Bahasa | English


ARSITEKTUR

Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu

29 November 2019, 07:33 WIB

Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi sebagai tempat berkumpulnya warga untuk membahas berbagai masalah, tapi juga sebagai tempat mereka membicarakan strategi perang.


Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu Rumah Adat Baileo. Foto: Indonesia Karya

Secara geografis suku asli Huaulu menempati bagian utara wilayah Pulau Seram. Pemukiman mereka berada tepat di kaki gunung Binaiya. Suku ini berkerabat dekat dengan sepupu mereka suku Naulu yang menempati wilayah selatan Pulau Seram.

Sejak masa lalu, rumah adat mereka yang disebut Baileo menjadi salah satu hal yang paling menonjol dari kehidupan di pemukiman Huaulu. Bahkan, untuk mendirikan sebuah rumah Baileo, Suku Huaulu biasa mengadakan upacara dengan berbagai ritual di dalamnya.

Konon, dalam ritual ini sebuah bangunan Baileo harus menggunakan tengkorak manusia. Tengkorak yang digunakan merupakan musuh-musuh suku Huaulu yang telah mati sebagai pondasi utama dari tiang-tiang di seluruh bangunan.

“Benar, dulu suku kami menggunakan kepala manusia sebagai salah sau syarat ritualnya. Tapi sekarang itu sudah tidak kami gunakan, sebagai gantinya kami menggunakan tempurung kelapa,” ujar Wilhemus Kogoya, salah satu tokoh adat suku Huaulu, yang ditemui beberapa waktu lalu.

Wilhemus menjelaskan Baileo merupakan rumah adat utama yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa. Pada masa lalu, Baileo juga biasa dijadikan sebagai rumah Raja atau Kepala Desa dan juga tempat beribadah.

Warga suku Baileo biasa mengadakan pertemuan terkait kehidupan mereka atau bahkan pembicaraan mengenai strategi perang melawan musuh-musuh mereka. Namun dalam kehidupan modern saat ini, fungsi dan keberadaan Baileo lebih dimanfaatkan seperti fungsi Balai Desa.

Wilhemus menyebut Warga desa Huaulu biasa melakukan rapat desa dan berbagai upacara adat di Baileo. “Warga suku akan berkumpul didalam rumah (Bailoe –red) ketika mereka diminta berkumpul oleh kepala suku. Biasanya panggilan berkumpul ini untuk membicarakan keadaan desa, atau persiapan perang,” terangnya.

Ruangan Yang Bersifat Pravasi  

Secara umum, Baileo berbentuk seperti rumah panggung. Baileo memiliki banyak tiang penyangga yang biasanya diberi hiasan berukir. Baileo juga merupakan rumah istimewa dibandingkan rumah lainnya. Untuk masuk ke dalam rumah, kita diwajibkan menaiki sebuah tangga berukuran sekitar 1,5 meter. Prosesi ini membawa kita memasuki ruang utama Baileo yang merupakan tempat berkumpulnya seluruh warga desa.

Sekilas ruang utama Baileo ini cukup besar dan terbuka tanpa adanya penyekat jendela atau pintu. Disisi kanan dan kirinya terdapat tempat duduk yang sangat panjang. Tempat duduk ini mengelilingi  terdapat di sekeliling bagian dalam bangunan dan dapat digunakanakan untuk berbagai hal seperti duduk, rapat, bahkan makan besar secara bersama-sama.

Di salah satu sudut Baileo, terdapat satu ruangan yang biasa dijadikan ruangan privasi berupa kamar tidur. Uniknya, kamar tidur ini tidak sekadar difungsikan sebagai tempat istirahat layaknya rumah modern. Suku Huaulu juga menggunakan ruangan ini untuk memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya.

“Karena model rumah ini dibangun seperti ini maka kami membuatnya benar-benar sesederhana mungkin. Jadi, kami membuatnya bagaimana satu ruangan dapat digunakan untuk bermacam-macam kegiatan,” ucap Wilhemus Kogoya, tokoh adat Suku Huaulu, beberapa waktu lalu.

Secara umum, rumah Suku Huaulu hanya terdiri dari dua bagian. Satu bagian yang terbuka dan bersifat sosial dan bagian lainnya lebih tertutup untuk segala macam kegiatan bersifat privasi untuk keluarga.

Rumah Huaulu nampaknya juga sangat bersahabat dengan alam karena terbentuk dari material alami seperti kayu, bambu, dan atap rumbia. Bahkan ada beberapa rumah yang sama sekali tidak menggunakan paku untuk menyatukan satu bagian dengan bagian lainnya. (K-YN)

Rumah Adat
Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Kratom: Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...