Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


PERMAINAN TRADISIONAL

Bermain Rangku Alu Melatih Konsentrasi

Friday, 15 Febuary 2019

Nusa Tenggara Timur memiliki permainan tradisional bernama Rangku Alu yang biasa dilakukan saat musim panen. Bermain Rangku Alu dinilai dapat melatih konsentrasi dan ketangkasan. Tak hanya dimainkan anak-anak, Rangku Alu dapat dimainkan semua kalangan.


Bermain Rangku Alu Melatih Konsentrasi Permainan tradisional Rangku Alu. Sumber foto: Istimewa

Masa kanak-kanak seringkali dianggap sebagai masa yang paling berharga dan bahagia. Setelah pulang sekolah, biasanya anak-anak bergegas untuk kembali keluar rumah untuk bermain bersama teman. Namun, seiring perkembangan zaman, kini anak-anak banyak yang lebih memilih untuk tetap di dalam rumah dan bermain bersama gadget yang dimilikinya. Ya, perkembangan zaman memang luar biasa, permainan tradisional lambat laun tergeser dengan permainan dalam bentuk digital. Padahal sebenarnya permainan tradisional tidak kalah menarik dan kaya manfaat bagi anak-anak.

Permainan tradisional merupakan permainan yang dimainkan oleh masyarakat di suatu daerah tertentu. Indonesia memiliki begitu banyak permainan tradisional yang populer, salah satunya yaitu Rangku Alu yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Dahulu, masyarakat Manggarai biasa bermain Rangku Alu untuk merayakan hasil panen pertanian dan perkebunan, sebagai bentuk rasa syukur dan bahagia. Pada saat bulan purnama, para remaja berkumpul dan meramaikan permainan ini.

Permainan yang menggunakan bambu ini ternyata tak hanya dimainkan anak-anak. Permainan asal NTT ini juga dimainkan semua kalangan. Rangku Alu biasa dimainkan di tanah lapang yang keras dan tidak berumput, karena kalau berumput khawatir akan memicu resiko terpeleset. Alat yang digunakan yaitu empat bambu dengan panjang masing-masing dua meter.

Pemain Rangku Alu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang bermain dan kelompok yang berjaga. Kelompok yang berjaga terdiri dari empat sampai enam orang yang membentuk persegi dan bertugas menggerakkan bambu, masing-masing yang berjaga jongkok atau duduk dengan memegang dua bilah bambu, begitupun dengan yang berjaga lainnya. Kelompok yang mendapat giliran untuk bermain akan melompat di sela-sela bambu dan menghindari jepitan bambu. Terdapat satu sampai empat orang yang mendapat giliran bermain.

Pemain akan masuk ke dalam bambu yang terbentuk bidang persegi dan melompat-lompat sesuai irama buka-tutup bambu. Saat bermain, biasanya bambu yang digerakkan menghasilkan nada atau irama yang berpola. Semakin lama irama bambu dan nyanyian akan semakin cepat, maka pemain harus pintar-pintar dalam melompat agar tidak terpeleset atau terjepit bambu. Jika kelompok yang dapat kesempatan bermain terjepit kakinya, maka harus bergiliran berganti tugas.

Selain sarana hiburan, Rangku Alu juga dapat menjadi sarana edukasi dan pembentukan karakter diri. Bermain Rangku Alu dapat melatih konsentrasi dan melatih ketepatan dalam bertindak, karena tak hanya melompat-lompat asal, dalam permainan ini perlu fokus antara gerak kaki dan gerak bambu yang dimainkan harus sesuai. Kalau tidak fokus atau tidak konsentrasi, nantinya kaki pemain akan terjepit bambu atau malah terpeleset.

Kelincahan juga dapat dilatih dalam permainan Rangku Alu. Karena, semakin lama irama bambu dan nyanyian akan semakin cepat, otomatis kaki pemain harus bergerak cepat dan mengubah arah secara cepat tanpa terganggu keseimbangannya mengikuti irama. Rutin bermain Rangku Alu juga dapat melatih kekuatan otot kaki dan tentu akan memberi pengaruh baik untuk daya tahan tubuh.

Tari Rangku Alu

Ketukan bambu yang membentuk pola ritme yang saling berhubungan dengan lompatan pemain dalam Rangku Alu mengakibatkan para pemain seolah-olah melakukan gerakan tari, hingga lahirlah tari Tari Rangku Alu khas Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam tarian ini, permainan tersebut dikreasikan dengan berbagai gerakan dan pengiring yang menghasilkan sebuah kreasi seni yang begitu khas dan indah.

Dalam tari tradisional Rangku Alu, para pemain atau penari menggunakan baju adat khas Manggarai, yaitu baju bero, ikat kepala, dan kain songket khas Manggarai. Tarian ini biasa dimainkan oleh enam hingga delapan orang pemegang bambu dengan beberapa orang yang menari bergantian.

Gerakan tarian ini sebenarnya berasal dari gerakan para penari saat menghindari jepitan bambu, dan didominasi gerakan kaki yang sesuai. Gerakan penari dan pemain atau penggerak bambu kemudian dipadukan dengan irama musik dan lagu daerah khas NTT. Dalam pertunjukan seni Tari Rangku Alu ini diiringi oleh alunan muik tradisional seperti gendang dan gong.

Tari Rangku Alu telah menjadi salah satu tarian tradisional yang cukup populer di daerah Manggarai. Karena bentuk warisan budaya yang wajib dilestarikan, tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan penting, seperti acara perayaan, budaya, dan penyambutan tamu penting. Tari Rangku Alu yang lahir dari sebuah permainan tradisional ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang datang ke NTT, terutama ke Manggarai, Flores. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...
Siwa-Budha, sebuah Praktik Filsafat Perenialisme
Bagaimanapun, keberhasilan strategi kebudayaan ala filsafat perenialisme yang terejawantahkan dalam mazhab Siwa-Budha, juga mengejawantah pada praktik kehidupan agama yang toleran, damai, dan harmoni ...
Keindahan Wisata Jayapura
Kabupaten Jayapura dianugerahi keindahan alam yang menakjubkan. Deretan perbukitan berpadu harmonis dengan keelokan Danau Sentani. Kicauan dan kepak burung Cenderawasih nan eksotik, dipadu kecant...
KEK Pariwisata Morotai dan Rempah-Rempah Maluku
Kebijakan menetapkan Pulau Morotai sebagai KEK Pariwisata diharapkan membuat kepulauan ini kembali masyhur, laiknya rempah-rempah, pala, dan cengkih yang telah membuat berbagai bangsa di dunia berdata...