Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


TREN PMI POSITIF

RI Andalkan 5 Produk Unggulan

Sunday, 21 April 2019

Indonesia di era industri 4.0 perlu fokus untuk menjemput industri yang mempunyai keunggulan komparatif dan daya saing dalam pasar global.


RI Andalkan 5 Produk Unggulan Industri otomotif Indonesia. Sumber foto: Istimewa

Isu terjadinya deindustrialisasi sempat mengemuka di tengah-tengah masa kampanye pemilihan presiden dan pemilihan legislatif beberapa waktu lalu. Namun, isu itu ditepis oleh pemerintah.

Bahkan, pemerintah melalui Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memaparkan data bahwa ada kecenderungan yang sangat positif, ekspor komoditas telah mengalami pergeseran ke produk manufaktur. Artinya, industri di negara ini sedang tumbuh.

Indikasi itu terlihat dari meningkatnya impor bahan baku dan penolong sehingga menyumbang defisit impor pada per Januari-Februari tahun ini. Impor itu terutama datang dari bahan baku dan penolong. Namun, ujungnya adalah investasi di industri marak.

Mendag Enggartiasto juga menyakini data perdagangan yang dipegangnya bahwa pertumbuhan ekonomi negara ini menunjukkan angka yang stabil dan ekspansif. Oleh karena itu, wajar dirinya optimistis kementerian itu bisa menaikkan target ekspor nonmigas hingga 8% pada 2019 menjadi USD175,8 miliar berbanding dengan tahun lalu yang hanya mencapai USD162,8 miliar.

 Target sebesar itu terdiri dari 81% merupakan produk manufaktur, dan sisinya 19% berupa komoditas primer. Dan, kementerian ini mengelaborasinya di lima prioritas sektor ekspor berupa produk makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik serta produk kimia.

Pernyataan Enggartiasto itu sejalan dengan pernyataan Menko Perekonomian Darmin Nasution strategi Pemerintah Indonesia yang fokus dalam era industri 4.0 untuk menjemput industri yang mempunyai keunggulan komparatif dan daya saing dalam pasar global.

“Lima sektor utama yang dipilih sebagai sektor fokus ‘Making Indonesia 4.0’ mencakup otomotif, tekstil, dan busana, makanan dan minuman, kimia, serta elektronik,” papar Menko Darmin.

Gambaran Industri Pengolahan

Di tengah-tengah optimistis yang membuncah dari pemangku kepentingan pemerintah meskipun ekonomi global masih belum bersahabat, ada kabar yang cukup positif, yakni indeks manajer pembelian manufaktur (Purchasing Manager’s Index/PMI) menunjukkan tren yang positif sepanjang Februari 2019.

Menurut laporan PMI sepanjang Februari 2019, level manufaktur Indonesia kini berada di level 50,1 dari bulan sebelumnya sebesar 49,9. Angka ini menunjukkan sektor manufaktur Indonesia tengah berada tingkat ekspansif.

Indeks manufaktur yang dirilis setiap bulan tersebut memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.

Apabila data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan di semua variabel survei.

Survei PMI manufaktur menggunakan data respons para manajer di bidang pembelian yang berasal dari 300 perusahaan manufaktur berbagai sektor, di antaranya industri logam dasar, kimia dan plastik, tekstil dan pakaian, serta makanan dan minuman. 

PMI manufaktur Indonesia pada Januari 2019 sempat mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan Desember 2018, namun itu merupakan hal yang wajar.

“Adanya kabar itu menjadi kabar gembira bagi sektor industry. Sinyal ini menunjukkan industri ada pertumbuhan yang bisa membuat kita terus optimistis. Kalau kita lihat PMI manufaktur mengalami kenaikan, kemudian investasi juga terus tumbuh," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Adanya laporan PMI itu telah memberikan semangat pemangku kepentingan di sektor itu untuk menyongsong industri yang mempunyai keunggulan komparatif dan daya saing dalam pasar global. Dalam rangka itu Kementerian Perindustrian pun mematok pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,4% tahun ini.

Subsektor yang diperkirakan tumbuh tinggi, antara lain, industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, serta industri barang logam, komputer dan barang elektronika. 

"Kami [Kemenperin] berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lainnya untuk terus mendorong industri berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial dan pengembangan sektor swasta yang dinamis," tutur Airlangga.

Dalam konteks PMI Indonesia selama periode Februari 2019 itu, indeks itu menujukkan negara ini masih lebih baik dibanding kawasan Asia Tenggara yang turun ke posisi 49,6 dari bulan sebelumnya 49,7 atau terendah sejak Juli 2017.

Di tingkat global, indeks manufaktur berada pada level 50,6 atau terendah sejak Juni 2016. Pelambatan ini diduga menggambarkan produksi manufaktur dunia yang stagnan di tengah perang dagang China versus Amerika Serikat. 

Sementara itu, laporan Nikkei berkaitan kondisi bisnis global tahun ini mengungkapkan sejumlah kalangan pelaku bisnis cukup antusias terhadap perkiraan

bisnis tahun mendatang. Pebisnis berharap, aktivitas manufaktur akan membaik seiring dengan variasi produk yang lebih banyak, investasi kapital, dan ekspansi bisnis yang terencana.

Wajar saja pemerintah begitu optimis sejumlah target yang ditetapkan itu bisa tercapai tahun ini. Pasalnya, sejumlah kebijakan makro tetap dijaga dengan komitmen pemerintah melaksanakan paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan.

Salah satunya adalah regulasi yang berkaitan dengan tax holiday yang mencakup lebih banyak sektor, yaitu melalui PMK 150/2018 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan, apalagi juga didukung adanya kepastian untuk mendapatkan insentif tersebut juga lebih jelas dengan adanya online single submission (OSS).

Artinya, investor tidak perlu lagi menunggu bahwa kondisi ekonomi dan politik Indonesia dinilai stabil. Ini kesempatan Indonesia untuk terus memacu investasi, ekspor, dan pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di sektor industri sehingga akhirnya juga menekan defisit neraca perdagangan yang mendera beberapa waktu terakhir ini. (F-1)

Industri
Narasi Terpopuler
Pengembangan Blok Masela yang Lama Terjeda
Isu pengembangan blok Masela sudah lama tak terdengar. Berbagai kendala menghadap laju proyek ini. Investor pun diingatkan untuk memperbarui komitmennya, jika tak ingin dibatalkan. ...
Infrastruktur Mulus Dukung Mudik Lancar
Animo masyarakat melakukan mudik lebaran kali ini lebih besar dari pada tahun sebelumnya. Infrastruktur yang memadai memungkinkan mudik melalui jalur darat kian menjadi primadona. ...
Indeks Pembangunan Manusia Terus Meningkat
IPM Indonesia 2018 di atas 70 tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan manusia Indonesia masuk kategori tinggi. ...
Mobilitas Pemudik Kembali ke Asal
Pemerintah sudah mengantisipasi ritual mudik tahunan ini sejak jauh-jauh hari. ...
Tiga Kades di Ajang Internasional
Tiga kepala desa (kades) mewakili pemerintah tampil di forum internasional. Standing aplaus pun diberikan oleh peserta yang hadir seusai presentasi. Mereka bercerita soal manfaat dana desa dan pengelo...
Penggunaan Panas Bumi Terus Digenjot
Bangsa ini patut berbangga karena negara ini tercatat sebagai pengguna listrik panas bumi terbesar ke-2 di dunia, setelah Amerika Serikat. ...
Rajawali Bandung Terbang Mendunia
Dalam versi militernya, CN-235-220 dan NC-212i andal sebagai penjaga pantai, ngarai, dan  medan bergunung-gunung. Mampu beroperasi siang atau malam dalam segala cuaca. Reputasinya diakui dunia in...
Calon Ibu Kota itu di Gunung Mas atau di Bukit Soeharto
Calon ibu kota negara sudah mengerucut ke dua pilihan, yakni Gunung Mas (Kalimantan Tengah) dan Bukit Soeharto (Kalimantan Timur). Namun sinyal kuat sudah menunjuk ke Gunung Mas. ...
Penggunaan Biodiesel Semakin Meluas
B100 itu merupakan biodiesel dengan kandungan 100% bahan bakar nabati. ...
Indonesia Tak Lagi Ekspor Coklat Mentah
Indonesia telah menjadi penyuplai bahan baku kakao terbesar ketiga di dunia.  Dan Indonesia adalah negara unggulan eksportir barang jadi produk untuk kakao. ...