Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota

KLENTENG TERBESAR

Dewa Kwan Kong Raksasa dari Tuban

Thursday, 27 December 2018

Di Tuban, di Kelenteng Kwan Sing Bio, Dewa Kwan Kong menjulang setinggi 30 meter. Patung yang diresmikan pada 2017 ini tercatat sebagai patung terbesar di Indonesia dalam catatan MURI.


Dewa Kwan Kong Raksasa dari Tuban Patung Dewa Kwan Kong. Sumber foto: Dok Muri.org

Klenteng atau kelenteng di Indonesia adalah sebutan bagi tempat ibadah masyarakat Tionghoa. Umumnya, klenteng yang ada di Indonesia adalah tempat peribadatan beberapa agama seperti Konghucu, Taoisme, Sam Kaw, dan Buddhisme.

Konghucu menyebut klenteng sebagai ‘litang’ yang artinya ‘surau’ atau ‘ci’ yang artinya ‘rumah abu’,  atau ‘miao’ yang berarti ‘kuil’. Taoisme menyebutnya sebagai ‘gong guan’ atau ‘istana untuk memuja langit’. Sedangkan Buddhisme menyebutnya sebagai ‘siyuan’ yang lebih dekat dengan pengertian asrama atau padepokan.

Di Indonesia, klenteng yang tersebar jumlahnya mencapai ratusan. Salah satunya adalah klenteng terbesar se-Asia Tenggara yang bernama Kwan Sing Bio di Tuban, Jawa Timur. Klenteng ini berbeda dengan klenteng lainnya, karena klenteng Kwan Sing Bio merupakan satu-satunya klenteng yang menghadap ke laut. Klenteng Kwan Sing Bio berlokasi di pinggir jalan raya Pantura dan menghadap tepat ke Laut Jawa.

Klenteng Kwan Sing Bio dibangun di area seluas 4-5 hektar, sehingga wajar jika klenteng ini dikenal masyarakat luas sebagai klenteng terbesar. Dominasi warna merah, kuning, dan hijau pada bangunan klenteng dengan berbagai hiasan khas Tionghoa seperti naga, lilin, dan lampion menambah keindahan yang menyihir para pengunjung ketika datang ke tempat ini.

Klenteng terbagi menjadi tiga ruangan di bangunan utamanya. Ruang pertama, di bagian depan, digunakan sebagai tempat membakar hio. Ruang kedua, berada di bagian tengah, kerap digunakan sebagai tempat sembahyang dan tempat meletakkan buah-buah persembahan. Ruang ketiga, berada di bagian belakang merupakan tempat arca atau patung Dewa Kwan Kong dan arca lainnya yang dikeramatkan.

Berjalan ke halaman belakang area klenteng, pengunjung juga dapat menemukan bangunan megah layaknya istana yang dilengkapi dengan gerbang, kolam, jembatan kelok sembilan, gazebo, dan lain-lain.

Kwan Sing Bio, menurut sejarahnya, kira-kira didirikan pada 1773. Berbeda dengan klenteng pada umumnya yang menggunakan simbol naga, di dalam klenteng Kwan Sing Bio terdapat simbol seekor kepiting yang berukuran besar.

Penggunaan kepiting yang menjadi ciri khas klenteng ini bukan tanpa alasan. Menurut riwayat dulunya di area tempat dibangunnya klenteng ini merupakan wilayah desa nelayan yang banyak terdapat kepiting. Situsbudaya.id

Klenteng Kwan Sing Bio, artinya adalah rumah pemujaan Dewa Kwan Kong. Seperti namanya klenteng ini memang dipersembahkan bagi Dewa Kwan Kong, dewa pelindung utama yang sosoknya digambarkan sebagai panglima perang jaman Dinasti Han. Setiap tahun, tepatnya di tanggal 24 bulan keenam pada penanggalan Tionghoa, banyak peziarah yang datang ke Tuban untuk memperingati ulang tahun Dewa Kwan Kong. Dahulu kala, dewa ini merupakan jenderal perang yang cukup terkenal. Dia hidup di zaman Sam Kok (tahun 221-269 Masehi). Kesetiaan dan kejujurannyalah yang membuat Dewa Kwan Kong dipuja berbagai kalangan.

Sebagai sosok teladan, maka dibangunlah patung Dewa Kwan Kong tertinggi di area klenteng setinggi 30 meter. Patung ini dibangun pada September 2015, lalu diresmikan pada 17 Juli 2017 yang bertepatan dengan hari kebesaran Dewa Kwan Kong yang ke-1.857. Pembuatan patung Dewa Kwan Kong yang menghabiskan waktu satu tahun dengan dana miliaran rupiah. Patung ini telah masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia atau MURI dengan nomor rekor 7996. Muri.org (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Gotong Royong, Antara Sukarno, Suharto, dan Dangdut Koplo (1)
Jika Sukarno mengatakan bahwa gotong royong adalah filosofi Indonesia, tentu Sukarno sedang ingin membangun imajinasi kebesaran bangsanya, yang saat itu masih belum wujud seperti sekarang. ...
Gotong Royong, Antara Sukarno, Suharto, dan Dangdut Koplo (2)
Ditingkahi dengan kebutuhan manusia yang ingin selalu tersambung satu sama lain, piranti genggam berkembang menjadi faktor pengubah peradaban manusia pada saat ini. ...
Gotong Royong, Antara Sukarno, Suharto, dan Dangdut Koplo (3)
Boleh diperkirakan hiburan Dangdut Koplo yang media promosi dan pemasarannya mengandalkan Youtube sebagai etalase, mampu menghidupi jutaan mulut. ...
Rumah Pohon Tertinggi Milik Suku Korowai Papua
Hampir tak terjamah, Suku Korowai merupakan salah satu suku yang ada di pedalaman Papua. Mereka hidup di atas rumah pohon dengan ketinggian mencapai 50 meter dari permukaan tanah. ...
Potret Pembangunan Manusia
Keyakinan Presiden Joko Widodo pada konsepsi voluntarisme, yang tercermin dalam tagline ‘Kerja, Kerja, dan Kerja’, jelas sekaligus mengisyaratkan keyakinannya pada konsepsi ‘homo fab...
Panggih dalam Pernikahan Adat Jawa
Menikah dengan adat merupakan kebanggaan tersendiri bagi manusia, termasuk yang berasal dari Suku Jawa. Di antara prosesi adat yang panjang, salah satunya upacara Panggih yang sarat akan makna. ...
Cerita Panji Sebagai Wujud Diplomasi Budaya
Cerita Panji masuk daftar Memory of the World UNESCO. Dalam deskripsinya, UNESCO menetapkan asal-usul genre sastra ini dari Indonesia. Menariknya, UNESCO bahkan menempatkan hipotesa Andrian Vickers se...
Gamelan dari Le Kampong Javanais
Jika seseorang mendengarkan gamelan tanpa prasangka, orang akan mampu menangkap sihir-sihir nada-nada perkusi yang mau tidak mau memaksa kita untuk mengakui bahwa selama ini musik yang kita punya (bar...
Resep Menjadi Dalang Kondang
Menjadi dalang adalah profesi yang menuntut kemampuan dan kemauan belajar seumur hidup. ...
Tambora Menggelapkan Dunia
Di dunia empat musim, sama sekali tidak terjadi musim panas di sepanjang 1816. Akibatnya, negeri-negeri itu bukan saja terjadi gagal panen, kelaparan dan penyakit tifus pun mendera. Dari India, muncul...