisata di Bali selain tari pendet dan tari kebyar yang merupakan tari penyambutan. Legong ditarikan oleh dua penari, satu diantara penari disebut condong. Penari legong selalu berkipas tetapi penari condong tidak.

Penari condong menari selama 10-15 menit sebagai pembuka dengan karakter tarian yang menurut etnomusikologis Michael Tenzer, ‘tajam dan intens’. Selama condong menari, dua penari legong menggerakkan badan seperti berayun di depan penabuh gamelan. Warna busana yang dikenakannya cukup khas, yaitu merah, kuning dan ungu serta rangkaian bunga memanjang di dekat mahkota.

Konon, pada paruh kedua abad 18, seorang raja Sukawati, Gianyar, bernama Raja I Dewa Agung Made Karna atau lebih dikenal sebagai raja Sukawati mendapatkan gerakan-gerakan tari legong dari mimpi yang didapatkannya saat sakit keras. Legong, awalnya merupakan tari ritual dan ditarikan di Pura dan lingkup Istana. Tapi seiring perkembangan zaman, kini tari ini dipakai untuk penyambutan dan hiburan (wisata). Salah satu maestro tari legong yang masih aktif adalah dr Bulantrisna Djelantik

Usai sakit keras dan berada di Pura Jogan Ketewel Gianyar, Raja Sukawati berusaha mengonstruksi gerakan-gerakan bidadari di mimpinya itu dengan dibantu bendesa (pemimpin) adat Ketewel. Saat gerakan lengkap, dia menamakan tarinya Tari Sang Hyang Legong dengan para penari yang memakai topeng. Istilah Sang Hyang merujuk pada tarian sakral dan berhubungan dengan ritual adat.

Karena sakral, tari ini dipentaskan di halaman pura dan puri (istana) pada hari-hari tertentu. Para penarinya pun tidak sembarangan karena harus masih murni dan belum mengalami siklus menstruasi. Gamelan yang mengiringinya adalah gamelan Semar Pagulingan yang punya hubungan erat dengan garak tari yang dibawakannya.

Itulah sebabnya tari ini dinamakan legong (Leg: gerak tari, gong: instrumen pengiring). Raja Sukawati menyatakan bahwa tari legong merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat Bali terhadap para leluhurnya atas anugerah yang mereka terima berupa pulau indah yang mereka huni. Gerakan tarian legong adalah peniruan alam yang dibuat amat abstrak dan diolah sedemikian rupa sehingga enak disajikan.

Akademisi dan budayawan Bali, Prof I Made Bandem, dalam bukunya Evolusi Tari Bali mengatakan bahwa tari legong tidak pernah tertulis dalam beberapa lontar sejarah Bali. Namun tari ini amat terkenal di lingkup puri karena dipopulerkan oleh para perangkat puri. Menurutnya, beberapa elemen tari legong menyiratkan hubungannya dengan kepercayaan dan budaya Hindu Jawa.

Budaya ini amat berbeda dengan budaya pra-Hindu yang tercermin pada tari-tarian Sang Hyang Murni. Kebudayaan Hindu Jawa di Bali sering dituangkan dalam bentuk seni gambuh yang merupakan tipe drama tari zaman pra-Islam pada abad ke 15. Karena itu, tari legong paling banyak menyerap cerita Lasem yang kental dengan unsur cerita Panji yang amat terkenal di Kediri pada abad 12–13.

Tapi sebenarnya cerita bukan elemen penting dan menarik dalam tari legong karena cara pendramaannya sangat sederhana dan abstrak. Orang tidak bisa begitu saja mengerti tari legong tanpa mendengarkan dialog dari juru tandak, yaitu pesinden pria yang duduk di tengah gamelan. Hal yang menarik dari tari legong adalah gerakannya itu sendiri.

Transformasi Pada Abad 19

Sejak diciptakan, tarian ini mengalami naik turun seiring zaman. Tari legong lebih sering dicap sebagai tari para bangsawan karena hanya populer di puri saja untuk menunjukkan kekayaan dan kemampuan puri. Ketika beberapa puri di Bali ditengarai sangat dekat dengan Belanda yang saat itu menjajah Nusantara, tarian ini meredup dan tidak lagi disajikan di pura maupun puri. Otomatis regenerasi penari legong nyaris putus pada zaman itu.

Lalu beberapa ahli dan peminat tari merevitalisasi tari ini. Tak saja ditarikan oleh para anak-anak yang belum dewasa tapi bisa ditarikan wanita umum. Beberapa gerakan diubah, ada yang ditambah dan ada yang dikurangi dan tak lagi memakai topeng. Sehingga tari legong yang kita nikmati saat ini sejatinya berbeda dengan tari legong pada awal mulanya. Tari legong tidak lagi sebagai manisfestasi dari leluhur seperti halnya tari-tari Sang Hyang. Tapi dipertunjukkan untuk hiburan para leluhur dan tidak untuk ritual adat.

Tari Legong akhirnya keluar dari lingkup puri dan dipelajari oleh rakyat kebanyakan serta menyebar ke beberapa daerah di Bali. Pada tahun 1928 seiring perkembangan politik Nusantara, evolusi atau lebih tepatnya transformasi membawa tarian ini berubah dari tarian adat menjadi tari hiburan. Sejak tahun 1931 tari ini disajikan untuk tamu yang berkunjung di Bali dan kemudian menjadi tari wisata.

Kini setidaknya ada 18 tari legong selain Tari Legong Lasem (Legong Kraton) yang merupakan tari legong paling tua. Ada Legong Jobog yang menceritakan Subali–Sugriwa yang menjadi kera ketika berebut ajimat, Legong Legod Bawa tentang persaingan dewa Wisnu dan dewa Brahma untuk mencari lingga Dewa Syiwa. Ada juga Legong Kuntul, Legong Asmaradana, Legong Sudarsana, Legong Andir, Legong Playon dan Legong Mintaraga.

Legong Asmaradana adalah ciptaan Bulantrisna Djelantik. Penari AA Bulantrisna Djelantik banyak memperkenalkan tari legong ke berbagai daerah sampai keluar negeri dan aktif melakukan regenerasi penari. Bulantrisna yang juga seorang dokter ini adalah keturunan raja terakhir Karangasem, AA Anglurah Djelantik. Ayahnya dr AA Made Djelantik adalah tokoh dan budayawan Bali.

Tari Legong Keraton ditetapkan sebagai warisan budaya dunia non benda oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2015. Tari Legong Keraton adalah salah satu dari sembilan tarian Bali yang mendapat penghargaan serupa disamping Tari Barong Ket, Tari Rejang, Tari Joged Bumbung, Drama Tari Wayang Wong, Drama Tari Gambuh, Topeng Sidha Karya, Tari Bari Upacara dan Tari Sang Hyang Dedari. (K-CD)

Seni
Tari Legong Bali
Ragam Terpopuler
Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK
Varian baru Covid-19 asal Inggris menjadi momok baru. Genom B-117-nya dimungkinkan berasal dari virus lain yang membuatnya lebih menular. Varian Afrika Selatan masih tunggu bukti ilmiah. ...
Si Manis di Ambang Kepunahan
Angka perdagangan gelap trenggiling asli Indonesia masih tinggi. Sepanjang 10 tahun terakhir, 26.000 ekor trenggiling diselundupkan. ...
Ada Kebun Raya di Cibinong
Meski sama-sama menyandang status sebagai kebun botani, konsep Kebun Raya di Cibinong berbeda dengan di Bogor. Jika di Bogor tumbuh-tumbuhan yang ada ditata berdasarkan famili, maka di Cibinong dikelo...
Merawat Eksotisme Benteng Pendem
Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah ag...
KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Satu dari dua kapal bantu rumah sakit pesanan TNI-AL yang diproduksi PT PAL Indonesia telah selesai. Kapal ini setara dengan rumah sakit tipe C. ...
Kalpataru, 40 Tahun Mengapresiasi Pahlawan Lingkungan
Penghargaan Kalpataru diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih. ...
Museum Timah, Saksi Kejayaan Muntok
Kota Muntok di Pulau Bangka dikenal sebagai pusat produksi dan perdagangan timah dunia. Muntok merupakan hadiah pernikahan Sultan Palembang kepada permaisurinya di tahun 1722. ...
Mendandani Teras Indonesia di Natuna
Pemerintah akan membangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Serasan, Natuna Provinsi Kepulauan Riau dengan konsep laut. Ini akan menjadi pos perbatasan terpadu pertama yang dibangun ...
Pesona Ketenangan di Pulau Setan
Pulau Setan menjadi salah satu surga wisata di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Apalagi secara keseluruhan objek wisata Kawasan Mandeh memiliki gugusan dan kesamaan dengan Raja Ampat...
Akhirnya Corina Pulang Kampung
Corina merupakan seekor harimau sumatra yang berhasil diselamatkan dari jeratan perangkap baja para pemburu liar satwa endemik Pulau Sumatra ini. ...