Bahasa | English


KOMODITAS

Srinthil, Sang Primadona

26 December 2019, 02:34 WIB

Idig yang dilemparkan Sunan Kudus jatuh di Lamuk. Tanahnya amblas, melesak, dan membentuk cekungan. Dalam bahasa Jawa disebut “legok.” Wilayah yang secara topografis cekung inilah sekarang disebut Dusun Lamuk Legok. Dari sanalah Srinthil yang termasyur muncul sebagai hasil dari perpaduan pengetahuan lokal dan kemampuan olah budidaya masyarakat petani dengan kondisi alamnya yang spesifik.


Srinthil, Sang Primadona Seorang warga menjemur tembakau jenis srinthil di lereng Gunung Sumbing, Desa Banaran, Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (23/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Srinthil kali ini bukanlah nama seorang ronggeng yang ditulis oleh sastrawan Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk. Srinthil kali ini ialah nama sebuah tembakau khas dan satu-satunya di dunia yang berasal dari Temanggung. Bukan hanya khas, tapi juga sering dikatakan Srinthil adalah jenis tembakau berkualitas terbaik.

Sudah tentu kandungan nikotin di dalamnya juga sangat tinggi. Tapi, memang jenis tembakau ini bukanlah untuk dikonsumsi langsung. Srinthil dikenal memiliki peranan sebagai pembentuk rasa dan pemberi aroma bagi tembakau lainnya.

Masyarakat setempat menyebutnya “tembakau lauk.” Dengan komposisi dan perbandingan 1 kg Srinthil sebagai pembentuk rasa dan pemberi aroma bagi 100 kg tembakau-tembakau lainnya, di mana tembakau yang terakhir biasa disebut “tembakau nasi.”

Harga Srinthil juga tidak kepalang tanggung. Merujuk Srinthil, Pusaka Saujana Lereng Sumbing yang ditulis oleh Elva Laily (2016), disebutkan pada 2011 harga Srinthil per kilogram ialah setara dengan harga 1 gram emas 24 karat. Harga super fantastis inilah, yang mendorong penulis melakukan penulisan etnografis seputar tembakau Srinthil ini.

Menurut Laily, tercatat pada 2009 harga tembakau Srinthil mencapai Rp500-Rp700 ribu/kg, sementara tembakau rajangan bukan Srinthil hanya berkisar Rp125 ribu/kg. Bahkan pada 2015, harganya tembus hingga Rp1,25 juta/kg dan saat yang sama tembakau rajangan hanya Rp55 ribu/kg. Dari sumber koran lokal, pada 2018 harga tembakau Srinthil mencapai Rp 550 ribu.

Tingginya nilai ekonomis dari tembakau inilah juga membuat masyarakat setempat sering menyebut tembakau jenis Srinthil ini dengan istilah “mbakau pulung.” Khasanah Jawa, seperti kita tahu mengenal petatah-petitih “ketiban pulung” untuk memaknai realitas kehidupannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat frasa ini. Ketiban artinya kejatuhan; atau bermakna tidak disangka-sangka memperoleh (mendapat) sesuatu (rezeki dan sebagainya). Sedangkan pulung artinya beroleh bahagia (anugerah, hadiah, pangkat, dan sebagainya) atau laksana kejatuhan bintang.

Ya, benar, Srinthil ialah tembakau pulung. Bagaimana tidak, selain harganya sering melangit tinggi hingga terbilang super fantastis, tembakau jenis ini juga tidak bisa diciptakan sebagai buah rekayasa olah budidaya keahlian dan pengetahuan masyarakat petani. Srinthil benar-benar sepenuhnya anugrah alam dan Tuhan.

Dia tidak selalu muncul setiap musim panen di tiap tahunnya, juga tidak semua lokasi areal perkebunan tembakau di Temanggung bisa menghasilkan Srinthil.

Beberapa daerah penghasil antara lain Desa Legoksari, Desa Tlilir, Desa Wonosari, Desa Losari, Desa Pagergunung, Desa Pagersari, Desa Wonotirto, Desa Banaran, Desa Bansari, Desa Gedegan dan Desa Kemloko dan Desa Gandu. Kemarau panjang adalah kata kuncinya. Dari sinilah tembakau kualitas terbaik di Indonesia atau bahkan di dunia dihasilkan.

Secara kuantitas, jumlah Srinthil nisbi tidaklah banyak. Dalam 10 kg tembakau rata-rata hanya terdapat kurang-lebih 1 kg. Karena itulah tiap tiba masa “mbakon, yaitu istilah lokal untuk menyebut musim panen tembakau, wajar petani di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro itu selalu berharap sebagian tembakau hasil panenannya muncul dan menjadi kualitas Srinthil. Seandainya harapan itu terkabul jelas adalah ketiban pulung.

Asal Mula Nama

Mari beranjangsana ke Dusun Lamuk Legok. Mengapa ke sana? Ya, mutu kualitas tembakau Srinthil dari dusun ini adalah terbaik. Konsekuensinya bicara Srinthil hampir-hampir sinonim dengan nama Dusun Lamuk Legok dan Dusun Lamuk Gunung, keduanya berada di Desa Legoksari.

Merujuk tulisan Laily, dulu tembakau dari Desa Legoksari memiliki kode dagang LM, sebuah akronim dari kata Lamsi. Kode LM atau Lamsi ini untuk menandai tembakau yang dihasilkan di lahan yang berbatasan langsung dengan wilayah perhutani di lereng utara dan timur Gunung Sumbing. Selain Desa Legoksari, daerah yang hasil tembakaunya masuk kategori kode LM ialah Desa Tlilir, Desa Losari, Desa Gedegan, Desa Pagersari dan Desa Wonosari.

Namun sejak 2014, hasil tembakau dari Desa Legoksari memiliki kode dagang sendiri, yaitu LAMUK. Ini karena tembakau yang dihasilkan oleh kedua dusun di Desa Legoksari ini memiliki aroma buah nangka-salak yang nisbi lebih kuat dan kualitas yang nisbi juga lebih bagus dibandingkan dengan tembakau dari daerah-daerah Lamsi lainnya.

Bicara nama Lamuk, konon, bermula dari masa berakhirnya kekuasaan Raja Brawijaya ke-5 Majapahit. Waktu itu, hiduplah seorang mantan petinggi Majapahit bernama Tiknoyo Noto Yudho. Alkisah, dia ingin moksa di Gunung Sumbing. Saat itu ia melihat tempat yang dalam bahasa Jawa disebut “nglamat-lamat,” yang berarti samar. Karena itulah ia menyebut nama tempat ini sebagai nglamuk, lamuk. Di sinilah mantan petinggi Majapahit itu moksa.

Perjuangan membuka hutan dan pembangunan desa ini dilanjutkan oleh para abdi kinasih atau pengawal setianya. Lama-kelamaan, Nglamuk menjadi sebuah pemukiman warga yang sekarang lebih dikenal dengan nama Desa Legoksari. Demikianlah, bicara perihal asal usul desa.

Sementara, di sana juga dikenal legenda atau folklore tentang asal usul tanaman tembakau menjadi tanaman budi daya. Desa Legoksari atau populer disebut Nglamuk berhubungan erat dengan cerita tentang Ki Ageng Makukuhan. Dialah tokoh kunci yang disebut-sebut dalam folkore setempat sebagai telah berjasa memperkenalkan tanaman tembakau kepada penduduk yang domisili di seputaran lereng Gunung Sumbing dan Sindoro.

Konon, Ki Ageng Makukuhan adalah murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Berdarah China, sosok ini nama aslinya ialah Ma Kuw Kwan, selain belajar agama dia juga belajar budi daya pertanian. Hingga suatu ketika Sunan Kalijaga mengutusnya turut menyebarkan Islam di wilayah Kudus, sembari memberikan contoh dan mengajarkan soal pertanian kepada masyarakat. Rupa-rupanya upaya ini berhasil, sehingga wilayah di seputaran Kedu akhirnya menjadi terkenal karena hasil pertaniannya.

Keberhasilan ini terdengar Sunan Kudus. Ia, lalu mengutus salah satu santrinya, Bramanthi, menghantar tiga macam bibit tanaman kepada Ma Kuw Kwan. Bibit padi raja lele, bibit padi cempa, dan bibit tanaman yang kelak kemudian dikenal dengan nama tembakau. Dengan tambahan tiga bibit unggul ini, lahan pertanian Ma Kuw Kwan semakin berkembang. Walhasil, wilayah Kedu pun semakin termasyur. Dengan lidah Jawa, nama Ma Kuw Kwan sendiri kemudian lebih dikenal sebagai Makukuhan.

Ki Ageng Makukuhan. Ya, penambahan atribut Ki Ageng di depan nama Makukuhan jelas mengisyaratkan besarnya rasa hormat penduduk di seputaran lereng Gunung Sumbing pada sosok ini.

Ya, selain berjasa menyebarkan Islam dan mengajarkan budi daya pertanian, Ki Ageng Makukuhan juga dikenal sakti, atau dalam istilah Jawa disebut “wong linuwih.”  Memori ingatan kolektif perihal ketokohan sosok ini, yang didokumentasikan melalui cerita tutur dan diwariskan turun-temurun antargenerasi, mencatat Ki Ageng Makukuhan juga sering didatangi oleh penduduk yang sakit sebagai tempat berobat.

Hingga suatu ketika seorang yang menderita kelumpuhan datang kepada Ki Ageng Makukuhan untuk berobat. Untuk mengobatinya, Ki Ageng Makukuhan memberikan kepada orang tersebut satu daun tumbuhan yang tak bernama, sambil berkata: “Iki tambaku, yang berarti “inilah obatku.”

Mengenang momen peristiwa ini, ucapan Ki Ageng Makukuhan ini kemudian dijadikan nama bagi tanaman tak bernama yang selama ini ditanamnya: “tambaku.” Dari sinilah asal usul kata tembakau, yang diucapkan dalam versi lebih singkat menjadi “mbako.” Hingga saat ini, mbako adalah kata yang dipakai orang Jawa untuk menyebut tanaman tembaku.

Sementara, bicara sejarah asal mula nama Lamuk juga tidak terlepas dari folklore kesaktian Sunan Kudus. Berawal dari keluhan Ki Ageng Makukuhan tentang kesukaan penduduk lebih menanam padi daripada tembakau, Sunan Kudus melemparkan idig atau rigen sambil berkata:

“Nek kowe arep miara godhong ‘tambaku’ sing piguna kanggo wargamu, tutna lakune idig kiye mengko tibane nang ngendi. Kui panggonan sing bakal metu tanduran godhong ‘tambaku’ sing apik.”

(“Jika kamu hendak menanam daun ‘obatku’ yang berguna buat warga masyarakat, ikutilah jalannya rigen ini nantinya jatuh di mana. Itulah tempat di mana akan muncul tanaman daun ‘obatku’ yang baik”)

Idig atau rigen yang dilemparkan oleh Sunan Kudus jatuh di Lamuk. Sebagian tanahnya amblas, melesak, dan membentuk cekungan, yang dalam bahasa Jawa disebut “legok.” Wilayah yang secara topografis cekung inilah sekarang disebut Dusun Lamuk Legok. Dari sanalah nantinya tembakau Srinthil muncul sebagai hasil dari perpaduan pengetahuan lokal dan olah budidaya masyarakat petani plus kondisi alam di sana yang spesifik. (W-1)

Komoditas
Ragam Terpopuler
Benteng Terluas Sejagat Ada di Buton
Benteng Keraton Buton berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut dan menjadi lokasi strategis untuk memantau situasi Kota Baubau dan Selat Buton. ...
Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit
Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit. ...
Kado Manis Abu Dhabi bagi RI
Sejak 2013, Pemerintah Abu Dhabi melakukan perubahan nama sejumlah jalan utama di Abu Dhabi dengan nama-nama pemimpin besarnya. ...
Menjaga Harmonisasi Bambu Warisan Leluhur
Penerapan konsep pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal masyarakat di Desa Adat Penglipuran mampu melindungi ekosistem hutan bambu yang telah ada sejak ratusan tahun silam. ...
Si Upik Membantu Menyemai Awan
Fenomena La Nina akan mencapai level moderat pada Desember. Bersama angin monsun, La Nina berpotensi mendatangkan hujan badai. Bencana hidrometeorologi mengancam. ...
Sroto Sokaraja, Soto Gurih dari Bumi Ngapak
Bukan saja menjadi kuliner andalan warga Banyumas dan sekitarnya, Sroto Sokaraja bahkan kondang di antero negeri. ...
Menguji Nyali di Jeram Citarik
Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). ...
Kuau Raja, Pemilik Seratus Mata
Kuau raja jantan sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 2009 dan menjadi maskot Hari Pers Nasional 2018. ...
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara
Sensasi guncangan saat berada di tengah jembatan gantung Situ Gunung membuat pengunjung perlu dibekali sabuk pengaman. ...
Sensasi Nasi Buk di Kota Malang
Nasi khas Madura ini berkembang di Kota Malang. Lauk andalannya jeroan sapi, empal, jantung, limpa, babat, keripik paru, dendeng, hingga satai ati. ...