Bahasa | English


ALAT TRADISIONAL

Tenangkan Jiwa Dalam Alunan Rindik

31 October 2019, 09:52 WIB

Suaranya khas, sedikit berada di alur nada yang tinggi, tidak seperti alunan langgam Jawa yang mengalir, detak iramanya terasa lebih cepat, lebih tersentak sesuai dengan ketukan yang mengalun. Sementara irama pentatonik dan salendro dari lima nada yang berulang dimainkan lewat ragam gamelan dan angklung yang serentak menciptakan irama yang membuat orang bergerak untuk menikmatinya.


Tenangkan Jiwa Dalam Alunan Rindik Alat Musik Rindik. Foto: Dok. Bali

Rindik, alat musik tradisional khas Bali tercipta dari sejarah panjang kekayaan seni dan budaya di Indonesia, khususnya di pulau Jawa dan Bali. Pelancong yang datang dari luar Bali dan mendengarkan alunan ini akan segera sadar bahwa mereka telah berada di pulau yang indah ini. Bagi siapapun yang mendengarkan Rindik dimainkan dimanapun akan berhenti dan menikmati nada-nada salendro yang dihasilkan oleh alat musik tradisional khas Bali ini. 

Alat musik khas ini berasal dari sejarah kejatuhan kerajaan Majapahit yang tadinya begitu digdaya menguasai Nusantara. Namun ketika Ponorogo, daerah kecil di timur pulau Jawa melakukan pemberontakan kepada Majapahit, banyak angklung-angklung Reyog yang menjadi senjata kerajaan dan juga bisa berfungsi sebagai alat musik ditinggal pergi. Maka, saat terjadi serbuan dari Kerajaan Demak, angklung-angklung dan gamelan tersebut dengan segera diungsikan ke pulau Bali sehingga berpindahlah akar seni budaya dari kerajaan Majapahit. 

Setibanya di Bali, pemusik-pemusik Majapahit mengalami kesulitan untuk merangkai kembali gamelan-gamelan yang dibawanya, termasuk angklung yang juga diangkut. Angklung Bali memang tidak sama dengan alat musik yang berasal dari Jawa, namun cara memainkannya sama dan menghasilkan suara yang sama seperti gamelan yang dibuat dari bahan logam.

Nama rindik sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti ‘ditata dengan rapi dengan celah kecil’. Ini menceritakan tentang saat-saat para pemusik dari Majapahit yang lari ke Bali sedang menata kembali alat-alat musik lama yang pada akhirnya tercipta alat musik baru yang diberi nama rindik. Alat musik ini kemudian berevolusi sesuai dengan kearifan lokal pulau Bali yang terbuat dari bambu dan bernada ‘salendro’ dan dimainkan dengan cara dipukul. 

Memainkan Rindik

Seperti kebanyakan instrumen  gamelan Bali, rindik disusun berpasangan namun berbeda nada. Satu instrumen memiliki nada yang lebih tinggi dari instrumen pasangannya sehingga menghasilkan dengungan yang khas rindik dan bernuansa Bali.

Satu rindik dimainkan dengan dua atau tiga pemukul, satu dipegang di tangan kiri dan satu atau dua di tangan kanan. Biasanya melodi yang mengalun dihasilkan oleh nada yang dipukul dari tangan kiri sedangkan tangan kanan memainkan pola yang menciptakan suara nada yang terkait untuk mengiringi melodi di tangan kiri.

Meskipun terlihat mudah, namun memainkan rindik adalah sebuah ketrampilan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi mahir. Dengan irama nada yang cepat dan tangan kanan serta kiri memainkan dua atau tiga pemukul untuk menciptakan irama melodi, bisa dipastikan butuh waktu lama untuk bisa trampil di alat musik tradisional Bali ini. 

Dalam satu rangkaian alat musik rindik biasanya dimainkan oleh dua sampai lima orang pemain dimana dua orang memainkan rindik dan sisanya mengiringi dengan irama seruling serta gong pulu. Seperti banyak alat musik tradisional lainnya, nada dasarnya hanya lima dan karena itulah ia disebut alat musik pentatonik bernada salendro. 

Pada awalnya rindik hanya digunakan sebagai alat musik untuk menghibur para petani di sawah dan juga untuk hiburan rakyat ‘Joged Bumbung’. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini rindik digunakan untuk bermacam keperluan mulai dari musik pelengkap di berbagai acara atau pesta pernikahan, bersantai sambil menikmati alunan nadanya yang khas, hingga digunakan sebagai musik penyambut tamu negara yang berkunjung ke pulau Bali. 

Suara Rindik

Seperti alat musik lainnya, rindik juga mempunyai kunci yang dapat disetel untuk menghasilkan nada yang merata. Suara dengungan halus yang dihasilkan oleh alat musik ini akan menciptakan nada angin yang berdesir berhembus di tengah-tengah sawah yang menguning di hari-hari yang cerah. Tak salah memang jika disebutkan bahwa alat musik ini berevolusi dan tercipta dari repertoar musik ciptaan para petani padi, terutama di awal abad ke-20 ketika alat musik ini semakin berkembang dengan pesat di pulau Bali. 

Suara alunan dan irama rindik pun terdengar lebih keras dari gamelan Jawa yang menjadi cikal bakal sejarah terciptanya rindik. Alat musik tradisional Bali ini juga lebih fleksibel dalam menampilkan instrumentasi melodi modern dibanding dengan musik gamelan Jawa modern sekalipun. Ini terbukti dengan banyaknya pemusik-pemusik jazz modern menggunakan nada pentatonik salendro dari rindik untuk menciptakan komposisinya dengan alat musik rindik yang beralunan cepat dan energik itu. 

Ratusan komposisi telah disusun menggunakan rindik sebagai alat musik utama. Bahkan setiap desa di Bali memiliki gaya dan repertoar musik yang berbeda lewat alat musik tradisional ini. Tentu saja sebagian besar komposisi daerah-daerah di Bali terinspirasi oleh alam dan diberi nama berdasarkan bunga atau binatang yang terpintas saat musik itu diciptakan, misalnya dengan nama: ‘Dongkang Menek Biu’ yang artinya ‘Katak Pohon Memanjat Pisang’

Dengan berkembangnya pariwisata Bali dimana para wisatawan datang berbondong-bondong untuk menikmati keindahan alam dan budaya pulau Bali, maka semakin dikenal lah alunan musik rindik yang terdengar begitu cantiknya ini. Tidak hanya itu, musik Bali yang tercipta lewat alunan rindik pun telah banyak direkam dan disebarluaskan ke berbagai negara lewat bermacam kanal. Dan, alunannya bukan hanya dicintai oleh turis-turis asing tapi juga oleh orang-orang Indonesia sendiri yang selalu akan teringat keindahan pulau Bali lewat alunan musik rindik ini. (K-SB)

Seni
Ragam Terpopuler
Titik Rawan Tangsi Tentara
Dua kluster Covid-19 muncul dari tangsi militer. Gubernur Ridwan Kamil meyakini, tradisi disiplin yang tinggi membuat kluster itu tak meluas. ...
Suku Osing Siap Menyambut Tamu Kembali
Sejumlah tempat wisata di Kabupaten Banyuwangi telah mendapat sertifikasi. Doni Monardo pun melihat langsung penerapan protokol kesehatan ini. ...
Ketika Atap Kapal Jadi Sumber Energi
Nelayan sekarang sudah bisa memanfaatkan energi matahari untuk mengganti bahan bakar solar. Bayu berganti surya. ...
Mitos Keberaksaraan Orang Jawa
Legenda Aji Saka. Sebuah mitos yang bukan hanya bertutur tentang sejarah dikenalnya aksara bagi orang Jawa, itu sekaligus menjadi momen penanda penting tentang signifikansi sebuah tradisi literasi dal...
Kominfo-Gojek Perluas Akses PeduliLindungi
Aplikasi Gojek menargetkan mampu menyumbang satu juta unduhan PeduliLindungi hingga enam bulan ke depan. ...
Aksesoris Tutul Menembus Pasar Dunia
Dinobatkan menjadi salah satu desa produktif di Indonesia, hasil karya tangan-tangan warga Desa Tutul Kabupaten Jember mampu hasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan. ...
Anak Pekerja Migran Berbagi Sayang di Tanah Lapang
Anak-anak buruh migran bisa berekspresi, orang tua juga bisa berkreasi. Tanoker menjadi wadah keceriaan dan kebahagiaan. ...
Perjuangan Gordon Ramsay Memasak Rendang
Juru masak kelas dunia, Gordon Ramsay sukses mengeksplorasi kekayaan kuliner, budaya, dan keindahan alam Minangkabau. Ia pun memasak rendang yang lamak bana. ...
BLC, Senjata Pemerintah Melawan Corona
Aplikasi BLC tak hanya berguna untuk pemerintah dan masyarakat, melainkan juga untuk petugas kesehatan. ...
Mengenali Likupang untuk Kemudian Jatuh Cinta
Destinasi wisata di Provinsi Sulawesi Utara tak hanya Bunaken. Sejumlah pantai berpasir putih dan berair jernih ada di kawasan Likupang. ...