Bahasa | English


PERFILMAN NASIONAL

Tren Positif Film Indonesia

19 March 2019, 11:49 WIB

Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018.


Tren Positif Film Indonesia Rilis trailer film Dilan 1991. Sumber foto: Fimela

Selama tiga tahun terakhir, jumlah penonton film Indonesia terus meningkat. Data jumlah penonton film Indonesia pada 2015 mencapai 16,2 juta. Angka ini meningkat lebih dari seratus persen dari 2016, penonton film Indonesia mencapai 34,5 juta penonton.  

Tahun 2017 penonton film nasional meningkat lagi menjadi 40,5 juta. Dan 2018 lebih dari 50 juta penonton. Bahkan sepanjang 2018,  jumlah film bioskop yang berhasil diproduksi hampir menyentuh 200 judul, sedangkan tahun sebelumnya jumlah produksinya hanya 143 judul.

Peningkatan jumlah penonton tesebut sebenarnya bisa lebih tinggi lagi jika bioskop mampu menembus semua ibu kota kabupaten di Indonesia. Menurut  Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia Djonny Syafruddin , penyebaran layar bioskop masih tidak merata, sehingga  mempersempit akses masyarakat untuk menonton film nasional. “Keterlibatan negara dibutuhkan untuk membenahi ekosistem perfilman nasional’” katanya.

Menurut Djony, pemerintah bisa memperluas pasar atau layar di Indonesia dengan memberikan akses kredit kepada investor lokal. Atau memberikan kemudahan dana dengan bunga yang murah, untuk membangun bioskop. Satu layar bioskop bisa berbiaya lebih dari Rp2,5 milar.

Jumlah layar bioskop yang ada sekarang ini jumlahnya 1.500 layar di seluruh Indonesia. Idealnya harus ditambah sekitar 500 layar. Itu pun baru terserap 10 persen dari total yang jumlah kebutuhan ideal. Sebab masih terdapat beberapa provinsi yang belum ada layar bioskop. Yakni Aceh, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Papua Barat, bahkan Sulawesi Barat.

Hal senada juga dikatakan Sutradara asal Indonesia yang tengah menetap di Amerika, Livi Zheng. Ia mengatakan, kenapa film-film Amerika bisa sukses di dalam ataupun di negeri orang? Amerika memiliki jumlah penduduk 320 juta jiwa dan memiliki jumlah layar sekitar 40.759. Sedangkan Korea, jumlah penduduk hanya 51,3 juta jiwa dengan jumlah layar yang lebih besar dari Indonesia, yaitu sekitar 1.880.

Menurut Sutradara Eugene Panji, secara tertulis Indonesia sudah mampu menjadi rumah bagi film-film lokal. Tetapi, secara medium tayangnya belum. Karena Indonesia belum memiliki ruang yang sama dengan film-film Hollywood. Maka diperlukannya regulasi yang tepat dari pemerintah, dalam pembagian ruang tayang film lokal dan internasional.

Menurutnya Film Hollywood, dalam perspektif ruang tayang masih mendominasi. “Seharusnya ada aturan main dengan lembaga negara dan pelaku industri. Seperti, berapa persentase pembagian dari bioskop untuk menayangkan film Indonesia dan luar negeri?,” jelasnya.

Pasar Film Besar

Konvensi film tahunan terbesar di Asia, CineAsia, menilai bahwa Indonesia merupakan pasar film paling potensial di kawasan Asia Pasifik.  Pada 2017, data yang ada mencatat bahwa Asia Pasifik memberikan sumbangan box office sebanyak 16 miliar dolar AS atau meningkat 44 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Indonesia menjadi negara Asia Pasifik yang memiliki perkembangan yang paling signifikan sehingga membuat CineAsia 2018 menyebut Indonesia sebagai The Rise of the Sleeping Giant.

Dalam konvensi yang berlangsung di Hong Kong Convention & Exhibition Centre pada 10-13

Desember 2018 itu, salah satu produser kenamaan Indonesia, Sheila Timothy, menjadi pembicara di sana.

“Industri film Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dengan 28 persen peningkatan box office per tahun dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Pada 2017 lalu, Indonesia menduduki posisi 16 pasar film terbesar di dunia," kata Sheila dalam keterangan tertulis Lifelike Picture.

Sheila menjadikan kesuksesan Wiro Sableng dalam menggaet 20th Century Fox dan menjadi co-produksi film pertama Studio Hollywood tersebut di Asia Tenggara sebagai salah satu bukti potensi dari pasar film Indonesia.

Selain itu, ada pula Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang berjaya di festival film dunia dan diganjar sejumlah penghargaan internasional.

"Dalam skala industri perfilman, Indonesia memang masih memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus dibenahi," ucap Sheila.

Stimulus Permodalan

Sementara itu, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) didukung oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI) memperkuat subsektor perfilman ini dengan menciptakan akses permodalan dan mendorong film entrepreneurship, Mereka menggelar Akatara Indonesian Film Financing Forum.

Pada pelaksanaannya di tahun kedua ini, AKATARA 2018 mengalami peningkatan luar biasa. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya menerima proposal produksi film, AKATARA juga menerima proposal nonproduksi untuk mendorong kewirausahaan perfilman lebih berkembang.

Terhitung sekitar 343 proposal perfilman yang masuk ke panitia. Jumlah ini artinya mengalami kenaikan sekitar 300% dari tahun sebelumnya, yang hanya 90-an proposal. Proposal yang masuk tahun ini terdiri dari sekitar 281 proposal produksi film dan 62 proposal nonproduksi. 

Dari 343 proposal  tersebut kemudian dikurasi dan diseleksi menjadi 53 karya (48 produksi film dan 8 proposal nonproduksi film) ditambah 4 project untuk Torino Lab, sehingga total menjadi 57 proposal. Sementara itu yang memperoleh kesempatan presentasi di hadapan investor nasional dan internasional di panggung utama sejumlah 15 proyek film.

Selain jumlah karya yang bertambah, AKATARA 2018 juga semakin diminati oleh investor nasional dan mancanegara. Para investor yang hadir berasal dari bidang media & entertainment, angel investors, Brand Managers/Directors, Filantrofi, Local Buyer, Pemerintah Pusat & Pemerintah Daerah yang tertarik mengembangkan perfilman dan sebagainya. Beberapa nama besar dari investor internasional antara lain Torino Film Lab, Ideosource, Iflix, SAAVA International co-production, Asian Animation Summit dan VIDDSEE.

“Bekraf sangat mendorong penciptaan iklim investasi perfilman yang positif. Kami yakin industri film dapat memberikan multiplier effect kepada sub sektor perekonomian lainnya di tanah air,” ungkap Kepala Bekraf, Triawan Munaf. 

Inisiasi di bidang permodalan sendiri sangat dimungkinkan setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 44 tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 12 Mei 2016.

“Film merupakan salah satu subsektor ekonomi yang paling progresif perkembangannya sejak dicabut dalam Daftar Negatif Investasi,” tambahTriawan.

BEKRAF sendiri telah melakukan upaya pengumpulan modal untuk berinvestasi di subsektor film seperti reksadana penyertaan terbatas serta bekerjasama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Bekerja sama dengan BKPM, BEKRAF mempromosikan berbagai peluang investasi industri perfilman mengusung enam aspek yaitu: Investment, LocationFilm Project, Intellectual Property (IP), Film, dan Festival.  (E-2)

Seni
Sosial
Ragam Terpopuler
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...