Indonesia.go.id - Kembalinya Saksi Bisu Sejarah Nusantara

Kembalinya Saksi Bisu Sejarah Nusantara

  • Administrator
  • Kamis, 10 Agustus 2023 | 16:17 WIB
  • 0
SEJARAH
  Artefak Singgasari yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. ANTARA FOTO
Pemerintah Belanda memulangkan 472 artefak milik bangsa Indonesia hingga koleksi karya maestro seniman dunia dari Bali yang tergabung dalam Pita Maha.

Kekayaan alam Indonesia sudah sejak ratusan tahun lampau memikat hati bangsa-bangsa di daratan Eropa. Mereka mencari rempah-rempah seperti cengkeh, lada, pala, vanila, kayu manis, kunyit, dan jahe ke pelosok Nusantara. Penjelajah Portugis Fransisco Serrau tercatat di dalam sejarah sebagai orang asing pertama yang menginjakkan kaki di Bumi Nusantara pada tahun 1511 lampau untuk mendapatkan rempah-rempah sekaligus berniaga dengan Kerajaan Ternate.

Kedatangan Portugis diikuti oleh bangsa Spanyol dan setelahnya adalah Belanda. Itulah awal mula terjadinya imperialisme di Nusantara selama ratusan tahun, sebelum akhirnya terjadi deklarasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kolonialisme tadi tak hanya meninggalkan jejak hitam di dalam kehidupan bangsa Indonesia, para penjajah turut pula mencuri benda-benda bernilai milik raja-raja di Nusantara pada masa lampau. Tak terbilang jumlahnya.

Bahkan rasanya jari tangan dan kaki pun belum tentu cukup untuk menghitungnya. Barang-barang bernilai seni tinggi dan mengandung unsur sejarah tak tertandingi tadi rupanya masih tersimpan rapi di museum-museum di Eropa terutama Belanda, negara yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Surat kabar Belanda, NRC pada salah satu tajuknya pada Maret 2019 pernah memberitakan bahwa ada lebih dari 400 ribu artefak atau benda-benda sejarah berharga dari Indonesia yang dibawa ke Belanda saat era kolonialisasi.

Sebagian besar artefak dan benda-benda bersejarah itu dipajang dalam kondisi terawat di sejumlah museum sejarah di Delft, Leiden, Rotterdam, dan Amsterdam. Sedangkan lainnya, ada yang disimpan di pusat-pusat kebudayaan perguruan tinggi Negara Kincir Angin itu. Benda-benda bersejarah itu pun beraneka rupa, mulai dari gerabah, patung, kain, perhiasan kerajaan dan batu mulia, alat perang seperti keris dan sejenisnya, bendera-bendera kerajaan untuk dipakai berperang, dan peralatan ibadah.

Indonesia pernah meminta Pemerintah Kerajaan Belanda untuk mengembalikan benda-benda bersejarah itu. Permintaan pemulangan ke Indonesia tersebut pernah disampaikan oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Mohammad Yamin pada 1954.

Meski demikian, pengembalian benda bersejarah ke tanah air bukanlah perkara mudah karena mesti melewati proses yang tidak sebentar. Bahkan untuk merealisasikannya perlu waktu belasan tahun lamanya.

Kurator Museum Nasional Nusi Lisabilla Estudiantin, seperti dikutip Warta Museum, mengungkapkan bahwa prosesi pengembalian baru dilakukan pada 1970 oleh Ratu Juliana. Benda yang dipulangkan adalah naskah asli dari kitab Negarakertagama dan baru benar-benar diterima Soeharto, Presiden RI saat itu, dua tahun setelahnya.

Pemerintah Belanda selanjutnya, yakni pada 1977, mengembalikan sejumlah benda budaya seperti Prajnaparamita, payung, pelana kuda, dan tombak Pangeran Diponegoro. Bersama benda-benda bersejarah tadi turut dikembalikan pula sebanyak 243 benda pusaka Lombok hasil invasi militer ke Puri Cakranegara di tahun 1894.

 

Tak berhenti sampai di situ, pada 2015 atau 38 tahun kemudian, Belanda kembali memulangkan tongkat Kiai Cokro milik Pangeran Diponegoro serta sekitar 1.500 benda budaya. Ada juga pemulangan benda-benda sejarah yang disimpan di Museum Nusantara Delft pada 2019, karena museum tersebut akan ditutup. Setahun kemudian, atau pada 2020 giliran sebilah keris milik Pangeran Diponegoro yang dikembalikan.

Menariknya, pengembalian keris itu terjadi saat Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima berkunjung ke Indonesia medio Maret 2020. Ketika itu, Raja Willem menyerahkan langsung benda pusaka yang telah ditata dalam sebuah kotak kaca kepada Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat pada 10 Maret 2020. Keris bersarung kuning keemasan ini selalu dibawa Pangeran Diponegoro semasa hidupnya termasuk saat berlaga di medan peperangan era 1825-1830.

 

472 Artefak Direpatrasi

Terbaru adalah pemulangan atau repatrasi 472 artefak asal Indonesia koleksi Museum Volkenkunde milik Yayasan Museum Kebudayaan Dunia (Nationaal Museum van Wereldculturen) di Leiden. Museum ini menyimpan koleksi hampir 450 ribu objek dan 610 ribu bahan visual termasuk dari Indonesia.

Seremonialnya telah dilakukan pada 10 Juli 2023, dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Hilmar Farid mewakili Pemerintah Indonesia, serta Menteri Muda Bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Gunay Uslu dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Benda-benda bersejarah milik bangsa Indonesia yang dikembalikan terdiri atas sebuah keris Puputan Klungkung, empat arca era Kerajaan Singosari seperti Durga, Mahakala, Ganesha, Nandiswara.

Keempat arca dari abad ke-13 itu untuk memperingati kematian Raja Kertanegara, dinasti terakhir dari Kerajaan Singosari. Selanjutnya ada 335 harta karun milik Puri Cakranegara hasil jarahan dari Ekspedisi Lombok 1894. Semula ke-335 benda asal Lombok itu disimpan di Tropenmuseum dan berisi sejumlah perhiasan, batu permata, batu mulia, emas, dan perak.

Selain itu, ada 132 benda seni berupa lukisan, ukiran kayu, benda-benda perak, dan tekstil karya maestro-maestro seniman Pita Maha. Ini adalah kelompok kesenian yang didirikan oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati, I Gusti Nyoman Lampad, Walter Spies, dan Rudolf Bonet pada 29 Januari 1936. Ratusan benda bersejarah tadi dikembalikan setelah melalui proses penelitian dan komunikasi yang panjang oleh kedua negara. Benda-benda bersejarah ini penting karena melengkapi informasi tentang perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Menurut Hilmar, repatriasi ratusan benda bersejarah tersebut untuk mengungkap pengetahuan sejarah, asal-usul, dan makna dari artefak milik bangsa Indonesia ini di masa lalu dan masa mendatang. Ia mengibaratkan seperti sebuah mosaik, benda-benda bersejarah tersebut seperti potongan-potongan gambar yang sempat hilang. Ole karena itu, Pemerintah Indonesia akan merawat koleksi tersebut dengan hati-hati.

Ia memperkirakan, benda-benda budaya dari repatriasi itu akan tiba di Indonesia pada Agustus 2023. Saat ini pihaknya sedang menuntaskan kesepakatan teknis pengiriman. "Indonesia akan melakukan konservasi dan pemanfaatan terbaik untuk benda-benda budaya ini. Proyek repatriasi benda bersejarah ini adalah momentum penting untuk menumbuhkan saling pemahaman dan kesetaraan di antara kedua bangsa," ujar Hilmar, seperti dikutip dari website Kemendikbudristek.

Pembicaraan untuk repatriasi itu telah dimulai sejak empat tahun lalu seiring tren yang terjadi ketika negara-negara Eropa bekas penjajah seperti Inggris dan Prancis bersepakat untuk merepatrasi benda-benda bersejarah dari bekas negara jajahan mereka. Hal tadi dibenarkan oleh ketua tim repatrasi benda koleksi asal Indonesia di Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja. Menurutnya, diskusi intensif dilakukan Indonesia-Belanda sejak dua tahun terakhir terkait pemulangan benda-benda budaya.

Untuk memastikan benda-benda itu milik Indonesia, pihaknya mengirimkan data riwayat sebagai bukti kepada Belanda. Nantinya, benda-benda budaya bernilai sejarah tinggi tersebut akan ditempatkan dan dipamerkan kepada publik di Museum Nasional. Ini sekaligus untuk melengkapi koleksi museum sejarah terbesar di Asia Tenggara tersebut yang saat ini sudah menyimpan sekitar 192 ribu koleksi milik bangsa Indonesia dari bermacam era.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari