Bahasa | English


ALAT TRADISIONAL

Tenangkan Jiwa Dalam Alunan Rindik

26 August 2019, 05:07 WIB

Suaranya khas, sedikit berada di alur nada yang tinggi, tidak seperti alunan langgam Jawa yang mengalir, detak iramanya terasa lebih cepat, lebih tersentak sesuai dengan ketukan yang mengalun. Sementara irama pentatonik dan salendro dari lima nada yang berulang dimainkan lewat ragam gamelan dan angklung yang serentak menciptakan irama yang membuat orang bergerak untuk menikmatinya.


Tenangkan Jiwa Dalam Alunan Rindik Alat Musik Rindik. Foto: Dok. Bali

Rindik, alat musik tradisional khas Bali tercipta dari sejarah panjang kekayaan seni dan budaya di Indonesia, khususnya di pulau Jawa dan Bali. Pelancong yang datang dari luar Bali dan mendengarkan alunan ini akan segera sadar bahwa mereka telah berada di pulau yang indah ini. Bagi siapapun yang mendengarkan Rindik dimainkan dimanapun akan berhenti dan menikmati nada-nada salendro yang dihasilkan oleh alat musik tradisional khas Bali ini. 

Alat musik khas ini berasal dari sejarah kejatuhan kerajaan Majapahit yang tadinya begitu digdaya menguasai Nusantara. Namun ketika Ponorogo, daerah kecil di timur pulau Jawa melakukan pemberontakan kepada Majapahit, banyak angklung-angklung Reyog yang menjadi senjata kerajaan dan juga bisa berfungsi sebagai alat musik ditinggal pergi. Maka, saat terjadi serbuan dari Kerajaan Demak, angklung-angklung dan gamelan tersebut dengan segera diungsikan ke pulau Bali sehingga berpindahlah akar seni budaya dari kerajaan Majapahit. 

Setibanya di Bali, pemusik-pemusik Majapahit mengalami kesulitan untuk merangkai kembali gamelan-gamelan yang dibawanya, termasuk angklung yang juga diangkut. Angklung Bali memang tidak sama dengan alat musik yang berasal dari Jawa, namun cara memainkannya sama dan menghasilkan suara yang sama seperti gamelan yang dibuat dari bahan logam.

Nama rindik sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti ‘ditata dengan rapi dengan celah kecil’. Ini menceritakan tentang saat-saat para pemusik dari Majapahit yang lari ke Bali sedang menata kembali alat-alat musik lama yang pada akhirnya tercipta alat musik baru yang diberi nama rindik. Alat musik ini kemudian berevolusi sesuai dengan kearifan lokal pulau Bali yang terbuat dari bambu dan bernada ‘salendro’ dan dimainkan dengan cara dipukul. 

Memainkan Rindik

Seperti kebanyakan instrumen  gamelan Bali, rindik disusun berpasangan namun berbeda nada. Satu instrumen memiliki nada yang lebih tinggi dari instrumen pasangannya sehingga menghasilkan dengungan yang khas rindik dan bernuansa Bali.

Satu rindik dimainkan dengan dua atau tiga pemukul, satu dipegang di tangan kiri dan satu atau dua di tangan kanan. Biasanya melodi yang mengalun dihasilkan oleh nada yang dipukul dari tangan kiri sedangkan tangan kanan memainkan pola yang menciptakan suara nada yang terkait untuk mengiringi melodi di tangan kiri.

Meskipun terlihat mudah, namun memainkan rindik adalah sebuah ketrampilan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi mahir. Dengan irama nada yang cepat dan tangan kanan serta kiri memainkan dua atau tiga pemukul untuk menciptakan irama melodi, bisa dipastikan butuh waktu lama untuk bisa trampil di alat musik tradisional Bali ini. 

Dalam satu rangkaian alat musik rindik biasanya dimainkan oleh dua sampai lima orang pemain dimana dua orang memainkan rindik dan sisanya mengiringi dengan irama seruling serta gong pulu. Seperti banyak alat musik tradisional lainnya, nada dasarnya hanya lima dan karena itulah ia disebut alat musik pentatonik bernada salendro. 

Pada awalnya rindik hanya digunakan sebagai alat musik untuk menghibur para petani di sawah dan juga untuk hiburan rakyat ‘Joged Bumbung’. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini rindik digunakan untuk bermacam keperluan mulai dari musik pelengkap di berbagai acara atau pesta pernikahan, bersantai sambil menikmati alunan nadanya yang khas, hingga digunakan sebagai musik penyambut tamu negara yang berkunjung ke pulau Bali. 

Suara Rindik

Seperti alat musik lainnya, rindik juga mempunyai kunci yang dapat disetel untuk menghasilkan nada yang merata. Suara dengungan halus yang dihasilkan oleh alat musik ini akan menciptakan nada angin yang berdesir berhembus di tengah-tengah sawah yang menguning di hari-hari yang cerah. Tak salah memang jika disebutkan bahwa alat musik ini berevolusi dan tercipta dari repertoar musik ciptaan para petani padi, terutama di awal abad ke-20 ketika alat musik ini semakin berkembang dengan pesat di pulau Bali. 

Suara alunan dan irama rindik pun terdengar lebih keras dari gamelan Jawa yang menjadi cikal bakal sejarah terciptanya rindik. Alat musik tradisional Bali ini juga lebih fleksibel dalam menampilkan instrumentasi melodi modern dibanding dengan musik gamelan Jawa modern sekalipun. Ini terbukti dengan banyaknya pemusik-pemusik jazz modern menggunakan nada pentatonik salendro dari rindik untuk menciptakan komposisinya dengan alat musik rindik yang beralunan cepat dan energik itu. 

Ratusan komposisi telah disusun menggunakan rindik sebagai alat musik utama. Bahkan setiap desa di Bali memiliki gaya dan repertoar musik yang berbeda lewat alat musik tradisional ini. Tentu saja sebagian besar komposisi daerah-daerah di Bali terinspirasi oleh alam dan diberi nama berdasarkan bunga atau binatang yang terpintas saat musik itu diciptakan, misalnya dengan nama: ‘Dongkang Menek Biu’ yang artinya ‘Katak Pohon Memanjat Pisang’

Dengan berkembangnya pariwisata Bali dimana para wisatawan datang berbondong-bondong untuk menikmati keindahan alam dan budaya pulau Bali, maka semakin dikenal lah alunan musik rindik yang terdengar begitu cantiknya ini. Tidak hanya itu, musik Bali yang tercipta lewat alunan rindik pun telah banyak direkam dan disebarluaskan ke berbagai negara lewat bermacam kanal. Dan, alunannya bukan hanya dicintai oleh turis-turis asing tapi juga oleh orang-orang Indonesia sendiri yang selalu akan teringat keindahan pulau Bali lewat alunan musik rindik ini. (K-SB)

Seni
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...