INDEKS SAHAM
  Ilustrasi. Grafik pergerakan di Bursa Efek Indonesia. Angka pertumbuhan di BEI itu yang tertinggi dari seluruh bursa efek di negara Asean. ANTARA FOTO

Indeks Hijau Menyongsong Tahun Baru

  •   Rabu, 29 Desember 2021 | 08:01 WIB
  •   Oleh : Administrator

Sepanjang 2021 ada 54 emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total penghimpunan dananya hampir Rp64 triliun, yang terbesar sepanjang sejarah. BEI meluncurkan dua indeks baru yang berbasis industri hijau.

Per 20 Desember 2021, secara resmi PT Dharma Polimetal Tbk mulai tercatat di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Kode sahamnya DRMA. Perusahaan auto parts & components ini pun menjadi pihak ke-54 yang melakukan initial public offering (IPO) di BEI. Kehadiran Dharma Polimetal itu juga menandai tercapainya target BEI melakukan penawaran umum perdana saham atas 54 perusahaan pada 2021.

Dengan masuknya DRMA, penghimpunan dana melalui IPO tahun 2021 itu tembus ke angka hampir Rp64 triliun. Catatan itu jauh lebih baik dibanding kinerja 2020, di mana BEI hanya bisa mengantar 51 perusahaan menawarkan saham perdananya. Dana yang terhimpun melalui IPO hanya Rp5,58 triliun. Capaian 2021 ini mengakhiri rekor IPO tahun 2011 yang mencatatkan  kaptalisasi Rp19,6 triliun dari 25 emiten baru.

Pada sisa waktu satu pekan, BEI masih ada peluang untuk mengantar satu atau dua emiten lainnya untuk mulai melantai. Masih ada 20 calon emiten yang telah masuk ke dalam pipeline BEI dan baru bila melakukan IPO tahun 2022. Sampai satu pekan sebelum tutup buku, indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI meningkat sekitar 9,7 persen dari posisi terakhir 2020, dan sekitar 200 poin lebih tinggi dibanding angka di akhir 2019 ketika pandemi Covid-19 belum terjadi.

Sempat terseok pada April 2020, ketika Covid-19 menghempaskan IHSG dari ketinggian 6.000 ke angka 3.900-an, perdagangan saham di BEI sempat beberapa bulan sepi. Namun, perlahan bangkit dan IHSG pulih ke level 5.900-an di akhir Desember. Namun, gelombang serbuan Covid-19 pertama berlangsung seusai liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Naik lagi, lalu tersaruk-saruk kembali pada saat gelombang kedua pandemi menerjang antara Juni-Agustus.

Tingginya harga komoditas minyak  bumi, gas, batu bara, minyak sawit, dan turunannya, membuat IHSG tidak terlalu tertekan. Meredanya serangan Covid di Indonesia sejak awal Agustus membuat IHSG terkerek naik, bahkan sempat menggapai level tertinggi  all time high (ATH) di angka 6.701.

Setelah itu, di tengah terpaan sentimen negatif dari regional dan global, ada isu varian baru Omicron. Meski tak sampai anjlok, kenaikan IHSG tertahan, hanya bergerak fluktuatif pada kisaran 6.500–6.600, dan menjelang tutup tahun duduk anteng di level 6.560-an.

Dengan tambahan 54–56 perusahaan tbk, Indonesia mencatatkan pertumbuhan jumlah emiten 40 persen. Jumlah seluruhnya kini ada 762 emiten di BEI. Angka pertumbuhan di BEI itu yang tertinggi dari seluruh bursa efek di negara Asean. Bursa Efek Hanoi STC di Vietnam hanya bisa mencatatkan pertumbuhan 26%, dan  kini ada 404 emiten. Stock Excange of Thailand (SET) menorehkan growth 17 persen dengan 767 emiten.  Bursa Malaysia (KLSE) mencatat pertumbuhan 4,8 persen dan kini menjadi arena bagi 946 emiten untuk melantai. BEI termasuk yang paling bergairah.

Bursa Efek Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan yang signifikan pada jumlah investor. Hingga akhir November 2021, tercatat penambahan 3,31 juta investor pasar modal baru menjadi 7,15 juta investor atau meningkat 84% dari tahun 2020 atau meningkat 8 kali lipat sejak 2016, yang terdaftar sebanyak 894 ribu investor.

Sejumlah analis optimistis bahwa di 2022, saham perbankan disebut-sebut akan terus kokoh dan likuid di lantai bursa. Seiring, pulihnya ekonomi nasional, regional, dan global. Begitu pula dengan saham pertambangan, telekomunikasi, dan bisnis berbasis digital. Namun, tak kalah menarik ialah saham perusahaan energi yang mengarah pada transformasi menuju energi terbarukan, selain industri yang mengarah para praktek industri hijau dan mitigasi perubahan iklim.

Menggeliatnya saham hijau ini ditandai dengan meluncurnya dua indeks baru, yang bersandar pada isu sosial, lingkungan, dan perubahan iklim, Senin (20/12/2021). Keduanya Indeks Environment, Social, and Governance  (ESG) itu diterbitkan atas kerja sama antara BEI dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Yang pertama disebut Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati, yang kedua Indeks ESG Quality 45 IDX Kehati.

IDX Kehati berisikan saham-saham dengan penilaian kinerja ESG di atas rata-rata sektornya, punya likuiditas yang baik dengan mengacu kepada IDX Industrial Classification (IC). Yang kedua, mengukur 45 saham terbaik dari hasil penilaian kinerja ESG, keuangan perusahaan, dan memiliki likuiditas yang baik. Peluncuran kedua indeks untuk menjawab kebutuhan investor (global dan lokal) akan saham di pasar modal mengedepankan aspek ESG.

Kegairahan di lantai BEI itu juga ditunjukkan oleh ramainya perdagangan obligasi serta sukuk (surat berharga yang berbasis pada prinsip syariah). Sepanjang 2021, tercatat terjadi 98 emisi dari 58 perusahaan dengan nilai Rp103 triliun. Dengan demikian, hingga akhir Desember 2021, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI adalah 474 emisi, dengan nilai nominal outstanding  sebesar Rp432 triliun dan USD47,5 juta. Jumlah itu diterbitkan oleh 123 Perusahaan Tercatat.

Selain itu ada pula Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI sebanyak 140 seri dengan nilai nominal Rp4.523 triliun dan USD300,00 juta. Ada lagi Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 10 emisi senilai Rp5 triliun. Ramai dan menggairahkan.

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari