LINGKUNGAN
  Presiden Joko Widodo mengajak PM Albanese untuk bersepeda pagi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 6 Juni 2022. Keduanya menggunakan sepeda bambu dari Istana Kepresidenan menuju Resto Raasaa yang terletak di Kebun Raya Bogor. BPMI Setpres/Laily Rachev

Sepeda Bambu Kesukaan Presiden yang Mendunia

  •   Rabu, 8 Juni 2022 | 13:30 WIB
  •   Oleh : Administrator

Untuk kali pertama Presiden mengajak tamu negara gowes di Kebun Raya Bogor. Sepeda yang dipakai komponennya berbahan dasar bambu yang tumbuh di Indonesia.

Ada pemandangan tak biasa pada Senin (6/6/2022) pagi di lingkungan Kebun Raya Bogor, sebuah kebun botani seluas 78 hektare yang terletak di jantung Kota Bogor, atau sekitar 60 kilometer selatan Jakarta. Tampak dua orang berpakaian rapi dengan kemeja lengan panjang yang sedikit digulung sedang mengayuh sepeda.

Kayuhan keduanya di aspal jalan selebar sekira lima meter itu kelihatan tak terlalu kencang, santai pun bukan, sambil membelah kesunyian kebun berkoleksi 15 ribu jenis tanaman.  Keduanya tampak begitu menikmati momen mengayuh sepeda berangka cokelat itu sambil berkeliling hutan buatan peninggalan kolonial dari abad 19 ini.

Rupanya pagi itu Presiden Joko Widodo sedang mengajak tamu istimewanya, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, untuk menghirup udara segar taman sambil gowessepeda sejauh 1 kilometer dari Istana Kepresidenan menuju Restoran Raasa yang berada di tengah Kebun Raya Bogor.

Ini kali pertama Presiden mengajak tamu negara gowes di Kebun Raya Bogor. Terlebih lagi sepeda yang dipakai itu sebagian besar komponennya berbahan dasar bambu yang tumbuh di Indonesia. Lebih ramah lingkungan dan berkelas. Begitulah kesan pertama yang bisa ditangkap dari produk asli dari Desa Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah itu.

Spedagi adalah merek dagang sepeda bambu yang dikendarai Presiden itu, artinya sepeda pagi.

Bagi Singgih Susilo Kartono selaku pembuatnya, merek tersebut diambil dari kebiasaannya bersepeda di pagi hari menyusuri jalan desa. Terkadang sendiri atau ditemani sang istri Tri Wahyuni atau bersama kerabat.

Sejatinya, alumni Institut Teknologi Bandung tersebut bukan orang pertama yang menciptakan sepeda bambu itu. Ia justru terinspirasi oleh karya sejenis, Bamboosero, buatan desainer sepeda asal California, Amerika Serikat, Craig Calfee yang fotonya ditemukan Singgih ketika sedang berselancar di dunia maya.

Kendati begitu, menurut Nicholas Aleles dalam Management of the Design and Construction of the WPI Bamboo Bicycle, sepeda bambu pertama di dunia dibuat dan dipatenkan di Inggris saat abad 19. Kemudian diperkenalkan ke publik pada 26 April 1894 oleh Bamboo Cycle Company.

Sepeda bambu pertama Calfee dibuat pada 1995. Mantan kurir bersepeda itu juga desainer sepeda berteknologi karbon pertama di dunia. Pada 1991 produk Calfee itu sudah dipakai pebalap sepeda terkemuka sesama warga California, Greg LeMond untuk balapan di ajang Tour de France. LeMond adalah juara tiga kali Tour de France 1986, 1989, dan 1990.

Kerangka Tangkup

Kembali ke Singgih, ia merasa tertampar karena sebagai sarjana desain dirinya justru tak mampu memanfaatkan tanaman bambu yang tumbuh subur di sekitar rumahnya untuk dimanfatkan sebagai produk bernilai seni tinggi. Proses penciptaan sepeda bambu Spedagi cukup berliku.

Awalnya Singgih memakai bambu bulat ukuran kecil, persis seperti model perdana Calfee, untuk rangka (frame) sepeda generasi pertama Spedagi di awal 2013. Lewat serangkaian trial and error, ia berhasil menemukan desain sepeda bambu yang nyaman dipakai dan kuat. Produksi pun dimulai pada akhir 2014.

"Bambu adalah penyerap getaran terbaik yang kekuatannya tak usah diragukan lagi dan cocok dijadikan bahan sepeda. Dengan treatment dan coating yang baik, sepeda bambu bisa digunakan seperti sepeda pada umumnya," ujar Singgih.

Spedagi generasi berikutnya dibuat Singgih dari bambu betung (Dendrocalamus asper), jenis bambu berdiameter besar, 12-18 sentimeter, ketebalan bilah 1,5-2 cm, dan panjang tiap ruas 40-50 cm. Bambu betung tumbuh subur di Desa Kandangan dan sekitarnya. Ia menyatukan dua bilah betung dibentuk tangkup, mirip usuk bambu penahan genting atap rumah.

Melalui serangkaian teknik pengamplasan mekanis, maka terbentuk rangka bulat mirip pipa besi atau model sedikit oval. Agar makin kuat, rangka bambu ini disambung serta dibalut perekat epoxy resin serta di-coatinguntuk melindungi bilah bambu dari air atau bahan lain yang bakal merusaknya.

Potongan rangka tangkup itu dihubungkan dengan sambungan logam khusus (lugs) supaya menjadi frame sepeda utuh. Pada model terbaru Spedagi, ia sengaja membentuk rangkanya sedikit oval karena jauh lebih kuat dan supaya makin indah tampilannya.

Produk Singgih bukanlah karya pabrik skala besar dengan produksi masif. Spedagi adalah hasil kerajinan tangan dari tenaga-tenaga terampil lokal di Workshop Magno, Desa Kandangan. Oh iya, Magno adalah produk radio kayu digital karya Singgih yang juga sudah mendunia dan sangat diminati oleh konsumen di Jepang dan Eropa.

Satu unit frame sepeda Spedagi dapat diselesaikan dalam 60 jam kerja. Saat ini Spedagi terdiri atas beberapa tipe. Misalnya Spedagi Dwiguna (dual track) yang dirancang untuk jalan pedesaan atau perkotaan. Kemudian Spedagi Dalanrata (road bike) khusus untuk jalan mulus. Ada lagi Spedagi Gowesmulyo (joy bike) dan Spedagi Rodacilik (minivelo) buat bersepeda jarak pendek di perkotaan.

Harga tiap tipe Spedagi ada di kisaran Rp5,5 juta-Rp6,5 juta. Singgih memberikan garansi produk Spedagi kepada para konsumennya selama dua tahun. Dari satu batang bambu betung panjang 20 meter, ia sanggup menjadikannya 5-7 unit Spedagi bernilai tinggi. Sebuah lompatan luar biasa bagi nilai tambah bambu yang sering dilupakan meski punya beragam faedah. Kesejahteraan masyarakat Desa Kandangan pun turut terkerek.  

Supaya tambah keren, Singgih menciptakan helm bambu khusus untuk para pemilikSpedagi. Bentuknya mirip engkrak atau pengki, sebuah piranti yang acap dipakai untuk menampung sampah saat menyapu lantai atau pekarangan. Engkrak untuk helm sepeda ini ukurannya lebih kecil dan dirancang agar pas dipakai di kepala. Ada tali kecil disematkan sebagai penyangga menggantung di bawah dagu agar engrak mini itu tak jatuh.

 

Kelas Dunia

"Presiden mengundang saya naik sepeda bambu di Kebun Raya ini dan menawarkan saya untuk membawa pulang sepeda ini ke Australia. Nanti Anda akan lihat saya mengayuh satu-satunya sepeda bambu di Canberra," ujar Albanese yang baru dilantik sebagai PM Australia pada 23 Mei 2022 lalu.

Ini adalah unit keempat yang pernah dimiliki Presiden dan dibelinya dari Singgih dalam dua kali kesempatan. Pertama pada 2016 dan sempat dipakai awal 2019 dalam sebuah acara di Gelora Bung Karno, Senayan. Sepeda yang dipakai Presiden dan PM Australia di Kebun Raya Bogor itu itu dibeli untuk kedua kali ketika kepala negara berkunjung ke Kampus Bambu Turetogo di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ini bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2022 lalu yang dipusatkan di Ende.  

Selain mendapat apresiasi dari Presiden, Spedagi juga menarik minat Duta Besar RIuntuk Bulgaria Iwan Bogananta yang memberikan Spedagi kepada Presiden Bulgaria Rumen Radev melalui Penasehat Presiden Bidang Pemuda dan Olahraga Georgi Alexandrov di Sofia, 2 Februari 2021. Penyerahan cinderamata unik ini menandai eratnya jalinan hubungan diplomatik kedua negara yang telah berjalan 65 tahun lamanya.

Spedagi juga pernah membawa pulang Bronze Award dalam DFA–Design for Asia Awards yang diadakan di Hong Kong pada 2017. Spedagi juga menyabet penghargaan bergengsi, Gold Award Good Design Jepang 2018 dan terpilih dari hampir 4.500 usulan dari seluruh dunia.

Sepeda bambu Singgih ini telah lolos serangkaian uji coba, salah satunya oleh Japan Vehicle Inspection Association (JVIA). Penghargaan dan lolos uji atas kualitas produk sepeda bambu asli Indonesia ini menjadi modal kuat bagi Singgih. Terlebih, yang memberikannya adalah negara dengan standar tinggi untuk sebuah produk berkualitas.

Di Jepang ini pula, Spedagi dijadikan contoh sukses (best practice) pemanfaatan nilai tambah bambu. Mantan profesor riset Tokyo Zokei University, Fumikazu Masuda bersama mitranya Kensuke Asuka tertarik mendirikan cabang Spedagi. Lokasinya di Desa Ato, Perfektur Yamaguchi yang dikenal sebagai lumbung bambu dengan 12 ribu ha ekosistem tanaman dari keluarga rumput-rumputan itu.    

Spedagi juga telah lolos uji kendara di Indonesia melewati Jakarta ke Malang sejauh 800 kilometer tanpa kerusakan. Puncaknya, Singgih yang berkolaborasi dengan pehobi sepeda Vidi Widyastomo mengikuti ajang ketahanan bersepeda paling bergengsi di dunia, Paris-Brest-Paris Randonneur yang menempuh jarak total 1.200 km, 18-22 Agustus 2019. Ajang ini diikuti oleh Vidi dengan pasokan sepeda dari Spedagi dengan tipe Dalanrata.

Lewat Spedagi ini Singgih telah membuktikan pemanfaatan bambu tak hanya sebagai rakit, jembatan, atau tiang rumah saja. Sepeda bambu makin melambungkan tanaman berdaun lancip itu sebagai pemberi beragam manfaat untuk manusia sekaligus pengurang risiko bencana (disaster risk reduction).

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Elvira Inda Sari