Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


TARIAN SENI

Keunikan Ngalam dan Pertunjukan Tari Jaran Kepang

Friday, 5 April 2019

Bicara soal tari di Malang, selain Tari Topeng yang sudah terkenal di kancah nasional dan internasional. Ada pula tari yang sudah sangat familiar di antara masyarakat Malang sendiri, yaitu Tari Jaran Kepang. 


Keunikan Ngalam dan Pertunjukan Tari Jaran Kepang Tarian Jaran Kepang. Sumber foto: Pesona Indonesia

Malang tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata alam dan kulinernya yang bermacam-macam. Selain Bahasa Walikan yang unik, daerah yang dikelilingi oleh beberapa gunung ini mempunyai keragaman seni dan budaya yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Diantara lain adalah kesenian tari.

Jaran Kepang berasal dari dua kata yang berbeda, yaitu Jaran dan Kepang. Keduanya berasal dari Bahasa Jawa. Jaran berarti kuda, sedangkan Kepang berarti anyam atau bambu yang dianyam. Jaran Kepang merupakan sebuah pertunjukan yang dilakukan oleh sekelompok laki-laki yang menunggang kuda pipih terbuat dari bambu dan telah diwarnai dengan cat. Pertunjukan ini biasanya dimainkan dengan iringan music gamelan.

Asal usul Jaran Kepang

Asal usul kesenian Jaran Kepang memang tidak tercatat dengan pasti di dalam sejarah. Namun kesenian ini memang berkembang dan banyak ditemukan di daerah Jawa. Di antara lain, Tulungagung, Kediri, Nganjuk dan sekitarnya. Wilayah-wilayah tersebut memang memiliki totem berupa hewan kuda.

Zaman dahulu, sebelum terpisahnya kegiatan manusia di hutan dan di desa. Jaran Kepang merupakan sebuah bentuk persembahan dalam kinerja animisme atau kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda. Manusia kala itu menggunakan jaran kepang untuk menyalurkan roh hewan yang sudah diburu.

Dengan adanya kemajuan peradaban, masyarakat Jawa menjadi lebih agraris. Sehingga adanya garis pemisah antara desa dan hutan. Hal tersebut memunculkan konstruksi keyakinan bahwa Jaran Kepang menjadi penyalur roh terhadap leluhur (arwah) sebagai wujud memohon perlindungan dan mengirim doa.

Bagi masyarakat agraris sebagai awal lahirnya Jaran Kepang memang dalam menjaga ketahanan dan kestabilan desa dalam hubungan manusia dan makhluk lainnya sering melakukan ritual. Masyarakat Jawa utamanya menganut ritual dalam wujud selamatan yang sering dilakukan dalam fase-fase penting pada kehidupan manusia. Sepertu kelahiran, tumbuh kembang seseorang bahkan kematian.

Salah satu selamatan yang cukup penting dalam kehidupan bermasyarakat adalah bersih desa sebagai perwujudan memohon doa dan keselamatan desa dari marabahaya. Selain itu bersih desa ditujukan kepada roh-roh penunggu desa. Dalam bersih desa seringkali menyuguhkan pertunjukan Jaran kepang.

Pada pertujukan Jaran Kepang, sebelum gebrak (pertunjukan) harus meminta ijin pada pepunden yang ada di lingkungan tersebut. Meminta ijin dalam istilah ini memberikan sesaji dan beberapa barang sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk memanggil roh leluhur yang ada di daerah tersebut untuk meminta ijin. Sehingga hal tersebut juga membuat pemain jaran kepang menjadi lebih mudah kerasukan atau kesurupan.

Jaran Kepang, Malang dan Manifestasi Ketuhanan

Salah satu daerah di Malang yang dianggap mempunyai banyak kelompok Jaran Kepang adalah Tumpang. Letak berada sekitar 20 km dari pusat Malang. Mereka seringkali mengadakan pertunjukan pada malam Jumat Legi yang dianggap malam dengan energi magis dari spiritualitas. Diawali dengan memberikan sesaji di daerah pepunden. Kemudian pada malam hari dimulai dengan suara gending-gending jawa. Gending jawa yang dimainkan dalam jaran kepang merupakan simbol dari puji-pujian terhadap Tuhan. Sementara pawang sedang membacakan mantra-mantra di belakang panggung.

Baik penari, pawang, dan peralatan Jaran Kepang memang didominasi oleh 3 warna yang khas, yaitu putih, merah dan hitam. Ketiganya menggambarkan tiga fase penting kehidupan manusia. Putih melambangkan kesucian sebagaimana bayi yang baru terlahir. Merah melambangkan bahwa setiap manusia akan mengalami permasalahan dan dinamika kehidupan. Dan hitam melambangkan bahwa setiap manusia nantinya akan menghadapi kematian.

Kemudian para penari mulai masuk dalam arena pertunjukan. Diikuti pawang yang menebarkan kemenyan di setiap sudut arena. Sebagai ucapan salam kepada seluruh hal-hal gaib yang ada di daerah tersebut. Selain itu juga sebagai pamujo kepada Yang Maha Kuasa. Prosesi tersebut menjadi awal mula dibukanya segala bentuk ruang spiritualitas. (K-IK)

Budaya
Seni
Ragam Terpopuler
3 Pesona Kekayaan Alam Pulau Bangka yang Tiada Duanya
Kekayaan alam di Pulau Bangka yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera ternyata menyimpan berjuta keindahan. Kombinasi pantai dan pegunungan dari pulau penghasil timah ini selalu sukses membuat p...
Negeri Asal Budaya Minangkabau Jadi Desa Terindah di Dunia
Keindahan Desa Nagari Tuo di Indonesia berhasil menyabet gelar desa terindah di dunia versi Majalah Budget Travel dengan kategori World’s Most Picturesque Villages pada tanggal 23 Februari 2012....
Brekecek Pathak Jahan, Sajian Khas dari Cilacap
Sensasi menyedot dan menyeruput bagian pathak ikan jahan itulah yang menjadi seni menyantap kuliner brekecek pathak jahan ini. ...
Daya Pikat Hotspring Tanah Karo
Kolam air panas, bentang alam, udara dingin, suasana perladangan yang kaya tanaman dan dinding gunung menjadi satu potensi alam yang memiliki nilai jual. ...
Bhumi Merapi: Konsep Wisata Berwawasan Lingkungan
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Terbentang pemandangan dan keanekaragaman hayati dari ujung Sabang sampai Merauke. Tentunya melalui kekayaan alamnya ini diharapkan dapat dinikmati se...
Eksotisnya Desa Sentani di Jayapura dengan Berjuta Keunikannya
Ternyata destinasi wisata di Jayapura bukan hanya Raja Ampat. Masih banyak wilayah lokasi wisata lainnya yang tak kalah eksotis, salah satunya Desa Sentani. ...
Ketika Ciliwung Punya Pahlawan Baru
Sebuah harapan besar pun tercanang bahwa akan semakin banyak masyarakat yang hidup di sekitar sungai Ciliwung yang semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan di mana mereka tinggal. ...
Sangiran dan Manusia Jawa
Terinspirasi oleh hipotesa Alfred Russel Wallace, Dubois meyakini asal usul manusia modern terletak di Asia Tenggara, dan mengukuhkan hipotesa itu melalui fosil temuannya di Trinil. ...
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...