BUDAYA
  Pertunjukan I La Galigo yang mengisahkan mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah. DJARUM Foundation

Lontara, Aksara Mendunia dari Bugis

  •   Minggu, 7 Maret 2021 | 12:20 WIB
  •   Oleh : Administrator

Aksara Lontara aktif digunakan sebagai tulisan sehari-hari maupun sastra Sulsel sejak abad 14 hingga awal abad 20, sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf latin.

Indonesia memiliki budaya dan adat istiadat yang sangat kaya dan beragam. Dalam catatan Badan Pusat Statistik dari hasil Sensus Penduduk 2010 saja disebutkan terdapat 1.340 kelompok suku di Indonesia. Salah satunya adalah masyarakat suku Bugis yang mendiami sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka umumnya menempati daerah-daerah di Kabupaten Luwu, Wajo, Soppeng, Bone, Sidenreng Rappang, Pinrang, dan Barru.

Bugis berasal dari kata to ugi yang berarti orang Bugis. Penamaan ugi merujuk pada raja pertama kerajaan Tiongkok di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai to ugi atau para pengikut dari La Sattumpugi.

La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. La Sattumpugi dan Batara Lattu pun sepakat menjodohkan anak-anak mereka. Dari pasangan Sawerigading-We Cudai lahir beberapa keturunan, salah satunya adalah La Galigo.

Ia kemudian dikenal sebagai sastrawan Bugis dengan karya sastra fenomenal I La Galigo, sebuah epos mengenai mitologi Bugis yang ditulis di atas daun lontar dalam aksara Lontara pada abad 15. Jika dituliskan kembali dalam bentuk buku, maka kira-kira akan menghasilkan 9.000 halaman folio dan menjadi epos terbesar di dunia bersama kisah Mahabharata dan Ramayana dari India. Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, UNESCO telah memasukkan I La Galigo sebagai Memory of The World pada 2012.  

Aksara Lontara atau dikenal juga sebagai Lontaraq yang mewarnai karya I La Galigo merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan suku Bugis. Lontara sendiri berasal dari kata ‘lontar’ yang merupakan spesies flora endemik di Sulsel dan menjadi aksara tradisional masyarakat Bugis dan Makassar.

Pada I La Galigo, naskah ditulis dengan aksara Lontara pada wadah berbentuk unik. Yaitu selembar daun lontar yang panjang dan tipis digulungkan pada dua buah poros kayu sebagaimana halnya pita rekaman pada kaset. Teks kemudian dibaca dengan menggulung lembar tipis tersebut dari kiri ke kanan. Wadah dari naskah ini tersimpan rapi sebagai koleksi Tropenmuseum, sebuah museum antropologi yang terletak di Amsterdam, Belanda.

Aksara Lontara awalnya diciptakan oleh Daeng Pamette, seorang syahbandar atau sabannara sekaligus tumailalang atau menteri urusan dalam dan luar negeri pada Karaeng Tumapakrisi Kallonna, Raja Gowa Kesembilan yang memerintah pada abad 14. Karaeng Tumapakrisi sendiri yang meminta Daeng Pamette untuk menciptakan aksara bagi Kerajaan Gowa dan berkembang hingga ke luar wilayah kerajaan. Aksara ini digunakan untuk menuliskan pesan atau dokumen penting lainnya di atas daun lontar, jauh sebelum kertas ditemukan.

 

Kiri ke Kanan

Aksara Lontara adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari 23 aksara dasar. Arah penulisan aksara Lontara adalah dari kiri ke kanan. Secara tradisional aksara ini ditulis tanpa spasi antarkata (scriptio continua) dengan tanda baca yang minimal.

Aksara Lontara tak memiliki tanda baca virama (pemati vokal) sehingga aksara konsonan mati tidak dituliskan. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan bagi orang yang tak terbiasa dan tidak mengerti akan kata yang dituliskan. Misalnya kata “Mandar” hanya ditulis mdr, dan tulisan sr dapat dibaca sebagai “sarang”, sara’, atau “sara” tergantung pada konteks kalimat.

Ditilik dari segi bentuknya, aksara Lontara sangat berbeda dengan aksara lainnya. Pada aksara Lontara tidak dijumpai garis melengkung atau bengkok. Hanya ada garis lurus ke atas dan ke bawah. Pada pertemuan garis lurus ke atas dan garis lurus ke bawah terdapat patahan. Maknanya, sebagai perwujudan dari karakter suku Bugis yang mencintai kejujuran, kemudian disimbolkan dengan garis lurus, dengan suatu semboyan lebih baik patah daripada harus bengkok.

Kemudian dari segi teknis penulisannya aksara Lontara menggunakan garis tebal tipis dan bukan tipis tebal. Garis lurus ke atas harus tebal dan garis lurus ke bawah harus tipis atau halus. Ini menyiratkan tekad yang besar untuk maju dan berkembang. Sedangkan garis lurus halus ke bawah sebagai simbol kehalusan budi pekerti.

Aksara Lontara aktif digunakan sebagai tulisan sehari-hari maupun sastra Sulsel setidaknya sejak abad 14 hingga awal abad 20 sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf Latin. Aksara ini masih diajarkan di Sulsel sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, meski dalam praktiknya di kehidupan sehari-hari masih sedikit yang menerapkannya.

Selain terdapat pada sejumlah naskah kuno, aksara Lontara juga disematkan sebagai bagian dari aksara daerah untuk melengkapi papan penunjuk jalan, nama gedung dan hal lainnya di Sulsel. Tak hanya itu saja, pada salah satu tembok bangunan Pusat Studi Asia Tenggara dan Karibia di Leiden, Belanda, tertulis sebait puisi beraksara Lontara berukuran besar.

Upaya pelestarian aksara Lontara juga telah dilakukan oleh Yayasan Aksara Lontaraq Nusantara sejak ea 1990-an dengan mendaftarkannya sebagai salah satu aksara dunia di Unicode. Ini merupakan aksara nusantara pertama yang terdaftar di badan internasional yang merancang standar teknis penulisan aksara untuk dapat ditampilkan pada perangkat komputer.

Guru Besar Ilmu Bahasa Universitas Hasanuddin Makassar sekaligus filolog aksara Lontara Nurhayati Rahman berharap, aksara asli Bugis ini ke depannya bisa terus lestari. Salah satunya adalah dengan melakukan digitalisasi dan pemanfaatannya sebagai bagian dari aksara resmi di perangkat elektronik seperti laptop, komputer, atau telepon seluler dengan tampilan huruf sesuai aslinya.  

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari