Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KEKAYAAN TRADISI

Upacara Pelebon

Wednesday, 15 May 2019

Kita sudah tahu pasti, Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang sudah tersohor di seantero dunia. Jutaan wisatawan mendatangi Bali setiap tahunnya. Pesohor atau selebriti kelas dunia kerap menghabiskan waktunya di Bali.


Upacara Pelebon Lembu Pelembon. Sumber foto: Istimewa

Tidak hanya itu, Bali juga didatangi tokoh dunia. Sebut saja Raja Salman dari Saudi Arabia yang berlibur cukup lama di Pulau berjulukan Pulau Dewata ini.

Apa yang ditawarkan Bali? Yang sudah kita sangat kenal adalah keindahan alamnya. Bali tidak hanya menawarkan keindahan pantai berpasir putih saja seperti Kuta dan Pandawa. Bali juga menawarkan keindahan alam danau dan pegunungan.

Kebudayaan Bali seperti tari-tarian hingga pokaian daerah juga memiliki ciri khas tersendiri. Tapi dari semua itu, ada sebuah tradisi yang kerap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Tradisi tersebut adalah Pelebon. Apakah Pelebon ini?

Miungkin pembaca lebih mengenal istilah Ngaben. Ngaben dan Pelebon ini memiliki kemiripan atau serupa tapi tidak sama. Ngaben dan Pelebon, adalah tradisi pemakaman di Bali.

Tapi dua ritual atau prosesi pemakaman ini berbeda, dari sisi proses, biaya dan tampilan. Bukan hanya itu saja, Pelebon ini adalah ritual atau prosesi upacara pemakaman untuk bangsawan atau raja-raja di Bali.

Pelebon ini, pelaksanaannya bisa berbulan-bulan dan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Prosesu dari Pelebon ini terbagi dalam dua. Yang pertama Pembaringan jenazah beserta upacara sakral lainnya dan yang kedua adalah kremasi jenazah/pelebon di setra (kuburan).

Untuk Upacara pembaringan jenazah mendiang akan dilengkapi dengan barang-barang kesukaan mendiang selama hidupnya. Setiap hari, keluarga mendiang membawakan sesajian dan suguhan berupa makanandan minuman. Keluarga mendiang menganggap bahwa mendiang masih “hidup”.

Keluarga kemudian dibantu masyarakat bergotong -royong mempersiapkan berbagai perangkat upacara pelebon, seperti bade pelebon (menara kremasi) yang beratnya kurang lebih 6 ton dan tingginya 26 meter dengan tumpang sia (sembilan), lembu yang tingginya bisa mencapai 7,5 meter yang akan dibakar bersama jenazah, bebantenan (sesajian), dan sebagainya.

Pengerjaan bade ini melibatkan sekitar 50-100 orang setiap harinya selama kurang lebih 15 hari sejak meninggalnya mendiang.

Biasanya, setelah diadakan berbagai upacara skaral diantaranya: upacara Nanceb, Nuasen lanNegtegan Karya yang bermakna memilih hari yang baik untuk mempersiapkan seluruh keperluan upacara agar segala hal bisa berjalan lancar, tanpa adanya halangan baik secara sekala maupunniskala.

Upacara lainnya adalah Upacara Ngingsirang Layon (memindahkan jenazah) dari ruangan tempat beliau disemayamkan di Gedong (yang merupakan ruangan tertutup) ke Bale Gede (bangunan terbuka). Selanjutnya diadakan Upacara Mendak ke Pura Dalem Puri lan Pura Dalem Ubud memohon ke hadapan Sang Hyang Widhi yang berstana di Pura Dalem seandainya atma (roh) yang meninggal masih dalam genggaman beliau agar bisa dibebaskan untuk bisa diupacarai. Tak lupa diadakan upacara lainnya seperti Upacara Ngreka.

Prosesi selanjutnya adalah Kajang (kawitan yang didapat dari pedanda dihias dengan berbagai macam bunga, uang kepeng, dan kwangen berwujud manusia serta ditaburkan minyak wangi dan bunga harum)di Pamerajan Agung (pura besar). Serta Upacara Ngening Ring Beji (mengambil air suci) di sungai Campuhan dan UpacaraNyiramin Layon (memandikan layon atau jenazah).

Setelah itu, bade lan lembu diupacarai/disucikandulu sebelum diusung ke setra (kuburan). Seluruh keluarga  akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa kepada mendiang.

Bade dan lembu beserta perlengkapan upacara lainnya selanjutnya diusung beramai-ramai menuju tempat kremasi. Bahkan karena betapa besar dan mewahnya bade, maka sepanjang perjalanan jaringan kabel listrik disterilkan/dimatikan.

Tentunya ini sudah dikonfirmasi pihak puri dengan pihak PLN setempat. Bahkan ada sejumlah lampu dan penerangan jalan yang rusak tertabrak bade. Pengusungan inidilaksanakan secara estafet oleh beberapa kelompok dan akan digantikan oleh kelompok lainnya. Setiap kelompok terdiri dari sekitar 300 orang. Pergantian pengusung secara estafet ini merupakan lambang dari kerjasama dan peran-serta seluruh lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai banjar.

Di setiap pertigaan atau perempatan jalan, bade akan diputar sebanyak tiga kali dengan maksud agaratma (roh) mendiang tidak kembali ke tempat semula.

Sesampainya di setra (kuburan) jenazah dipindahkan dari bade ke dalam lembu. Sebelum bade, lembu dan perangkat upacara pelebon lainnya dibakar, diadakan tarian sakral untuk mengusir hal-hal yang tidak diinginkan.Selanjutnya lembu beserta jenazah yang ada di dalamnya, bade, dan perangkat upacara pelebon lainnya akan dibakar hingga menjadi abu.

Setelah proses kremasi selesai, dilakukan upacara Nuduk Galih(mengumpulkan sisa-sisa tulang untuk diupacarai yang selanjutnyadilarung ke laut (Pantai Matahari Terbit) di Sanur. Ritual yang benar-benar agung dan melibatkan partisipasi ribuan masyarakat dan menjadi kearifan lokal masyarakat Hindu Bali yang lestari dan tujuan wisatawan. (K-TB)

Budaya
Sosial
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...