INVESTASI
  Pengerjaan Kawasan Industri Batang. Akan mendatangkan investasi asing. ANTARA FOTO

Moncernya Realisasi Investasi di Awal Tahun

  •   Selasa, 18 Mei 2021 | 14:13 WIB
  •   Oleh : Administrator

Realisasi investasi triwulan I-2021 Rp219,7 triliun, atau meningkat 4,3% jika dibandingkan triwulan I-2020.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kembali merilis data capaian realisasi investasi pada triwulan I (periode Januari--Maret) untuk 2021 sebesar Rp219,7 triliun atau meningkat 4,3% jika dibandingkan triwulan I-2020. Sedangkan jika dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya, meningkat sebesar 2,4%.

Kepala BKPM menyampaikan, capaian realisasi investasi Rp219,7 triliun berkontribusi sebesar 25.5% terhadap target nasional sebesar Rp 858,5 triliun. Beberapa poin penting capaian realisasi investasi triwulan I adalah (i) realisasi investasi di luar Pulau Jawa meningkat 11,7% dibandingkan pada 2020 pada periode yang sama, (ii) industri manufaktur mendominasi capaian realisasi investasi yaitu industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya; industri makanan; dan industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain, (iii) Negara Swiss dalam pertama kalinya masuk peringkat ke-5 besar PMA tertinggi sebagai kontributor FDI di Indonesia.

Pertumbuhan investasi PMDN pada triwulan I-2021 meningkat sebesar 4,2%, dari Rp103,6 triliun di triwulan IV-2020 menjadi Rp108,0 triliun di triwulan I-2021. Investasi PMA pada triwulan I-2021 meningkat 14,0% dibanding triwulan I-2020 dari Rp98,0 triliun menjadi Rp111,7 triliun. Realisasi investasi PMA mencapai 50,8% dari capaian realisasi triwulan I-2021.

Realisasi investasi asing sebesar 50,8% menunjukkan tumbuhnya kepercayaan dunia atas iklim investasi serta potensi investasi di Indonesia. Alhasil, kerja sama seluruh pihak yang membantu dalam mendorong pertumbuhan investasi, terutama di saat pandemi Covid-19, tentu perlu diapresiasi.

Berdasarkan laporan kegiatan penanaman modal PMA terbesar untuk periode Januari--Maret 2021 mencakup sektor industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain; industri makanan dan minuman; transportasi, gudang dan telekomunikasi; pertambangan; serta industri pembuatan logam dasar bukan besi dengan nilai realisasi investasi sebesar USD1,8 milliar.

Jawa Barat mendapatkan porsi terbesar dari lima PMA penyumbang utama capaian realisasi periode ini. Yang pertama dari investasi di sektor kendaraan bermotor yang akan memproduksi kendaraan mesin listrik serta pembangunan infrastruktur kereta cepat.

Kedua, proyek ini akan menjadi salah satu batu loncatan meningkatkan potensi Indonesia di mata dunia.

“Secara pribadi saya yakin pertumbuhan investasi di wilayah lain akan terus meningkat, salah satunya di Jawa Tengah melalui beberapa proyek prioritas di kawasan industri Batang dengan fasilitas dan infrastruktur yang telah disiapkan pemerintah. Kami juga saat ini sedang memfasilitasi pembentukan KEK Aspal di Buton sebagai upaya mengurangi ketergantungan aspal impor dan meningkatkan ekonomi daerah,” kata Menteri Investasi/ Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

BKPM juga mencatat, realisasi investasi (PMDN & PMA) berdasarkan lokasi proyek (lima besar) adalah Jawa Barat (Rp37,1 triliun, 16,9%); DKI Jakarta (Rp23,3 triliun, 10,6 %); Jawa Timur (Rp17,0 triliun, 7,8%); Banten (Rp14,8 triliun, 6,7%); dan Jawa Tengah (Rp12,3 triliun, 5,6%).

Pada periode triwulan I-2021 realisasi investasi di luar Jawa sebesar Rp114,4 triliun meningkat 11,7% dari periode yang sama pada 2020 sebesar Rp102,4 triliun. Sedangkan, realisasi investasi (PMDN & PMA) berdasarkan sektor usaha (lima besar) adalah perumahan, kawasan industri dan perkantoran (Rp29,4 triliun, 13,4%), industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya (Rp27,9 triliun, 12,7%), transportasi, gudang dan telekomunikasi (Rp25,6 triliun, 11,7%), industri makanan (Rp21,8 triliun, 9,9%), dan listrik, gas, dan air (Rp20,2 triliun, 9,2%).

“Untuk PMDN, salah satu investasi terbesar dilakukan atas proyek infrastruktur penyediaan tenaga listrik di Lampung dan Maluku serta investasi pembangunan pelabuhan di Kalimantan Tengah. Investasi ini merupakan kelanjutan dari arahan Presiden Jokowi untuk meningkatkan kualitas infrastruktur di luar Pulau Jawa sebagai upaya untuk pemerataan ekonomi,” demikian disampaikan Bahlil Lahadalia.

Lima besar negara asal PMA adalah Singapura (USD2,6 miliar, 34,0%); Republik Rakyat Tiongkok (USD1,0 miliar, 13,6%); Korea Selatan (USD0,9 miliar, 11,1%); Hongkong, RRT (USD0,8 miliar, 10,8%); dan Swiss (USD0,5 miliar, 6,1%).

“Saat ini kami telah menyelesaikan peraturan pelaksana dari UUCK, khususnya terkait dengan penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko. Saya menargetkan paling lambat akhir semester pertama 2021 seluruh infrastruktur pelayanan perizinan berusaha dan pengawasan dengan pendekatan risiko dapat berjalan. Saya yakin dengan mulainya rezim perizinan berusaha yang baru, serta menjalankan program-program kami sebelumnya, serta terus memasarkan potensi investasi di Indonesia melalui jaringan kami di luar negeri, target investasi dapat tercapai,” tutup Bahlil dalam acara tersebut.

Perlu diketahui, realisasi investasi PMA pada periode triwulan I-2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020 mengalami peningkatan sebesar 14,0%, yaitu dari nilai realisasi investasi Rp98,0 triliun menjadi Rp111,7 triliun. Tapi sebaliknya terjadi pelambatan realisasi investasi PMDN pada periode triwulan I-2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020 sebesar 4,2%, yaitu dari nilai realisasi investasi Rp112,7 triliun menjadi Rp108,0 triliun.

Lima besar realisasi investasi PMDN berdasarkan sektor usaha adalah perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (Rp21,6 triliun); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (Rp13,3 triliun), listrik, gas, dan air (Rp11,5 triliun); tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan (Rp9,9 triliun); dan konstruksi (Rp 9,6 triliun). Apabila seluruh sektor industri digabung, terlihat sektor industri memberikan kontribusi sebesar Rp23,0 triliun atau 21,3% dari total PMDN.

Berdasarkan lokasi proyek, lima besar realisasi investasi PMDN adalah Jawa Barat (Rp16,0 triliun); Jawa Timur (Rp10,0 triliun); DKI Jakarta (Rp8,7 triliun); Jawa Tengah (Rp8,4 triliun); dan Banten (Rp7,0 triliun).

Sedangkan lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan sektor usaha adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya (USD1,7 miliar); industri makanan (USD1,0 miliar); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (USD0,8 miliar); listrik, gas, dan air (USD0,6 miliar); dan industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain (USD0,6 miliar). Apabila seluruh sektor industri digabung, maka terlihat sektor industri memberikan kontribusi terbesar yakni sebesar USD4,5 miliar atau 58,5% dari total PMA.

Jika ditinjau berdasarkan lokasi proyek, lima besar realisasi investasi PMA adalah Jawa Barat (USD1,4 miliar); DKI Jakarta (USD1,0 miliar); Sulawesi Tengah (USD0,6 miliar); Riau (USD0,6 miliar); dan Sulawesi Tenggara (USD0,5 miliar).

Realisasi investasi PMA berdasarkan asal negara (lima besar) adalah Singapura (USD2,6 miliar); Republik Rakyat Tiongkok (USD1,0 miliar); Korea Selatan (USD0,9 miliar); Hongkong, RRT (USD0,8 miliar); dan Swiss (USD0,5 miliar).



 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari