COVID-19
  Petugas pemakaman menguburkan jenazah korban COVID-19 di TPU Srengseng Sawah Dua, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa, (2/2/2021). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Efek Dramatis di Atas Peta Mortalitas

  •   Senin, 15 Maret 2021 | 12:53 WIB
  •   Oleh : Administrator

Di Indonesia, pandemi Covid-19 mengungkit lonjakan kematian sebesar 2,1 persen year on year. Separuh dari excess mortality dunia.

Risiko terburuk dari  wabah penyakit yang merebak adalah kematian massal. Semakin luas penyebaran pandemi, dan semakin panjang durasinya, tingkat kematian (mortalitas) yang diakibatkan semakin besar. Tak pelak lagi, pandemi Covid-19 yang oleh WHO disebut mulai mewabah secara global pada Maret 2020 itu memberi dampak lonjakan pada mortalitas.

Mengacu pada tren statistik dunia selama lima tahun terakhir (2015--2019), secara rata-rata ada 7,5 kasus kematian pada setiap 1.000 penduduk. Bila tanpa ada pandemi, maka angka kematian pada 2020 diperkirakan 58 juta kasus. Sementara sampai tutup tahun 2020, dari 84 juta kasus positif infeksi Covid-19 jatuh korban jiwa 1,83 juta, dan itu berarti bahwa di tahun tersebut pandemi mengungkit mortalitas sampai 3,15 persen.

Namun bila periode satu tahun itu digeser jadi Maret 2020--Februari 2021, hasilnya tentu akan berbeda lagi. Dampak mortalitas satu tahun pandemi Covid-19, yakni mulai Maret 2020 hingga Februari 2021 ialah 119 juta kasus positif dengan 2,64 juta kematian. Dengan asumsi mortalitasnya sama yakni 58 juta, maka dampak Covid-19 itu mencapai 4,03%. Penambahan yang 3,15% atau 4,03% itu disebut P-score atau ‘ekses mortalitas’.

Namun yang tersedia saat ini adalah angka perkiraan yang dianggap cukup bisa mewakili realitas yang ada. Angka faktual dari lapangan tak tersedia. Data kematian akibat Covid-19 relatif bisa teregistrasi secara baik di sebagian besar negara di dunia. Tapi, angka kematian biasa yang reguler, tak tercatat dengan baik dan cepat. Pada negara-negara berpenghasilan menengah-rendah, umumnya hanya bisa meregistrasikan 90 persen kematian secara cepat.

Maka untuk mendapatkan nilai perkiraan yang mendekati angka realitasnya, badan-badan dunia seperti WHO atau Unicef biasa melakukan survei kematian per 1.000 penduduk, dan dari situ dihasilkan angka mortalitas tahunan. Di negara-negara maju dan sebagian negara  berpenghasilan menengah, data kematian bisa disajikan secara bulanan bahkan mingguan.

Sejauh ini dengan P-score 4,03% year on year (yoy) tentunya signifikan. Namun, bila angka tersebut diproyeksikan ke sejumlah negara, akan tampak betapa dampak pandemi ini amat dramatis. Charlie Giattino dan empat rekannya, tim ilmuwan dengan berbagai latar disiplin keilmuan, menghadirkan gambaran itu dalam laporan berjudul Excess Mortality During the Coronavirus Pandemic yang diunggap di laman www.ourdataworld.org. Unggahan tersebut di-update 12 Maret 2021.

Di Inggris, menurut data yang disusun Giattino dkk, selama dua pekan pada Maret 2020, P-score-nya melampaui 100 persen. Artinya, angka kematian dua kali lipat dibandingkan kematian reguler rata-rata pada lima tahun sebelumnya di periode pekan yang sama. Selama lima pekan berturut-turut pada Maret--April 2020, excess mortality bergerak pada angka 60--110 persen.

Setelah itu angka P-score menyusut. Bahkan, selama sembilan pekan antara April--September 2020, P-score-nya bergerak di level negatif sepanjang sembilan pekan. Artinya, angka kematiannya ada di bawah rata-rata lima tahun sebelumnya. P-score naik lagi pada September--Desember, tapi masih di bawah 20 persen, dan melonjak lagi sampai ke sekitar 40% sampai ke medio Februari 2021, untuk kemudian turun lagi mendekati garis normal. Secara umum  kurva P-score di inggris itu membentuk garis naik turun yang dramatis kecuramannya.  

Di Rusia polanya berbeda. Kenaikan ekses mortalitas itu muncul sejak Mei 2020 dan terus bertahan di bawah 20 persen sampai September, kemudian melonjak ke level 30, 40, dan 50% hingga Januari 2021, untuk memudian menyusut kembali mendekati normal.

Brazil punya pola yang berbeda lagi. Sejak Februari 2020 hingga Februari 2021, P-score-nya terus saja 20-40% di atas normal, dan baru menunjukkan tren menurun sejak Maret 2021.

Dampak yang lebih serius terjadi di Meksiko. Sejak memasuki Maret ekses mortolalitasnya sudah bergerak naik, dan melonjak pada April dan melampaui angka 100% pada Juni 2020. Lalu, angka itu bergerak turun, meski selalu di atas 40% selama beberapa bulan dan mencapai puncak kedua Januari 2021 dengan P-score85% untuk kemudian turun ke arah normal.

Data yang diperlihatkan Charlie Giattino, doktor bidang neurosains yang mendedikasikan waktu luangnya guna mengolah data epideologis itu, menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 menimbulkan lonjakan kematian pada semua usia, dengan derajat berbeda. Untuk kelompok usia di atas 85 tahun, lonjakan mortalitasnya mencapai 125-130 persen di akhir April 2020 di Inggris.

Pada periode yang sama, ada lonjakan angka kematian 115-120 persen di kelompok umur 75-84 tahun, kenaikan 80-85 persen pada golongan usia 65-74 tahun, dan 60-65 persen di kelompok umur 15-65 tahun. Meski tak dinyatakan dalam data, pada usia muda, misalnya, di bawah 40 tahun, tentu P-score-nya di bawah lagi.

Bagaimana dengan Indonesia? Antara Maret 2020 hingga Februari 2021 tercatat ada kasus 36.325 kematian dari 1,34 juta kasus positif Covid-19. Menurut data Bank Dunia, mortalitas di Indonesia adalah 6,5 per 1.000 penduduk, lebih rendah dari rata-rata dunia yang 7,6 per 1.000 penduduk. Secara sederhana, angka kematian di Indonesia ialah 0,65 persen per tahun.

Berpegang pada acuan itu, maka diperkirakan ada 1,75 juta kematian normal antara Maret 2020--Februari 2021. Dengan demikian secara nasional, ekses mortalitas pandemi Covid-19 adalah 36.325/1.7 5 juta yakni 2,1 persen saja. Separuh dari excess mortality dunia. Namun, bila dirinci pada provinsi atau kabupaten kota tertentu di periode tertentu di saat Covid-19 meledak, tentu angkanya sangat fluktuatif dan bisa saja berlipat pada bulan tertentu.

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari