Bahasa | English


KULINER

Geplak Kue Khas Betawi

27 August 2019, 14:13 WIB

Salah satu kue yang menarik perhatian pada penyelenggaran Lebaran Betawi yang berlangsung di Monas pada akhir Juli lalu adalah kue geplak. Masyarakat atau warga Jakarta banyak yang tertarik dengan kue khas Betawi ini.


Geplak Kue Khas Betawi Geplak Kue Khas Betawi. Foto: Dok. Kemendikbud

“Saya tertarik dengan kue khas Batavia atau Betawi ini. Dulu, sering dikasih dan dikirimi asisten rumah tangga saya. Namun sudah lima tahun ini tak lagi makan kue geplak, karena si bibi meninggal dunia. Semasa hidup si bibi sering berbagi kiriman kue geplak buatan kerabatnya dari Condet,” cerita Ria Putri, pegawai di Bursa Efek Jakarta.

Pada akhir Juli lalu Ria bersama suami dan putranya datang ke Monas menyaksikan Festival Lebaran Betawi. Di sana, hatinya girang  mendapati kue yang pernah menjadi favoritnya semasa si bibinya masih hidup. 

Kue geplak tercatat sebagai salah satu kue khas Betawi yang terbilang langka atau sudah jarang ditemui. Beberapa kawasan atau daerah yang memiliki penduduk mayoritas Betawi seperti Condet, Kemayoran, Rawa Belong, Kelapa Dua, Marunda, Bintaro, Setu Babakan dan sebagainya tentu mengenal dengan baik kue geplak.

Kue geplak menjadi panganan kondang sederetan dengan kue khas atau kuliner asal Betawi lainnya seperti Dodol Betawi, Roti Buaya, Kue Kembang Goyang, Kerak Telor, dan Bir Pletok. 

Dalam keseharian kehidupan masa sekarang, kue ini termasuk kue sangat jarang ditemukan bahkan di tempat-tempat penjual kue khas Betawi yang ada di Jakarta. Kue gaplak memiliki citarasa manis, bertekstur lembut dan berselimut atau bertabur tepung. Dalam acara adat masyarakat Betawi seperti hajatan lamaran dan pesta pernikahan, khitanan atau sunatan, dan acara lain biasanya disajikan kue ini.

Menurut penuturan Ibu Lili, warga Batu Ampar Condet yang pernah membuat kue geplak, proses pembuatan kue ini terbilang repot. Apalagi waktu mengaduknya dengan tangan. Setelah diaduk kue dicetak di tenong atau wadah lalu diratakan dengan setengah dipukul. 

Konon proses pemukulan ini disebut geplak. Dia menjelaskan pada kue geplak memiliki warna dominan putih kecoklatan. Kue ini  terbuat dari beras yang agak pera, kelapa parut, gula merah, gula pasir, daun pandan, dan garam secukupnya.

Cara pembuatan kue geplak; beras pera digiling hingga menjadi tepung lalu disangrai bersama daun pandan hingga berwarna kuning, yang menandakan tepung sudah matang. Lalu sangrai kelapa parut hingga garing berwarna keemasan. 

Selanjutnya masak air gula merah dan gula pasir juga daun pandan sampai larut dan disaring. Sebaiknya sisihkan sedikit tepung untuk taburan di atas kue. Kemudian masukan tepung beras dan kelapa sangrai menjadi satu dan beri garam secukupnya.

Kemudian semua bahan yang sudah tercampur diaduk hingga merata. Tahap selanjutnya, masukan larutan gula sedikit demi sedikit sambil terus diuleni diukur supaya tidak lembek dan adonan yang sudah menyatu dan mengental ini bisa dibentuk ke dalam cetakan. Masyarajat Betawi biasanya menggunakan wadah bulat terbuat dari bambu. Kemudian keluarkan dari cetakan lalu taburi sisa tepung yang disisihkan tadi.

Nah, pada proses pengadukannya memakai wadah besar atau baskom besar. Sepintas proses pembuatannya mirip pembuatan dodol. Yang membedakan kalau pembuatan dodol dilakukan di atas tungku api panas, maka kue geplak pengadukannya di wadah atau baskom besar dalam keadaan panas. 

Kata Ibu Lili, untuk kekuatan atau daya tahan kue agar bisa bertahan tiga hingga tujuh hari, letakanlah di lemari pendingin. Kue geplak semakin lama membuat rasanya kuat dan renyah atau garing. “Untuk mendapatkan kue geplak bertekstur garing sebaiknya beras digiling sendiri hingga hasilnya kue geplak yang garing,” ujat dia.

Harga untuk kue geplak berkisar mulai Rp 50 ribu ke atas, tergantung ukurannya. Secara umum kue ini berbentuk lingkaran atau seperti lempengan bulat yang bisa diletakan di piring dalam keadan utuh atau dipotong seperti halnya dodol. (K-HP)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang "Agen" Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...