Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


SEJARAH KERAJAAN

Jejak Sejarah Kerajaan Batak Kuno di Balige

Monday, 29 April 2019

Bakkara memiliki jejak sejarah kerajaan yang panjang dengan tiga dinasti yang berbeda sejak abad ke-7 hingga abad ke-19.


Jejak Sejarah Kerajaan Batak Kuno di Balige Rekam Jejak Kerajaan Batak Kuno di Balige. Sumber foto: Pesona Indonesia

Menelusuri dan mengungkap sejarah asal mula Batak, perlu merunut bagaimana jejak peradabannya dimulai. Sekira 3.000 tahun lalu, peradaban Batak dimulai melalui proses perjalanan sejarah yang panjang sebagai ras suku Proto Melayu (Melayu Tua). Suku ini terkenal mempunyai adat istiadat, tradisi, filosofi hidup dan kepercayaan yang tinggi.

Sepanjang sejarah Suku Batak Kuno (Toba Tua) di Sumatera, pernah terdapat tiga dinasti kerajaan yang menyatukan berbagai kelompok suku yang mempunyai keterkaitan dengan beberapa suku dari India Selatan,  pedalaman Myanmar (Burma)  – Thailand dan Tibet, yang sebelumnya telah mendiami kepulauan dan Pulau Sumatera sejak abad sebelum masehi (+ 1.500 SM).  Pemimpin di antara pemimpin (Primus Interpares) suku membentuk dinasti yang menaungi kelompok klan, kerajaan-kerajaan suku di Tanah Batak (sampai dengan Aceh) dan selanjutnya Raja-raja Marga-marga dan Wilayah Huta.

Ketiga dinasti itu yakni pertama dinasti Sori Mangaraja yang dipimpin oleh raja turun temurun dengan gelar Sori Mangaraja yang merupakan adapatasi bahasa dari gelar Sri Maharaja. Dinasti ini berdiri hampir kurang 300-500 tahun sejak abad ke-7 hingga abad ke-12 M. Pusat pemerintahan dan ibu kotanya terletak di Lobu Tua, Barus dan Pansur yang dijadikan kota pelabuhan dan pusat perdagangan. Akhir masa dinasti ini terjadi akibat serangan oleh kerajaan Chola yang berasal dari India dengan kerajaan Sriwijaya termasuk daerah kekuasaannya.

Dinasti kedua yakni dinasti Hatorusan. Dinasti ini berusaha membangun kembali tatanan kota, tradisi dan kejayaan dinasti Sori Mangaraja. Dinasti Hatorusan dipimpin oleh raja yang bergelar Raja Hatorusan, raja pertamanya Uti Mutiaraja yang berasal dari keturunan Guru Tatea Bulan, Pusak Buhit. Wilayah kekuasaanya berada di Barus hinggal perbatasan wilayah Aceh. Pada awal abad ke-15, tampuk kekuasaannya diserahkan ke dinasti Sisingamangaraja dari Negeri Bakkara yang dikenal dengan kerajaan Bakkara yang sekarang bernama Balige.

Kota Balige terletak sekira 250 kilometer dari ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota Balige merupakan ibu kota kabupaten Toba Samosir yang memiliki luas 91 kilometer persegi. Kota ini bisa dicapai melalui 2 bandara di Sumatera Utara yaitu bandara Kualanamu dengan waktu tempuh 6-7 jam perjalanan dan bandara Silangit dengan waktu tempuh 30-60 menit. Di ibukota kabupaten yang terkenal dengan sebutan Tobasa ini, terdapat beberapa perbukitan yang biasa didatangi untuk menikmati indahnya Danau Toba. Kota Balige inilah yang erat memiliki jejak sejarah kerajaan Batak Kuno dinasti Bakkara.

Dinasti Bakkara dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja I-XII yang berdiri dari abad ke-16 hingga abad ke-19 atau hampir 400 tahun berdiri. Dalam sejarahnya, dinasti ini mengalami peperangan dengan Belanda selama 30 tahun. Raja Sisingamangaraja XII meninggal dalam pertempuran di Si Onom Hudon pada tahun 1907 sekaligus menandakan berakhirnya kerajaan dinasti Bakkara.

Di kota Balige-lah, Raja Sisingamangaraja XII dimakamkan, tepatnya di jalan Soposurung daerah Pagarbatu, Kecamatan Balige yang berjarak 2 kilometer dari pusat kota. Sisingamangaraja XII yang bergelar Ompu Pulo Batu ini dikenal sebagai rajanya Orang Batak. (K-ES)

Budaya
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...