Bahasa | English


KEKAYAAN TRADISI

Robo Robo, Sebuah Tradisi Merawat Sejarah dan Budaya di Kalbar

14 May 2019, 00:00 WIB

Jangan terkejut bila berkunjung ke Kalimantan Barat sewaktu bulan Safar (dalam hitungan tahun Islam) kemudian banyak menemukan rombongan masyarakat makan bersama di pinggir sungai. Kebetulan, Kalimantan Barat juga dikenal sebagai provinsi “seribu sungai”.


Robo Robo, Sebuah Tradisi Merawat Sejarah dan Budaya di Kalbar Festival Robo Robo. Sumber foto: Pesona Indonesia

Bersantap penuh keakraban di siang hari antara menjelang hingga sesudah zuhur. Menu makanan tersaji tentu saja khas Kalimantan Barat, seperti opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan asam pedas.

Ada juga berbagai hidangan jenis kue khas Kalimantan Barat, seperi bingke, sangon, jorong, putuh buluh dan pisang raja. Saat ini sudah ditambah lagi dengan menu pengkang.

Biasanya, sebelum dimulainya acara makan bersama, dilakukan pembacaan doa memohon keberkahan Allah Subhanawata’ala. Supaya dijauhkan dari bencana, kesusahan dan diganti dengan kebahagiaan maupun limpahan rezeki.

Setelah selesai bersantap, kembali doa kepaada Allah Subhanawata’ala dipanjatkan. Masih permohonan yang sama supaya Kalimantan Barat dan masyarakatnya tidak diberikan beban kesulitan.

Sebelum masyarakat pulang ke rumah masing-masing, ada satu ritual lagi yang perlu dilaksanakan. Yaitu membuang beberapa jenis makanan ke sungai agar hanyut dibawa arus sambil berdoa kepada Allah Subhanawata’ala supaya alam selalu memberikan manfaat kepada masyarakat Kalimantan Barat.

Ritual pembacaan doa-doa tersebut, saat sebelum dan sesudah makan bersama, oleh masyarakat Kalimantan Barat, dikenal sebagai doa selamat.

Membuang beberapa jenis makanan agar hanyut dibawa arus juga ditandai sebagai makna bahwa masyarakat Kalimantan Barat ingin selalu hidup selaras dengan sungai sebagai kekayaan daerah mereka.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, sungai bukan sekadar kebanggaan provinsinya, namun juga sebagai sumber penghasilan alias pemberi rezeki.

Semua prosesi tersebut merupakan tradisi ritual Robo Robo. Sebuah budaya masyarakat suku Melayu di Kalimantan Barat yang dilaksanakan setiap hari Rabu di pekan terakhir bulan Safar.

Bulan Safar bagi masyarakat Melayu diyakini sebagai waktu penuh keberkahan, saat ada anggapan lain bahwa juga katanya biasanya membawa musibah. Sehingga kedua anggapan tersebut amat tepat dirasakan untuk memohon kepada Maha Kuasa supaya dijaga dari musibah dan diganti keselamatan.

Untuk masa kini yang semakin berkembang, tradisi Robo Robo tidak hanya dilakukan oleh masyarakat suku Melayu di Kalimantan Barat yang beragama Islam. Namun kini dari suku lainnya yang ada di Kalimantan Barat juga telah ikut dalam Robo Robo, bahkan meskipun dengan agama non-Islam.

Tradisi ritual Robo Robo awalnya hanya dilakukan oleh masyarakat suku Melayu yang berdiam di sekitar Kuala Mempawah, 67 kilometer dari Kota Pontianak. Seiring dinamisnya zaman, ritual Robo Robo pun akhirnya sekarang hampir dilaksanakan oleh seluruh warga Kalimantan Barat di berbagai wilayah.

Robo Robo bukan sekadar budaya masyarakat Kalimantan Barat. Tapi Robo Robo juga mengandung esensi warisan sejarah dari leluhur masa lampau.

Semua berawal dari histori ketika Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba datang ke Mempawah tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi untuk menerima tampuk pewaris Kerajaan Bengkule Rajangk. Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba berlayar bersama 40 rombongan perahu dari Ketapang ke Kuala Mempawah.

Ketika Opu Daeng Manambon tiba di Kuala Mempawah, seluruh masyarakat menyambut gembira. Bahkan sampai dipasang kain warna warni di setiap rumah penduduk dan ada yang mengiringi rombongan Opu Daeng Manambon dengan sampan hingga ke pinggiran sungai.

Merasa bahagia dengan penyambutan masyarakat Kuala Mempawah, akhirnya Opu Daeng Manambon membagikan seluruh bekal makanannya kepada warga. Opu Daeng Manambon pun turun ke pinggiran sungai kemudian mengumandangkan azan lalu memanjaatkan doa pada Allah Subhanawata’ala agar diberikan keselamatan.

Selanjutnya seluruh masyarakat Kuala Mempawah yang menyambut Daeng Opu Manambon lantas bersantap bersama makanan diberikan di pinggiran sungai. Ikut juga makan bersama para rombongan kapal yang mengiring Daeng Opu Manambon.

Sebab kedatangan Opu Daeng Manambon dan rombongan berdasarkan perhitungan hijriah jatuh pada Rabu pekan terakhir bulan Safar, maka momentum sejarah itu terus diperingati masyarakat Kalimantan Barat hingga kini dengan tradisi Robo Robo.

Tradisi Robo Robo bahkan pada perkembangannya memberikan andil bagi pengenalan potensi budaya Kalimantan Barat dan perekonomian daerah. Setiap tahunnya sekarang diperingati Festival Robo Robo yang menampilkan berbagai kekayaan ritualnya, bahkan sampai dihadiri para pimpinan negara kawasasan Asean. (K-HL)

Budaya
Sosial
Ragam Terpopuler
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...
Sopi, Sake ala Indonesia dan Masa Depan Tuak
Sopi sebagai minuman khas Nusa Tenggara Timur, kini resmi dilegalkan. Pelegalan ini disambut baik oleh sebagian besar masyarakat NTT. Salah satu alasannya, karena minuman keras ini bersangkut paut den...
Bisbul, Buah Lemak Berbulu yang Penuh Manfaat
Buah beludru atau yang lebih sering dikenal dengan buah bisbul (Diospyros discolor) merupakan salah satu buah khas yang identik dengan Kota Bogor, Indonesia. ...