Bahasa | English


KULINER

Ke Sambas Berburu Bubbor Paddas

17 October 2019, 10:54 WIB

Berkunjung ke Sambas Kalimantan Barat, pastikan Anda tidak melewatkan mencicipi kuliner khas kota yang pernah menjadi Kota kesultanan ini yaitu bubur pedas. Makanan khas suku Melayu Sambas ini biasa juga disebut dengan Bubbor Paddas.


Ke Sambas Berburu Bubbor Paddas Bubur Sambas Khas Kalimantan Barat. Foto: Reseppedia

Menurut warga suku Melayu Sambas kata “Pedas” merupakan perumpamaan dari suku Melayu Sambas yang mempunyai makna beragam sayuran dan rempah yang terdapat dalam bubur tersebut. Waktu memasaknya, ke dalam bubur ini dimasukkan berbagai macam sayur seperti kangkung, daun pakis, jagung yang dipipil, kentang, daun kunyit dan daun kesum (polygonum odoratum). Daun ini hanya ada di Kalimantan Barat dan digunakan untuk menambah aroma dalam bubur.

Menurut cerita masyarakat, Bubur Pedas Sambas atau bubbor paddas, dahulu berasal dari Suku Melayu yang menempati wilayah Singkawang, Pontianak dan sekitarnya. Bubur pedas yang terbuat dari beras tumbuk halus ini dulunya merupakan makanan khusus para raja. Bubur Sambas hanya akan dimasak pada acara kerajaan maupun acara adat yang sangat sakral.

Bahkan saat jaman perang, bubur pedas juga dibuat untuk menghemat biaya makanan pada saat rakyat di Kabupaten Sambas berperang melawan penjajah. Kala itu, stok makanan sangat sedikit dan menipis, sehingga rakyat Sambas berinisiatif membuat makanan tanpa harus banyak mengeluarkan biaya, caranya dengan membuat bubur. Kini, hal tersebut tidak berlaku lagi, karena bubur sambas bisa diperoleh hampir di setiap sudut Kota Sambas, di kantin sekolah, kantor, pasar tradisional, bahkan sampai restoran berbintang.

Proses pembuatannya dimulai dengan beras yang ditumbuk halus, kemudian dioseng dan diberi aneka bumbu rempah serta sayuran. Tidak heran jika bubur ini dinilai penuh gizi, dan memiliki rasa yang sangat segar. Sayuran seperti kangkung, pakis, dan daun kesum menjadi campuran yang menyehatkan.

Untuk rasa pedasnya, banyak orang mengira bahwa Bubur Pedas Sambas ini memiliki rasa pedas yang berasal dari cabai. Padahal tidak. Rasa pedasnya berasal dari lada saat bumbu beras disangrai. Bubur Sambas sendiri rasanya tidaklah sangat pedas, tetapi rasa pedasnya sedikit saja.

Menyantap Bubur Pedas Sambas akan makin nikmat jika ditemani gorengan ikan teri, bawang, kacang tanah, kecap, dan jeruk. Teksturnya gurih dan segar, tentunya lebih enak disantap saat masih hangat. 

Seiring berjalannya waktu bubur ini tidak hanya tersedia di Sambas saja. Sekarang, Bubbor Paddas  dapat kita jumpai di negara tetangga yakni Serawak, Malaysia. Di Pontianak dan Singkawang, satu mangkuk Bubur Pedas Sambas harganya Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu saja.

Resep Bubur Pedas

Bahan:

  • 250 gr beras, cuci bersih
  • 100 gr kelapa setengah tua, parut
  • 2 lembar daun salam
  • 2 batang serai, memakan
  • 2 cm lengkuas, memarkan
  • 2 liter air
  • 150 gr daging sapi, potong dadu
  • 100 gr wortel, potong dadu 1cm
  • 100 gr ubi jalar, potong dadu 1 cm
  • 5 helai kacang panjang, potong-potong
  • 1 ikat daun kangkung
  • 1 ikat daun pakis (miding/paku dayak)
  • 50 gr daun kasum
  • Jagung manis

Bumbu yang dihaluskan:

  • 3 siung bawang merah
  • 1 siung bawang putih
  • 1 buah cabai merah
  • 2 ¼ sdt garam
  • ¼ sdt merica bubuk

Bahan pelengkap:

  • 100 gr kacang tanah, goreng
  • 50 gr ikan teri, goreng
  • Sambal
  • Kecap
  • Cuka
  • Lada
  • Bawang goreng

Cara Memasak

  • Pertama sangrai beras, daun salam, serai, dan lengkuas hingga matang.
  • Lalu ambil rempah daunnya kemudian angkat.
  • Beras yang telah disangrai lalu di tumbuk sedikit kasar.
  • Setelah bahan tersebut disisihkan, kini giliran kelapa yang telah diparut untuk disangrai hingga warnanya berubah kecoklatan.
  • Kelapa yang telah matang lalu ditumbuk halus dan sisihkan.
  • Didihkan air dan rebus daging hingga matang dan teksturnya empuk.
  • Masukkan bumbu halus, lalu aduk hingga rata, dan masak hingga harum dan kaldunya tinggal 1,5 lt.
  • Masukkan ubi jalar, wortel, dan kacang panjang hingga setengah matang.
  • Tambahkan beras tumbuk dan kelapa parut sangai tumbuk, masak sambil aduk-aduk agar bubur tidak hangus di bagian bawah.
  • Masukkan kangkung, pakis dan daun kesum, masak hingga matang lalu angkat.
  • Bubur pedas siap disajikan.

(K-YN)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Bunga Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...