KEKAYAAN ALAM
  Sumber foto: Antara Foto

Rempah Indonesia Diburu Dunia

  •   Rabu, 24 Oktober 2018 | 10:49 WIB
  •   Oleh : Administrator

Sepanjang abad ke-16 dan 17, orang-orang dari benua Eropa terutama Portugis, Spanyol dan Belanda memperebutkan penguasaan tanah atas rempah-rempah di Nusantara.

Bermula, usai menaklukan bandar perdagangan Malaka pada 1511, bangsa Portugis yang dipimpin Francisco Serrao bertolak menuju pusat produksi rempah-rempah nusantara, Maluku.

Kedatangan bangsa Portugis rupanya menarik perhatian Sultan Ternate, Abu Lais, yang kemudian menawarkan pendirian benteng di Ternate dengan imbalan produksi cengkeh sepenuhnya akan dijual kepada Portugis. Portugis menyepakati kerja sama dagang tersebut.

Inilah awal mula periode kolonialisme di Indonesia, yang dimulai dari ambisi penguasaan dagang rempah-rempah yang melimpah di Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropa.

Berabad-abad kemudian, rempah-rempah masih menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika. Berdasarkan data yang dirilis Food and Agriculture Organizatio (FAO) 2016, Indonesia menempati posisi keempat terbesar di dunia sebagai negara penghasil rempah-rempah dengan total produksi 113.649 ton serta total eskpornya mencapai USD652,3 juta.

Besarnya nilai tersebut disokong oleh keragaman jenis rempah-rempah khas Nusantara yang menjadi satu bagian tak terpisahkan dari penggalan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dari data Negeri Rempah Foundation, ada sekitar 400-500 spesies rempah di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi yang paling dominan hingga kemudian Indonesia dijuluki sebagai Mother of Spices.

Beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia adalah Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan DI Yogyakarta.

Dari keragaman jenis dan wilayah penghasil rempah-rempah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok rempah dunia yang dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Apalagi, nilai impor (permintaan) dunia terhadap rempah-rempah setiap tahunnya mengalami kenaikan sebesar 7,2% dengan nilai mencapai USD10,1 miliar.

Setidaknya ada tujuh jenis rempah yang menjanjikan, yakni lada, kayu manis, pala, vanili, cengkeh, kunyit, dan jahe.

Lada

Tanaman lada (Piper Nigrum Linn) ditengarai berasal dari daerah Ghat Barat, India. Menurut para ahli sejarah, diperkirakan pada 110-600 SM koloni Hindu yang datang ke Jawa membawa bibit lada. Di indonesia, lada banyak tersebar di DI Aceh, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timu, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, dan DI Yogyakarta. Pada 2016, lada menjadi komoditas rempah utama Indonesia dengan nilai ekspor mencapai USD143,6 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.

Cengkeh

Rempah-rempah ini merupakan tanaman asli Indonesia yakni dari kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore). Cengkeh pernah menjadi rempah yang paling popluer dan mahal di Eropa yakni di masa awal ekspansi Portugis ke Maluku, harganya hampir sama dengan harga sebatang emas. Di Indonesia, cengkeh tersebar di daerah Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan DI Yogyakarta. Pada 2016, nilai ekspor cengkeh mencapai nilai USD11,3 juta.

Kayu Manis

Rempah yang memiliki aroma harum dan rasanya yang khas membuat kayu manis biasa digunakan sebagai pelengkap pada kue atau pada minuman. Selain itu, kayu manis juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Daerah persebarannya banyak terdapat di Jambi, Sumatra Barat, dan DI Yogyakarta. Pada 2016, nilai ekspornya berada di urutan kedua di bawah lada dengan nilai USD44,8 juta.

Pala

Tanaman ini banyak tersebar di Bengkulu, Maluku, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. Selain berfungsi sebagai rempah-rempah, pala juga menjadi komoditas penghasil minyak atsiri. Tanaman ini merupakan tanaman khas Banda dan Maluku. Di tahun 2016, nilai ekspornya ada di urutan ketiga dengan nilai mencapai USD44,1 juta.

Vanili

Sebetulnya rempah ini bukan tanaman khas Indonesia, namun berasal dari Meksiko. Akan tetapi di Indonesia sudah banyak dibudidayakan terutama di daerah Jawa Timur, Lampung, NTT, Jawa Tengah, Jawa Tengah, dan D.I. Yogyakarta. Harga per pound-nya bisa mencapai USD50-200 atau sekitar Rp700 ribu-3 juta. Di tahun 2016, nilai ekspor vanili Indonesia mencapai USD30,2 juta.

Jahe

Jahe menjadi salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia, nilai ekspornya di 2016 mencapai USD2,6 juta. Jahe memiliki khasiat bagi kesehatan terutama digunakan sebagai bahan obat herbal.

Kunyit

Tanaman ini memiliki sejarah sebagai tanaman untuk pemakaian obat. Di Asia Tenggara, kunyit tidak hanya digunakan untuk bumbu utama tetapi juga sebagai komponen upacara religius. Nilai ekspornya di tahun 2016 mencapai USD3,5 juta.