Bahasa | English


SEJARAH

Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara

3 September 2019, 08:58 WIB

Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa.


Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara Candi Kalasan salah satu candi dari abad pra modern yang mendapat pengaruh dari kerjaan Odisha kuno. Foto: Arsip Nasional

Benudhar Patra adalah pengajar dan peneliti sejarah dari Universitas Chandigarh, Punjab, India. Dia banyak menulis tentang kajian Sejarah Orissa atau Odisha Kuno. Orissa adalah salah satu wilayah di India Utara dekat Kalkuta yang pada lima ratus tahun pertama Masehi lebih dikenal dengan nama Kalinga.

Kalinga dalam makalah Benudhar Patra yang  berjudul Maritime Contacts of Kalinga with Java, adalah salah satu kerajaan di India pada masa pra-Islam, yang menjalin kontak intensif dengan negeri-negeri kepulauan Nusantara. Hampir di semua pulau besar Nusantara, Kalinga mempunyai jejak peninggalannya. Dari Sumatra, Jawa, Bali, hinga Borneo (Kalimantan) semuanya mempunyai jejak-jejak peninggalan Odisha.

Pedagang-pedagang Odisha atau Kalinga pada masa itu adalah yang pertama kali menyebut wilayah Nusantara sebagai Suvarnadvipa alias Pulau Emas. Berita-berita dari pedagang-pedagang Odisha ini yang kemudian berkembang menjadi dongeng dari mulut ke mulut melalui jalur-jalur perdagangan kuno. Konon dongeng itu sampai ke ujung barat benua besar dan dikenal dengan  nama El Dorado.

Koloni Kalinga

Beberapa peneliti sejarah India senior seperti RD Banarjee dan RK Mookerji, adalah peneliti yang banyak menulis tentang sejarah "India Kolonial". Sejarah pada kisaran awal Masehi yang mencatat berkembangnya kekuasaan dan kebudayaan India sampai wilayah-wilayah terjauh di Timur dan Tenggara. Salah satu yang mengembangkan kekuatan armada laut  besar pada masa itu adalah Kerajaan Kalinga.

RK Mookerji mencatat beberapa hal penting dalam sejarah penguasaan kolonial India adalah ketika orang-orang Kalinga menduduki Pulau Jawa. Mookerji memperkirakan bahwa hal itu terjadi pada sekitar tahun 75 masehi.

Penanggalan ini bersesuaian dengan tradisi sejarah lokal di Pulau Jawa yang memperkirakan kedatangan orang mulia dari luar alias Aji Saka atau Adi Saka pada perkiraan tahun 78 penanggalan Romawi atau penanggalan Kristen. Angka tahun ini adalah angka yang dipergunakan oleh Sultan Agung dari Mataram untuk menentukan tahun Jawa yang dikenal pula dengan nama tahun Saka.

Perbedaan waktu yang sedikit berbeda antara versi Babat Tanah Jawa dengen peneliti sejarah dari India adalah hal yang biasa dalam penelitian teks-teks sejarah yang berkaitan dengan penanggalan. RK Mookerji sendiri menilai bahwa selama ini peneliti sejarah di India tidak terlalu peduli dengan masa Kerajaan Kalinga. Padahal pada masa itu beberapa pelaut Kalinga, dengan teknologi pada masanya mampu melewati Samudra Hindia yang terkenal dengan badai dan para perompaknya. Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa.

John Crawford, peneliti sejarah Inggris di era Raffles  (1820) bahkan menyebutkan bahwa pengaruh Hindu yang ada di Pulau Jawa berasal dari Kerajaan Kalinga India. Crawfurd mencatat bahwa Kalinga atau Kalingga dalam ucapan orang Jawa, adalah satu-satunya nama kerajaan di India yang disebutkan dengan penyebutan yang benar. Nama itu sangat dikenal dan satu-satunya yang disebutkan dalam catatan lama mereka.

RD Banarjee mengupas dengan lebih luas bahwa istilah Keling atau Kiling yang disebutkan oleh orang-orang dari Kepulauan Melayu, sangat jelas berasal dari Kalinga. Nama kuno kerajaan Kalinga yang terletak di Wilayah Telugu saat ini. Letaknya ada di pantai timur India antara Sungai Mahanadi dan Sungai Godavari. Ketika penyebutan itu saat ini menjadi sebutan umum bagi orang-orang asal India hal itu tidak mengherankan.

Dari Vichitra hingga Ratu Sima

Sejarawan lain seperti K Sridharan, lebih jauh menegaskan bahwa orang-orang Kalinga pada waktu itu bisa melewati perjalanan laut yang luar biasa. Begitu menetap di kepulauan-kepulauan Nusantara mereka membangun koneksi yang teratur dengan negara asalnya.

Salah satu buktinya adalah catatan Sejarah Melayu yang menulis tentang sejarah asal usul orang Palembang. Seorang pangeran bernama Vichitra telah turun dari langit dan muncul di sebuah gunung di Palembang dan menjadi penguasa di sana setelah menikah dengan putri lokal bernama Sundari. Dari perkawinan itu mereka mempunyai dua anak yang selanjutnya menjadi penerus penguasa Palembang.

Sumber lain seperti Catatan Dinasti Tang bertahun 618 hingga 906 masehi menyebutkan istilah Ho Ling untuk utusan-utusan dari Jawa yang datang ke negeri Cina. Berbagai studi yang dilakukan oleh Brandes maupun Pigeud, mampu melakukan pelacakan tentang nama sebuah Kerajaan Jawa Kuno yang letaknya ada di pesisir utara pulau Jawa bagian tengah.

Letak di mana kerajaan itu berada masih menjadi perdebatan para ahli sejarah. Satu versi menyebutkan bahwa Kerajaan Kalingga terletak di sekitar Pekalongan dan Kendal dengan merujuk pada prasasti Sojomerto yang ada di sana. Sementara itu sumber lain menyebutkan bahwa ada satu di desa di wilayah Jepara yang disebut sebagai desa Keling.

Catatan Dinasti Tang inilah yang menulis riwayat Ratu Sima. Diceritakan ratu ini naik tahta pada 674 Masehi. Beberapa ahli mempekirakan bahwa ini bersamaan dengan Kerajaan Tarumanegara di Pulau Jawa bagian barat, dan Kutai Kertanegara di Borneo bagian Tenggara. WP Groeneveldt, peneliti Belanda yang juga seorang pendeta, mencatat bahwa catatan Dinasti Tang ada dua versi. Versi yang pertama adalah versi yang disebut sebagai sejarah lama Dinasti Tang (618-907), dan yang kedua, yang disebut sebagai catatan Dinasti Tang yang lebih baru yang lebih lengkap penulisannya tentang utusan-utusan dari Jawa. Nama Jawa sudah disebut untuk menggantikan istilah Kaling.

Leluhur Sriwijaya

Kitab Buddha yang berjudul Aryamanjusrimulakalpa, pernah menebutkan tentang kepulauan-kepulauan yang berada di Laut Kalinga. Konteks penulisan naskah Buddha ini diperkirakan berasal dari masa berkembangnya ajaran Buddha Mahayana seiring dengan berkembangnya Dinasti Sailendra yang mengembangkan Kerajaan Sriwijaya.

Peneliti-peneliti India berpendapat bahwa wangsa Sailendra adalah kembangan dari generasi Sailodbhava yang memerintah Odisha atau Kalinga kuno di abad ke-7 Masehi. Salah satu bukti yang menguatkan peran wangsa Sailendra adalah Candi Borobudur dan Candi Kalasan di Jawa. Pada masa ini pula diperkenalkan huruf proto Nagari yang sangat mirip dengan huruf Kalinga Kuno.

RD Banerjee juga menguatkan bahwa dinasti penguasa gunung, alias Sailendra mempunya hubungan yang dekat dengan Sailodbhavas yang leluhurnya bisa dilacak dari bagian utara India.

Prasasti Kalasan yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi menyebutkan tentang gelar bagi Rakai Panangkaran yang disebut sebagai Arya Santati. Arya Santati mempunyai arti junjungan yang berasal dari Arya. Arya adalah sebutan bagi bangsawan-bangsawan India bagian utara. Beberapa catatan dalam prasasti di Jawa Tengah yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 juga menyebutkan istilah Kling Harya. Istilah ini juga muncul kembali dalam prasasti Airlangga di Jawa Timur yang berasal dari abad ke-11. Bahkan hingga pertengahan abad 15 di masa akhir kekuasaan Majapahit istilah Bathara Kling masih disematkan dalam prasasti yang mencatat kekuasaan raja terakhir Majapahit Girindrawhardana. (Y-1)

Budaya
Sejarah
Ragam Terpopuler
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...