Bahasa | English


KULINER

Ada Minuman Rasa Nano Nano di Bali

25 October 2019, 05:26 WIB

Bagi sebagian daerah di Bali, loloh cemcem adalah minuman kenangan yang mengingatkan kita pada kasih sayang ibu. Jika anak kita sedang tak enak badan dan kita sedang berada jauh dari rumah, maka kita akan merindukan loloh cemcem buatan ibu. Loloh cemcem ibarat minuman jahe atau minuman kunyit asam buatan ibu yang membuat semua anak rindu pada kampung halaman.


Ada Minuman Rasa Nano Nano di Bali Loloh Cemcem. Foto: Resep Nusantara

Selama ini desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, dikenal sebagai desa adat terbersih sedunia. Prestasi ini didapat karena warga Penglipuran berhasil mempertahankan keaslian adat dan kebersihan desanya sebaik mungkin. Desa Penglipuran punya lahan seluas 112 hektare dengan hunian sekitar 230 KK. Sebagian lahan desa adalah hutan bambu yang resik terjaga.

Sejak tahun 1995, desa ini menjadi daerah tujuan wisata (DTW) karena makin banyak wisatawan asing yang ingin mengunjunginya, selepas berkunjung ke Batur dan Kintamani. Dunia mengenal kawasan ini dari postcard dan instagram story wisatawan yang sedang berkunjung. Dari bentuk bangunan rumah, sempitnya pintu dan halaman serta letak pura keluarga yang sangat rapih dan nyaris sama satu sama lain, menjadi daya tarik bagi Desa Penglipuran.

Para wisatawan juga tertarik pada nilai-nilai yang berkembang di desa ini, yaitu seluruh prianya dilarang berpoligami sebagai bentuk penghargaan kepada wanita. Berdasar histori tertentu, ada pengecualian soal adat yaitu desa ini tidak mengenal pembakaran jenazah alias ngaben, tapi seluruh jenazah dikubur. Desa ini juga memiliki hukuman berat bagi pencuri harta.

Dari semua keunikan yang dimiliki, Desa Penglipuran punya satu produk yang mencuri perhatian masyarakat Bali maupun wisatawan asing, yaitu loloh cemcem. Loloh artinya jamu, sedangkan cemcem berasal dari kata kecemcem (Spondias pinnata) atau sejenis kedondong hutan yang tumbuh liar di sekitar desa Penglipuran. Buahnya berbentuk lonjong berwarna hijau kekuningan. Tapi yang dipakai untuk minuman itu adalah daunnya. Awalnya status loloh cemcem mirip beras kencur atau kunyit asam, yang di Jawa diminum ketika dahaga atau ketika badan sedikit tak enak.

Oleh warga desa, daun dari tanaman cemcem yang tumbuh liar di kebun, kemudian ditumbuk dan setelah halus diberi asam, gula aren, daun sirih, sedikit cabai dan irisan daging kelapa muda. Ada juga yang menambahkan kayu manis. Jika zaman dulu para ibu menghaluskannya dengan menumbuk dengan penumbuk tradisional, kini sudah digantikan dengan mesin.

Setelah dicampur air, dimasak, didinginkan dan disaring, loloh itu dikemas dalam beberapa botol bekas kemasan air mineral. Alhasil warna loloh cemcem adalah hijau segar seperti jus sayur dengan rasa nano-nano; ada rasa kecut, pedas, sepat, asin, manis dan sedikit sensasi pahit alias enam rasa.

Tampilannya yang kurang menarik tertutupi oleh rasanya yang unik yang tidak kita temukan di minuman herbal lainnya. Loloh cemcem bisa disajikan hangat atau dingin dengan tambahan es batu tapi banyak yang suka minum dalam keadaan dingin karena terasa segar.

Penduduk desa Penglipuran mengolah dan menjual loloh cemcem di beberapa sudut desa untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan yang datang ke desa itu. Jadi masih sebatas home industry. Mereka menaruhnya di botol bekas air minum kemasan yang sudah dibersihkan dan meletakkannya di sela-sela es batu di termos.

Harganya hanya Ro 5000 – 6000 perbotol mineral (660ml), dan hanya tahan selama 1-2 hari di suhu normal atau seminggu jika diletakkan di lemari es. Para wisatawan yang lelah berkeliling desa adat itu membeli beberapa botol sebagai pelepas dahaga.

Bermanfaat untuk Menurunkan Tensi

Beberapa wisatawan mancanegara menyukai karena kesegarannya. Tetapi, beberapa wisatawan lainnya mengeryitkan dahi karena rasanya sedikit aneh bagi mereka.

Menurut penelitian, loloh cemcem ini punya manfaat untuk menurunkan tensi, melancarkan pencernaan juga baik untuk ibu menyusui. Beberapa sumber menyatakan bahwa loloh cemcem juga bisa untuk menambah selera makan, meredakan panas dalam dan menjadi obat batuk yang manjur, selain menyegarkan tubuh. Konon, loloh cemcem adalah minuman tradisional yang diminum kalangan ningrat, khususnya ketika kerajaan-kerajaan di wilayah Bali masih berjaya.

Berdasar masukan para wisatawan terutama dari China dan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir ini, para pembuat loloh di Penglipuran membuat inovasi dengan membuat loloh dari bunga teleng dan bahan tambahan berupa gula batu, air dan jeruk nipis. Semua bahan (kecuali jeruk nipis) direbus kemudian disaring dan didinginkan, kemudian diberi air perasan jeruk nipis. Loloh teleng (loteng) berwarna biru dan rasanya segar.

Selain loteng, kini mereka juga memproduksi loloh kiam bwee, berbahan dasar buah plum berdasar rekomendasi wisatawan yang berkunjung ke sana. Plum ini mereka import dari Vietnam. Sama dengan proses loteng, plum ditambah gula batu dan air kemudian direbus. Setelah dingin, disaring dan ditambah air jeruk nipis. Rasanya seperti minuman isotonik terkenal yang iklannya sering muncul di televisi. Jika loloh cemcem berwarna hijau, loteng berwarna biru, loloh kiam bwee berwarna putih seperti susu.

Jika tak sempat ke desa Penglipuran, segarnya loloh bisa kita dapatkan di kedai pak Bagong yang terkenal di jalur wisata Gunung Batur-Kintamani. Sampai di Bangli kita mengarah ke jalan I Gusti Ngurah Rai dan jalan Subak Aya dekat stasiun bahan bakar umum (SPBU). Sekitar 50 meter dari mulut jalan kita menemukan warung pak Bagong di sebelah kiri jalan. Di warung itu, loloh cemcem bisa kita padukan dengan nasi dengan lauk ikan nila bumbu nyatnyat.

Minuman Festival

Sepuluh tahun lalu, kecuali di desa Penglipuran, tak ada loloh cemcem yang dijual di warung sekecil apapun di Bali. Seperti diungkap di atas bahwa loloh cemcem adalah minuman masa kecil yang dibuat oleh ibu ketika keluarga membutuhkan. Itupun seputaran Bangli atau masyarakat yang sengaja menanam pohon kecemcem di halaman rumahnya.

Tapi sekitar tahun 2011, loloh cemcem dengan kemasan sederhana mencuri perhatian masyarakat. Beberapa pihak memperbaiki tampilan loloh cemcem di bekas botol mineral kemasan ke botol beling sehingga terlihat bersih. Beberapa restoran berkelas dan spa-spa tertentu menyajikannya dalam jumlah terbatas.

Jika dulu loloh cemcem hanya diproduksi di desa Penglipuran, kini beberapa tempat juga memproduksinya, seperti Tegalalang, Gianyar dan beberapa tempat di Denpasar. Meski begitu, pemasok utama loloh cemcem tetap dari Penglipuran yang produksinya tidak dalam jumlah massal.

Yang menarik adalah minuman ini selalu ada di setiap warung minuman di Pekan Kesenian Bali (PKB) yang berlangsung di kawasan Art Centre Ardha Candra Denpasar, Bali. PKB diadakan sebulan penuh mulai pertengahan Juni sampai pertengahan Juli, setiap tahunnya.

Loloh cemcem kini juga mudah ditemukan di sejumlah festival dan acara-acara besar di Bali terutama festival kuliner. Tersedia di meja-meja para tokoh daerah dan artis pengisi acara dan dijual murah untuk pengunjung. Loloh kini seperti minuman wajib setiap festival di Bali.

Warung-warung kecil di Singaraja dan Denpasar tetap menyediakan dalam kemasan sederhana, tapi karena peminat lebih banyak dari pasokan, sehingga lebih sering kosong. Datanglah ke desa Penglipuran, atau kunjungi festival-festival besar di Bali, Anda akan menenggak loloh rasa nano-nano ini. (K-CD)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...
Cakalang Fufu Rica Rica, Edodoe Pe Sedap Sekali
Aroma ikan ini memang khas dan tidak bisa dibandingkan dengan olahan ikan asap lainnya. Mungkin karena pengolahannya menggunakan kayu bakar pilihan. Namun yang membuat rasa ikan ini semakin menon...